
Malam ini Langit tak ingin sendiri. Setelah memutuskan untuk menyerahkan Yuta kepada pihak yang berwajib, ia un segera meluncur ke rumah kedua orang tuanya.
Langit kembali ingin meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Karena sekali lagi, ia telah membuat mereka tuanya malu.
Dalam perjalanan menuju ke rumah orang tuanya, Langit tersenyum kecut. Bagaimana tidak? Pada kenyataannya, ia sangat bodoh sampai Yuta berhasil memperdayainya.
Sampai dari pura-pura sakit keras. Hingga perselingkuhannya. Kenapa Langit begitu bodoh dan hanya percaya pada setiap kata yang diucapka wanita itu.
"Tunggu! Pantesan dia kalo kemo nggak pernah mau aku temenin. Katanya aku di suruh kerja saja! Mungkinkah?" tanya Langit pada dirinya sendiri.
Ya, kini pelan-pelan Langit mencoba mengingat tingkah janggal Yuta. Dari tidak mau ditemani menemui dokter. Dari setiap kali ia habis dikasih minum wanita itu langsung ngantuk. Dan masih banyak lagi kejadian aneh yang membuat Langit tak habis pikir.
"Brengsek! Berani sekali dia mengelabuhi ku. Lihat saja, kalo aku nggak bisa bikin kamu menangis menyesali perbuatanmu. Jangan panggil aku Langit, Yuta!" ancam Langit kesal.
Sedetik setelah ia mengeluarkan ancamannya, tiba-tiba saja, terbesit dalam benak Langit tentang keraguan tetang Ara. Dalam pikiran pria ini bertanya, Apakah Ara itu adalah putribya, atau putra pria brengsek itu.
__ADS_1
Kembali hati Langit meronta. Tentu saja penasaran dengan kenyataan yang ada.
"Jika sampai Ara bukan putriku, awas saja kamu, Yuta!" ancam Langit lagi. Sangking kesalnya, Langit sampai beberapa kali terlihat memukul Stir mobil. Mengekpresikan kekesalan yang kini membelenggunya.
Untuk membuktikan kecurigaan Langit berniat untuk melakukan tes DNA atas bayi itu. Mau bagaimanapun, Ia harus tetap membuktikan kebenarannya.
"Ya Tuhan, maafkan aku. Sungguh aku tidak tahu kenapa Yuta tega melakukan ini padaku. Apa kurangnya aku Tuhan?" tanya Langit pada pemilik hidupnya.
Tak ingin terlalu memusingkan apa yang akan terjadi, Langit pun kembali menginjak pedal gasnya. Menetapkan keinginan hatinya untuk meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Lalu, setelah ini ia tak mau terpedaya lagi. Ia ingin menceraikan Yuta, melepaskan wanita itu. Agar Yuta tak bisa memanfaatkan dirinya lagi.
***
Keesokan harinya...
Senyum merekah sempurna di bibir Raras dan juga Riana. Karena hari ini, mereka akan terbang ke Bangkok. Dan selanjutnya baru menuju Itali.
__ADS_1
Kabar gembira kini telah menghinggapi wanita bernama Raras Mandala Putri ini. Karena desainnya masuk nominasi desain terbaik di tahun ini.
Oleh karena itu, Raras diundang ke Bangkok untuk menerima hadiah tersebut.
"Selamat ya Non, saya ikut senang," ucap Riana sambil membatu Raras bersiap.
"Terima kasih Ria, do'ain aku menang di ajang berikutnya ya!" jawab Raras dengan senyum merekah sempurna.
"Pasti, Non. Kalo Non senang, berhasil dalam karir, saya kan ikut kecipratan, Non. Iya kan!" canda Riana dengan senyum cantiknya.
"Pasti Ria, kita kan teman. Makasih ya, kamu udah mau temenan sama aku. Aku sangat susah menemukan teman yang setulus kamu, Ria!" ucap Raras. Kembali wanita cantik ini menunjukkan kesedihannya.
"Sabar, Non. Tuhan tidak tidur, dia tahu mana yang terbaik untuk kitu," Riana dengan senyum setengah dipaksakan. Karena, jujur ia masih belum memahami betul masalah yang kini membelit sang majikan.
Raras hanya tersenyum mendengar nasehat Riana. Tetapi dia berjanji dalam hati, setelah bayinya lahir, ia ingin membuktikan pada dunia. Bahwa dia bisa hidup mandiri tanpa laki-laki.
__ADS_1
Bersambung...