
Riana duduk termenung di kamarnya sambil menatap hujan yang belum mereda. Rasa rindu pada suami tercintanya tidak bisa ia pungkiri. Riana memang kesal, kecewa pada Langit. Namun, ia cinta sangat cinta dan kini ia merana sendiri menahan rindu yang menampar hatinya.
Ingin rasanya ia mengaktifkan ponselnya dan menghubungi pria tersebut. Membicarakan masalah yang terjadi antara mereka. Membicarakan perihal hati yang merindu. Membicarakan mengapa harus ada masalah memalukan ini di antara mereka.
Namun, rasa gengsi yang menyusup ke dalam relung hatinya jauh lebih kuat. Jauh membahana. Riana malu, harga dirinya terlalu tinggi jika ia harus menghubungi pria itu dan meminta maaf terlebih dahulu.
Bukankah dia yang salah? Bukankah dia yang selingkuh? Lalu untuk apa aku harus menghubunginya dulu. Gengsi dong. Iya, kan? bunyi batin Riana kesal.
Lalu, tak dipungkiri bahwa nasehat Bi Minah juga sibuk menyusup menelusuri sisi gengsi yang ia miliki. Nasehat itu menyuruhnya untuk lebih mengalah sebagai perempuan. Harusnya dia tidak pergi dan menunggu sang suami menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi.
Namun, harga dirinya terlalu tinggi. Sehingga membuat wanita ini terlalu gengsi untuk mengakui, bahwasannya ia merindu.
***
Setali tiga uang dengan Langit
Pria ini juga terlihat meratapi hatinya. Ia merindu. Merindukan wanita cengeng itu.
Namun, di dalam kerinduan itu, ada satu penyesalan yang tidak bisa Langit maafkan. Kenapa Riana memilih pergi? Bukankah berdebat akan jauh lebih menyenangkan di banding tersiksa rindu seperti ini.
Langit merasa sangat bodoh jika mengingat ketidakseimbangan hubungan mereka.
__ADS_1
Andai boleh memilih, maka Langit akan memilih di maki oleh Riana, asalkan wanitanya itu tidak pergi ke mana-mana.
"Bang! ngelamun aja!" tegur Lando sedikit mengejutkan Langit.
"Eh, Lan... belum tidur?" tanya Langit.
"Belum, Bang. Lagi nunggu kabar dari temen Lando. Dia mau ke sini. Mau curhat katanya," jawab Lando jujur.
"Curhat? Cewek apa cowok?" tanyanya lagi.
"Cewek lah... sebenarnya dialah orang yang lagi Lando deketin, Bang. Tapi dia nggak mau. Mungkin karena usia dia di atasku atau alasan apa, entahlah. Pokoknya dia menolakku. Katanya hanya nyaman menjadi temanku." Lando tertunduk lesu.
"Kalo cinta perjuangin, Lan. Siapa tahu kalian memang jodoh," ucap Langit menyemangati.
"Sabar, Lan. Namanya mencintai itu memang harus berani sakit. Karena sejatinya mencintai hanyalah sakit. Harus kuat menahan rindu. Harus kuat menerima kenyataan bahwa si dia ternyata tidak respect sama kita. Atau bisa juga kita dipaksa untuk memahami sifat dia. Yang kadang-kadang arogan. Iya kan?" ucap Langit, sedih. Seakan yang ia ucapkan saat ini adalah apa yang sedang terjadi pada hatinya.
"Dalem bener, Bang. Lagi ngrasain ya?" canda Lando.
"Dua kali, Lan. Hapal sudah rasanya," jawab Langit.
Terang saja, jawaban Langit ini sukses membuat tawa seorang Lando meledak.
__ADS_1
Lalu tawa itu mereda ketika mendengar bel rumahnya berbunyi. Dengan cepat Lando pun berpamitan dengan Langit untuk membukakan pintu untuk sang tamu.
Tak ada alasan bagi Langit untuk mencegah apa yang hendak Lando lakukan.
Ia pun mengangguk pelan. Setelah itu Lando pun melangkah pergi meninggalkan abang iparnya.
Di kamar, Langit kembali termenung memikirkan cara, bagaimana mengetahui di mana Riana berada. Sedangkan ponselnya tidak aktif.
Seandainya aktif, Langit pasti akan dengan mudah menemukan wanita itu.
Gelak tawa antara adik ipar dan juga wanita yang disinyalir sebagai teman sekaligus gadis yang diidam-idamkan oleh sang adik ipar, membuat Langit penasaran.
Lalu, untuk meredakan rasa penasaran itu, Langit pun memutuskan untuk turun dan pura-pura mengambil minum.
Namun, di tengah perjalanan, Langit tertegun. Karena wanita yang ia lihat sangat mirip dengan foto seseorang yang pernah ia lihat di ponsel sang istri.
"Ah, tidak-tidak. Mungkin aku salah," gumam Langit.
Lalu ia pun terus melangkah menuju dapur. Siapa tahu Lando akan memperkenalkannya.
Namun, di dalam tujuan itu, Langit sangat penasaran. Mungkinkah wanita itu adalah wanita itu. Wanita yang mengaku meninggal demi menyerahkan bayinya pada sang istri. Ah entahlah, yang jelas Langit sangat-sangat penasaran.
__ADS_1
Bersambung..