Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Diam-diam Mencari Bukti


__ADS_3

Dilan masuk ke dalam ruangan di mana Langit di rawat. Tanpa basa-basi dia pun langsung mengeluarkan beberapa berkas yang terkait dengan baby Shanshan, berikut beberapa usaha yang ditinggalkan ibunya untuk bayi itu.


Namun, Riana sendiri tidak mau terlalu larut dengan seluruh usaha-usaha itu. Riana lebih memilih memantau serta ikut andil dalam mengambil keputusan jika di butuhkan.


Dari keputusan tersebut, Dilan akhinya mau tak mau harus mencari seseorang yang mengerti bisnis untuk mendampingi Riana, sebab wanita ini memang mentah dalam hal bisnis.


"Saya sendiri masih sangsi, Pak. Apakah saya bisa mengembangkan bisnis yang mulai merangkak ini. Sebab jujur saya tidak begitu mengerti dengan dunia fashion. Tapi saya berjanji untuk mempelajarinya!" jawab Langit ketika Dilan selesai menjelaskan duduk kerumitan yang sedang mereka alami ini.


"Kami tahu, Pak Langit. Ini memang sedikit merepotan dan beban untuk istri, Bapak. Saya tahu, Ibu Ria memang cerdas, cuma cenderung mudah di pengaruhi. Menurut saya, kelemahan Ibu Ria hanya satu, setiap orang di anggap baik. Itu sebabnya dia gampang luluh." Dilan tersenyum, begitu pun Langit. Karena pada kenyataannya Riana memang seperti itu.


"Saya akan coba bantu, Pak. Tapi saya belum bisa ikut ke negara itu. Di samping alasan kesehatan, saya juga masih memiliki tanggung jawab atas kasus yang sedang saya hadapi," ucap Langit jujur.


"Kasus? kasus apa itu, Pak?" tanya Dilan.


Langit pun menjelaskan seluruh kasus yang menjeratnya. Termasuk permasalahannya dengan keluarga yang menghancurkan bisnis keluarganya.


"Kalo Bapak nggak keberatan, mari saya bantu. Bapak bantu saya urus bisnis Shanshan, nanti saya bantu Bapak urus kasus yang ada!" tawar Dilan.


"Mohon, maaf sebelumnya, Pak. Saya sudah bilang akan coba bantu, tidak serta merta saya bisa langsung mengiyakan apa yang Bapak tawarkan, sebab saya pun harus mempelajari dulu pasar yang dibutuhkan oleh bisnis tersebut. Kalo istri saya, mungkin beliau sedikit banyak sudah tahu. Tapi jujur, saya sendiri sangsi dengan beliau. Tidak perlu saya jelaskan alasannya, saya rasa Bapak sudah tahu kelemahan istri saya. Dan sifat seperti itu tidak bisa di gunakan dalam bisnis. Saya rasa Bapak paham," jawab Langit tegas.

__ADS_1


"Bapak benar, Ibu Ria terlalu jujur dan gampang percaya dengan orang. Itu sebabnya saya, kami timnya Ibu Raras juga masih nengawasi beliau. Bukan mengawasi dalam arti ketidakjujurannya, tetapi kami belum percaya bahwa dia bisa menghadapi lawan-lawan bisnisnya sendiri," jawab Dilan.


Kemudian mereka pun saling melemparkan senyum.


Beberapa detik berlalu, Dilan pun menyerahkan beberapa berkas yang memang ia percayakan untuk Langit pelajari. Dilan berharap, bisa memanfaatkan pembisnis muda ini untuk meringankan pekerjaannya. Sebab ia yakin, pria yang ada di depannya ini sanggup mengembangkan bisnis yang Raras tinggalkan untuk putrinya.


Kenapa Dilan begitu percaya pada Langit? Karena sebelumnya, dia sudah mencari tahu data diri dan juga pekerjaan serta apa yang pernah di kerjakan oleh seorang Langit sebelum ini.


Di sisi lain, Langit begitu teliti membaca baris demi baris yang tertera di atas kertas tersebut. Diam, anteng, hikmat dan teliti. Seperti itu lah sifat yang di tangkap oleh seorang Dilan ketika melihat pria yang di akui Riana sebagai suaminya ini.


"Kalo boleh tahu, siapa yang bermasalah dengan anda, Pak?" tanya Dilan penasaran.


"Benarkah? tapi Ibu Ria tidak ada cerita tu!" jawab Dilan, karena Riana memang belum cerita soal kemiripan pria yang bermasalah dengan mereka.


Tak ingin ada kesimpangsiuran yang nantinya akan menghambat proses penyelesaian masalah yang menghadang mereka, Langit pun menceritakan detail masalah yang ia alami.


"Tapi kalau untuk mengembalikan aset, itu tidak mungkin, Pak. Karena ini sah di mata hukum. Keluarga anda memang bangkrut secara alami. Entah itu bagaimana prosesnya, ini bukan merupakan tipuan!" jawab Dilan, setelah mempelajari kasus yang menimpa keluarga Langit.


"Ya, Bapak benar. Ini memang di setting se alami mungkin oleh mantan istri saya dan juga selingkuhan nya. Dan kami, ibu maupun bapak saya juga sudah mengikhlaskan semuanya. Sudah memaafkan mantan istri saya. Cuma, saya hanya ingin membersihkan nama saya dan membantu mengungkap kelicikan pria dan keluarganya terhadap klien-klien mereka. Itu saja tujuan saya!" jawab Langit serius.

__ADS_1


"Soal itu, kita tunggu surat-surat aslinya datang, Insya Allah kami bia bantu. Masalah pria yang bapak kasih ke saya itu, sepertinya saya kenal. Tapi tidak ada kaitannya dengan masalah Bapak. Mereka memang mirip, tapi setahu saya ayah kandung Shanshan tidak berdomisili di sini. Tapi di Australia." Dilan diam sesaat lalu ia kembali mengutarakan kecurigaannya pada Langit.


"Atau, mereka memang saudara... " tambah Dilan.


"Bisa jadi... " Langit menatap Dilan.


"Sebaiknya kita memang harus mencari tahu kebenaran dua orang ini!" jawab Dilan.


***


Sayangnya, apa yang direncanakan oleh Langit dan Dilan telah direalisasikan oleh Riana sendiri.


Dia memang sengaja tidak bergabung dengan Langit dan Dilan di ruangan sang suami di rawat. Tetapi ia memilih mencari tempat sepi untuk menuntaskan rasa penasaran yang tiba-tiba saja menyerangnya.


Kini, Riana telah menemukan tempat itu. Sebuah restoran yang mempunyai ruang VVIP, Riana sengaja memesan tempat itu agar lebih leluasa menuntaskan rasa penasarannya.


Berbekal informasi yang pernah ia Terima dari Raras, dan juga informasi yang ia dapat dari Langit, maka itu adalah hal terkeren yang saat ini sedang Riana coba selidiki.


Hatinya memang berkecambuk perih, tapi Riana sadar dan yakin bahwa dia bisa mempertahankan Shanshan, jika suatu hari nanti dia akan digugat oleh keluarga tersebut tentang pemalsuan data. Riana harus mencari bukti yang kuat untuk melawan mereka. Itu sebabnya, Riana tak ingin tujuannya ini ada yang mencampuri. Kali ini, Riana tidak bisa percaya pada siapapun selain dirinya sendiri dan mungkin data yang akan dia dapatkan dari laptopnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2