Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Harusnya


__ADS_3

Plaakkkk....


Tamparan keras mendarat tepat dikedua pipi Langit. Pak Dayat begitu murka. Rasa marah dan kecewa bercampur aduk. Baginya, Langit sangat keterlaluan.


"Pa... apa salah, Langit?" tanya Langit terkejut. Tanpa ada angin tanpa ada hujan dan dia pun baru datang. Tiba-tiba saja sang ayah langsung menyerangnya dengan tamparan keras.


"Salah apa kamu bilang? Lihat... lihat ini Langit!" Pak Dayat menyerahkan video yang berisi rekaman adegan mesum yang di dalamnya adalah dirinya.


Mata Langit membulat sempurna. Kaget, terkejut. Berarti apa yang ia pikirkan benar. Bahwa ada seseorang yang sengaja menjebaknya. Tapi siapa?


"Maafkan, Langit, Pa. Langit sama sekali nggak tahu kalo mereka ternyata berniat jahat pada Langit," ucap Langit seraya bersimpuh di depan ke dua orang tuanya.


"Apa maksudmu? Mereka? Mereka siapa?" tanya Pak Dayat, masih mau menurunkan sedikit egonya.


"Kemarin ada tiga orang yang mau makek restoran kita untuk acara lamaran. Kita ketemuan di salah satu restoran di daerah Pantai Indah Kapuk sana. Karena waktu itu Langit juga lagi ada urusan di sana. Sungguh, Pa. Langit nggak bohong." ucap Langit sungguh-sungguh.


"Kamu pikir kami buta. Kamu pikir kami nggak tahu kalo kamu memang keterlaluan, Langit. Astaga! Kurang apa Riana sampai kamu tega menghianatinya?" tanya Dayat, masih dengan napas yang memburu. Rasa kesal telah membukus perasannya.


"Langit tidak menghianati Ria, Pa. Demi Tuhan, Langit di jebak, Pa. Lihat... Langit nggak segila ini kalo main," ucap Langit serius, sampai bingung bagaimana caranya ia memilih kata untuk menjelaskan masalah memaluka ini.


"Entahlah!" Pak Dayat sendiri juga tak tahu harus bagaimana. Ini sudah terjadi Riana sudah pergi. Mantunya itu ternyata tidak dewasa. Bukanya menunggu suaminya, dia malah main pergi saja.

__ADS_1


Suasana hening sejenak. Pak Dayat Diam. Ibu Nana pun diam. Langit pun ia. Rasanya sakit sekali kepalanya memikirkan ini.


Bagaimana kalo Video itu tersebar luas. Mau ditaruh di mana mukanya.


Bukan hanya itu? Bagaimana kalo ada yang melaporkannya ke polisi? Ah, berurusan dengan pihak itu lagi.


Sungguh Langit sangat malas dengan itu. Rasanya sangat muak jika berurusan dengan mereka.


Lalu, belum lagi istrinya. Bagaimana dia harus mengahadapi Riana? Bagaimana kalau Riana marah? Bagaimana kalau istrinya itu tidak mau menerima ini?


Sedetik kemudian, Langit teringat sang istri.


"Riana mana, Ma? Ria mana, Pa?" tanya Langit, spontan ia pun beranjak dari tempat duduknya dan berlari mencari istrinya tercinta itu.


Riana tidak ada. Kamarnya kosong. Lemarinya kosong.


Lalu ia pun kembali berlari kembali mendekati kedua orang tuanya. "Pa, di mana Ria? Langit harus menjelaskan ini. Langit yakin Ria pasti percaya sama Langit, kalo Langit dijebak, Pa," ucap Langit, sembari menggoyang-goyangkan lengan sang ayah.


"Istrimu... istrimu... istrimu sudah pergi, Langit. Dia nggak bisa terima ini," jawab Ibu Nana, sembari mengelus punggung sang putra.


Jederrr....

__ADS_1


Lemas, Langit lemas seketika. Tidak menyangka bahwa Riana akan pergi meninggalkannya. Tidak mengira bahwa Riana tidak mau menunggu penjelasan darinya.


Langit beringsut menjauh dari kedua orang tuanya. Duduk tertegun di sofa, shock. Matanya memandang lepas. Belum lama mereka bahagia, lalu sekarang, hanya karena kesalahpahaman, Langit harus menelan pil pahit ini.


Sungguh... Langit tidak menyangka, bahwa Riana memiliki pola pikir sependek ini.


***


Di sisi lain, Riana menangis di dalam pesawat yang akan membawanya ke Surabaya. Karena di sana ada adik yang mungkin mau menampungnya.


Beberapa kali ia mengumpat kesal. Baginya Langit sangat keterlaluan.


Menghianatinya dan melakukan sesuatu yang sangat memalukan. Riana tidak menyangka. Riana benci. Sangat benci ini.


Cemburu, ya Riana tidak menampik bahwa dia saat ini cemburu. Ia marah. Riana kesal sehingga memutuskan untuk meninggalkan pria itu.


Namun, ketika pesawat tersebut lepas landas, Riana menyesal. Mengapa ia harus ke Surabaya. Bukankag akan dengan mudah suaminya itu menemukannya.


"Astaga! kenapa aku bodoh sekali," ucap Riana sembari memukul pelan kapalnya.


Lalu, ia diam, berpikir sejenak.

__ADS_1


Memikirkan di mana baiknya ia bersembunyi. Agar Langit tidak mudah menemukannya. Setidaknya sampai hatinya benar-benar tenang.


Bersambung...


__ADS_2