
Minah mengumpat kesal karena barang yang ia cari tidak ada di tempat. Semua sudah bersih tanpa satupun tisu yang tercecer. Minah kecewa, sangat-sangat kecewa. Ingin rasanya ia memaki dan mengumpat kesal pada wanita jelmaan rubah itu.
"Ke mana wanita ular itu menyembunyikan barang sialan itu?" gerutu Minah dalam hati.
Minah tak putus asa. Ia tetap mencari dan terus mencari. Sampai ia menemukan lemari yang selama ini tak ada seorangpun yang boleh membuka lemari tersebut. Minah yakin jika barang yang ia cari pasti ada di dalam lemari tersebut.
"Di mana dia menyembunyikan kuncinya?" tanya Minah pada dirinya sendiri. Terus mencari dan terus mencari. Sampai semua bantal-bantal milik Yuta ia bongkar semua. Namun tidak ada.
Minah terlalu asik dan fokus pada batang yang ia cari. Sampai tidak menyadari Yuta sudah ada di belakangnya.
"Kamu nyari apa, Minah?" tanya Yuta ketus.
Spontan mata Minah pun terpejam, mati kutu, sudah pasti. Namun, Minah tetap berusaha tenang.
"Nggak ada, Non. Kan hari ini waktunya ganti sprei," jawab Minah santai.
"Oh, kirain. Tapi besok aja deh Minah. Aku lelah. Pengen tidur! Kamu keluar aja!" pinta Yuta.
Minah pun menuruti perintah wanita itu. Berharap dia tidak bisa membaca apa yang Minah pikirkan.
"Baiklah, Non. Saya permisi kalo begitu!" jawab Minah sopan.
"Heemm!" Yuta melajukan kursi rodanya mendekati ranjang. Sedangkan Minah sendiri langsung keluar dari kamar itu. Sesuai apa yang wanita itu perintahkan.
Minah masih berusaha bersikap biasa saja. Sebab ia tahu, ada beberapa CCTV yang membaca gerak-geriknya. Minah tak ingin menimbulkan rasa curiga dalam diri Yuta kepadanya. Sebelum ia bisa mengumpulkan banyak bukti untuk menjerat dan melempar wanita jahat itu dari rumah ini.
***
__ADS_1
Kenyataan ini sungguh terasa pahit untuk seorang Langit. Di meja makan tadi, dia dan Yuta membicarakan masalah yang bisa sangat penting. Yuta meminta sesuatu yang tanpa ia sadari, sesuatu itu kini menjadi sangat penting baginya. Sesuatu yang sangat berharga baginya.
Yuta meminta padanya untuk segera menceraikan Riana. Dengan deraian air mata, wanita itu meminta pada Langit untuk segera melepaskan wanita itu. Yuta bilang, sangat muak dengan kehidupan seperti ini. Yuta bilang, sampai mati dia tak mau berbagi. Apa lagi dengan wanita bernama Riana itu. Yang menurutnya tidak pantas mengantikan posisinya.
Jujur, Langit terguncang oleh permintaan itu. Tetapi, ia juga tidak bisa menyalahkan Yuta seutuhnya atas permintaan ini. Mau bagaimanapun Yuta tetap berhak meminta. Sebab dia adalah wanita pertama yang memilikinya.
Namun, Langit juga tidak bisa berbohong pada hatinya. Bahwa di sudut hatinya yang terdalam. Sudah ada nama Riana di sana. Langit tak bisa melupakan wanita itu, meskipun sudah berusaha.
Jika tidur, memang matanya terpejam. Tapi bayangan wanita itu menganggunya. Senyuman Riana mengusiknya. Dan itu, hanya dia yang boleh tahu. Sebab ia tak ingin menyakiti hati yang seharusnya ia jaga.
"Ya Tuhan! Aku bisa gila jika begini!" ucap Langit sembari memijat keningnya karena serasa amat penat.
Langit masih sibuk bergelut dengan permintaan Yuta dan rasa rindunya pada Riana. Lalu, keinginannya untuk meminta maaf kepada kedua orang tuanya.
Namun, hidup Langit tak bisa sebebas itu. Sebab Yuta berhasil mengendalikannya. Permintaan Yuta yang mengatas namakan hidupnya tidak lama lagi, tentu saja menghadirkan dilema yang luar biasa dalam jiwa pria ini.
Langit tersadar dari lamunanya ketika tanpa ia sadari kedua orang tuanya kini sudah ada di depan matanya.
"Papa, Mama!" ucap Langit seranya berdiri menatap mereka.
Nana dan Dayat menatap tajam ke arah putra yang menurutnya tidak tahu terima kasih ini.
"Kamu keterlaluan, Langit!" ucap Nanda geram.
"Maafkan Langit, Ma! Sungguh, Langit tak ingin berada di posisi ini. Sungguh, Ma!" ucap Langit seraya bersimpuh di hadapan ibunya. Berharap sang ibu paham akan dilema yang saat ini sedang ia hadapi.
"Mama menunggu itikad baikmu. Mama menunggu permohonan maaf darimu. Tapi apa Langit, kamu seperti pria yang tak punya dosa. Jangan terlalu cuek dengan keadaan, Langit. Dosamu sangat besar terhadap Riana, kamu keterlaluan, Langit!" ucap Nana tak ingin menahan apa yang ada di dalam hatinya lagi.
__ADS_1
"Langit tahu, Ma. Langit juga ingin datang pada Ria dan meminta maaf atas perlakuan kasar Langit. Tapi di juga keterlaluan, Ma. Dia membuat Langit marah!" jawab Langit berusaha membela diri.
Nana dan Dayat saling menatap bingung. Aneh! Baru kali ini Langit mengakui bahwa Riana membuatnya marah.
"Memangnya apa yang Ria lakukan sampai kamu bertindak segila itu. Apakah dia menyakiti Ara? Atau dia salah masak. Atau apa?" cecar Nana penasaran.
"Tidak, Ma. Kesalahan Riana lebih fatal di banding itu," jawab Langit, masih setia bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya.
"Coba bilang, apa memangnya kesalahan gadis itu sehingga kamu seanarkis itu?" tanya Dayat ikut penasaran.
"Dia bertemu dengan pria tanpa seizin Langit, Pa. Mereka berpelukan mesra. Langit.... Langit... Maafkan Langit, Pa!" jawab Langit terbata-bata. Seperti masih ada kemarahan yang tersembunyi di sana.
Jawaban Langit tentu saja menghadirkan asumsi kedua orang tua tersebut. Bahwa putra mereka cemburu. Dan jika cemburu itu hadir, berarti ada cinta di dalam hati sang putra untuk menantu kesayangan mereka.
"Apakah kamu menyukai Riana?" tanya Nana, suara ibu itu terdengar lembut. Menyentuh hati.
"Ya nggak lah, Ma. Mana mungkin Langit suka sama dia. Langit hanya merasa harga diri Langit terinjak saja. Langit hanya tak suka istri Langit bertemu pria lain tanpa izin. Itu saja!" jawab Langit berkilah.
Namun, feeling seorang ibu tidaklah salah. Nana sangat yakin, jika putra mereka sedang dipeluk oleh rasa cemburu. Putra mereka sedang dihinggapi cinta hingga merasa harga dirinya terluka, ketika seseorang yang dinilai miliknya, tetapi bisa berpaling darinya.
"Apakah kamu ingin Ria kembali?" pancing Nana memastikan.
"Jujur, iya, Ma. Tapi, Yuta telah meminta Langit melepaskan Ria. Langit tak ingin menyakiti hati Yuta lagi. Mama tahu kan, umurnya tak lama lagi!" jawab Langit, pria ini tertunduk sedih.
Nana, sebagai seorang ibu ia sangat tahu bagaimana perasaan sang putra saat ini. Ingin rasanya ia mengajak putra semata wayangnya ini untuk menemui Riana. Namun, gejolak yang terjadi dalam jiwa sang putra juga tak main-main. Jujur, Nana sangat sedih dengan ini. Sedangkan Dayat hanya diam. Sebab ia tahu pasti bahwa Langit telah jatuh cinta pada Riana. Namun, sang putra masih belum menyadari itu sepenuhnya.
Bersambung....
__ADS_1