Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Merasa Dijebak


__ADS_3

Di sini bukan hanya Riana yang menangis atas kepergian Raras. Ada seseorang pria juga menangis di depan kamar di mana Raras dirawat. Dia adalah Dilan, teman sekaligus pengacara pribadi Raras.


Dia adalah pria yang dipercaya Raras untuk mengurus pemakaman sekaligus bisnis serta harta peninggalan yang ia tingalkan untuk sang putri berikut pengasuhnya.


"Bisa kita bicara!" pinta pria itu ketika Riana sedang menunggu jenazah Raras selesai dirawat.


Riana mengangkat wajahnya. Mematikan ponselnya. Kemudian ia pun berdiri dari tempatnya duduk saat ini.


Riana diam. Hanya menatap bingung ke arah pria yang belum pernah ditemuinya itu.


"Hay..." pria itu kembali menyapa. Sedangkan Riana masih sibuk dengan kebingungan yang saat ini masih mengepungnya.


"Riana Ekaristi?" ucap pria itu lagi, menyebut nama lengkapnya. Seakan pria itu memang mengenalnya dengan baik.


"Nona! Anda oke?" tanya Dilan lagi. Kali ini Riana berkedip. Tersadar dari kebingungannya. Tersadar dari segala pemikiran dan kekhawatiran yang kini menghinggapinya.


"Anda bertanya pada siapa?" tanya Riana balik. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari seseorang selain dirinya. Mungkin ada.


"Saya bicara dengan anda, Nona. Anda Nona Riana Ekaristi kan? Asisten pribadi nona Raras?" tanya pria itu.


Riana tersenyum, sebab ia senang. Pasti pria ini adalah dokter. Dan mendatanginya karena Raras baik-baik saja. Yang ada di dalam ruang rawat jenazah itu pasti bukan Raras. Pasti orang lain. Riana senang memikirkan itu.


"Iya Dokter. Saya Riana. Saya adalah asisten Nona Raras. Anda benar, Dokter. Di mana Nona saya sekarang, Dokter. Eh, kenapa Anda bisa bahasa saya, apakah anda orang Indonesia?" tanya Riana sembari tersenyum dalam tangis.

__ADS_1


Kini Dilan paham, kenapa wanita itu begitu kekeh memilih Riana untuk menjadi ibu dari putrinya. Ternyata wanita ini memang memiliki ketulusan yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang ada di sekitar Raras.


Riana begitu antusias ingin Raras kembali. Harapan Riana agar Raras tetap hidup, tergambar jelas dari sorot mata wanita itu. Dilan sungguh bisa merasakan itu.


"Aku memang orang Indonesia, Nona. Tapi aku bukan dokter. Aku adalah pengacara Nona Raras," jawab Dilan tegas.


Seketika Riana terdiam. Air matanya kembali mengucur deras. Bagaimana tidak? Harapannya terpatahkan. Harapannya sia-sia. Pria yang ia pikir akan memberinya kabar baik, ternyata berbeda dengan apa yang ada di kepalanya. Riana kecewa.


"Nona Riana, Anda oke?" tanya Pria itu kembali menatap sendu pada Riana.


Sedangkan Riana, wanita ini terduduk lemas. Harapannya telah hilang.


Riana meneguk salivanya, dengan kekuatan yang masih ia miliki, ia pun menjawab, "Ya, saya oke!" jawabnya lirih.


Riana masih menangis. Namun ia mendengar setiap kata yang Dilan ucapkan.


"Maaf jika saya mungkin membuat Anda kecewa. Tapi sekali lagi, ini adalah keinginan Nona. Saya sebagai teman sekaligus sahabatnya, tidak bisa melawannya. Karena perintahnya adalah tugas bagi saya," ucap Pria itu lagi.


Kali ini Riana tak tinggal diam, ia pun membalas ucapan pria tersebut. Tiba-tiba saja, terbesit sebuah pemikiran yang sama sekali tidak Riana sangka. Akan tetapi pemikiran itu terlintas begitu saja dan nyata adanya.


"Katakan pada saya, apa yang sebenarnga terjadi. Kenapa saya merasa, saya sedang dijebak saat ini? Katakan pada saya, apa yang sebenarnya kalian rencanakan? " tanya Riana tegas.


Bukan suudzon dengan Raras, tapi kejadian ini sungguh membuat Riana berpikir demikian.

__ADS_1


Dilan sendiri tidak menyalakan apa yang terlintas dipikiran wanita cantik ini. Itu wajar, sebab bagi wanita ini, semua terjadi begitu saja. Wajar jika dia merasa dijebak.


"Anda jangan merasa begitu, Nona. Ini bukanlah jebakan. Tapi ini adalah permintaan seorang ibu yang menginginkan putrinya tetap dijaga oleh seseorang yang ia percaya. Dan kepercayaan itu jatuh pada anda," ucap Dilan serius.


Riana diam. Menatap dalam hening pria yang kini berada tepat di hadapannya itu. Ingin dia menjawab pernyataan itu, namun lidahnya serasa kelu. Hanya tangis yang bisa ia keluarkan.


"Sekarang yang harus kita lakukan adalah mengantarkan Raras di tempat peristirahatannya yang terakhir. Nanti setelah ini, saya kan jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi. Lalu apa yang Raras inginkan dan juga kenapa Raras memilihmu untuk menjaga bayinya. Semua sudah Raras tulis di dalam surat yang memang dipersiapkan untukmu dan juga baby Shanshan." Dilan menghentikan ucapannya. Sebab pihak rumah sakit memanggilnya. Sebagai keluarga, sebagai pengacara, sekaligus sebagai wali.


Di pihak Riana, wanita ini kembali menangis pilu. Tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Sebab pikirannya masih kacau. Pikirannya semrawut entah bagaimana. Riana sungguh-sungguh tak bisa menjabarkan apa yang ia rasakan.


***


Kesedihan bukan hanya milik Riana, tetapi milik Yuta juga. Wanita pesakitan itu, kini sedang meringkuk di sebuah kamar kecil milik salah satu warga yang menolongnya ketika pingsan di jalan.


Saat ini, Yuta sedang merasakan sakit yang teramat sangat disekujur tubuhnya. Terutama di daerah kepala dan pundak.


Kepalanya serasa mau meledak. Terlebih ketika ia pakai untuk berpikir.


Wanita ini yang saat ini menjadi buronan polisi karena ia dituduh telah menipu salah satu bos terkaya di Kalimantan. Yuta dituduh telah memanipulasi rekan bisnisnya itu.


Yuta tahu, jika dirinya dijebak oleh pria jahanam itu. Tetapi saat ini, ia sungguh-sungguh tak bisa melawan. Apa lagi membuktikan, membawa raganya saja dia tidak sanggup. Terpaksa untuk saat ini, Yuta hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


Bersambung...

__ADS_1


Like dan komen kalian adalah semangat untukku agar rajin up... makasih semua🥰🥰🥰🥰


__ADS_2