
Di sisi lain, Pak Dayat masih belum percaya dengan kabar bahagia yang di bawa oleh sang istri. Rasa penasaran yang merasuki jiwa pria paruh baya ini pun membawa niat untuk mengorek lebih jauh keterangan perihal kabar itu.
"Ria telpon jam berapa, Ma?" tanya Pak Dayat penasaran.
"Udah sore, Pa. Sekitar jam tigaan lah. Padahal, tadi Mama hampir sempat mau bunuh diri, Pa," jawab Nana jujur.
"Apa!!!!" Pak Dayat melotot ke arah sang istri.
Nana terjingkat, terkejut. Ia pun mengelus dadanya, takut.
"Maaf, Pa! Habis otak Mama udah buntu. Mama bingung mesti gimana. Eh pas lihat Ara, Mama sadar, bahwa bayi cantik itu masih butuh Mama. Mama istighfar banyak-banyak. Berusaha ikhlas.... eh nggak lama kemudian, Ria telpon dan kasih hadiah itu buat Ara. Mama jadi merasa tertampar, Pa. Mama merasa tertampar karena lupa, bahwa Allah itu ada. Harusnya Mama percaya, kalo anak itu membawa rezekinya sendiri," ucap Nana lagi. Penyesalan pun kini merengkuh sanubari wanita yang masih cantik di usianya ini.
"Iya, Ma. Papa juga salah. Selama ini kita sering lalai. Kita sering lupa, kita sering terlena. Tapi jangan bunuh diri juga kali, Ma, pikirannya. Sesat, Mama, sesat. " Pak Dayat menatap nanar pada bocah cilik yang kini tidur di atas ranjang sang istri. Ia juga kepikiran, bagaimana nasib bocah cantik itu jika seandainya istrinya ini tidak ada. Sedangkan ibu kandungnya saja lebih mirip iblis dari pada manusia.
"Maap, Pa, maap. Sekali lagi maap ya, Pa." Nana menundukkan kepalanya takut.
__ADS_1
"Iya, Ma. Lain kali jangan begitu, ya Ma. Kasihan cucu kita. Kita harus tetap sayang sama dia. Kita harus tetap kuat, biar bisa jaga dia. Masak kita kalah sama Ria, padahal dia bukan ibu kandungnya. Bukan wanita yang melahirkan dia. Tapi malah lebih peduli, lebih sayang," jawab Pak Dayat mengingatkan.
"Iya, Pa. Mama juga malu. Malu pada Ria yang berhati emas itu. Mama hanya bisa berdoa, semoga Ria lah jodoh yang Tuhan siapkan untuk putra kita. Semoga Ria lah tulang rusuk Langit yang sebenarnya. Mama berharap itu, Pa." Nana meneteskan air matanyamatanya, sedih saja jika mengingat sikap dan penolakan Langit terhadap Riana.
"Papa aamiinin doa Mama. Semoga mereka berjodoh sampai ke Jannah, Ma. Karena menurut Papa, Langit itu sebenarnya suka sama Ria. Papa rasa pas dia ngamuk itu, memang karena cemburu, Ma. Laki-laki kalo merasa miliknya diusik orang lain kan jadi garang, Ma. " Pak Dayat merebahkan tubuhnya, lalu menjadikan paha sang istri sebagai bantal.
"Entahlah kalo soal itu, Pa. Apapun masalahnya, kalo suami pukul istri tetap nggak ada yang bisa membenarkan. Kecuali kalo Ria melakukannya berkali-kali. Langit udah tegur sebanyak 3 kali. Barulah Langit boleh tegur pakek tangan. Tapi juga nggak boleh sampai babak belur begitu," jawab Nana sedikit memenyampaikan rasa, bagaimana seharusnya memperlakukan wanita.
"Mama benar! Semoga putra kita menyesal dan bisa memperbaiki diri. Papa juga berharap, Ria masih mau jadi mantu kita. Setidaknya masih mau jadi ibunya Ara. Kasihan, Ma, Ara. Emak kandungnya nggak peduli gitu sama dia. Bapaknya juga sibuk dengan urusannya sendiri. Setidaknya kalo ada Ria kan kita tenang." Pak Dayat memeiringkan tubuhnya lalu memeluk erat tubuh sang istri. Sepertinya dia sedang membutuhkan seseorang untuk mengerti dirinya saat ini.
"Iya, Papa benar. Riana, gadis itu benar-benar anugerah buat keluarga kita, Pa," ucap Nana lagi.
"Tadinya Mama juga berpikir demikian, Pa. Tapi Riana berpesan, Langit jangan sampai tahu hal ini. Dia takut Langit marah. Dia takut harga diri suaminya itu terluka," jawab Nana sambil menatap mata sang suami.
"Lalu piye, Ma?" Pak Dayat jadi ragu.
__ADS_1
"Ya udah kita pegang saja sampai Riana nya balik, kita gunakan untuk keperluan Ara. Kita catat, biar nanti kalo Mama Iyanya datang, kita tinggal laporan. Gitu aja, Pa!" jawab Nana sesuai dengan pemikirannya.
"Bolehlah, Ma kalau gitu. Oiya, Ma .... Soal kita buka kedai martabak gimana? kalo kita pinjam punya Ara dulu. Siapa tahu kita bisa ngembangin uang itu, Ma. Siapa tahu kita bisa nyari berkah dari uang titipan Ria itu, Ma," ucap Pak Dayat menawarkan.
"Boleh, Pa. Nggak pa-pa. Mama rasa, Ria, juga nggak bakalan keberatan soal itu!" jawab Nana yakin.
Kedua pasutri itu tersenyum. Tak lupa mereka juga memanjatkan doa. Semoga jalan yang mereka pilih kali ini bisa menjadi ladang keberkahan untuk Riana, Ara dan keluarga mereka.
***
Diam-diam, nasib baik sedang mengintip Riana. Gambar-gambar iseng miliknya telah membuat seorang pengusaha dibidang interior terpesona dengan detail desain gambar yang mungkin tak sengaja Riana torehkan di buku hariannya.
Tak sabar dengan niatnya itu, pemuda tampan ini pun berniat menemui Langit secara langsung dan menanyakan perihal pemilik barang-barang yang sekarang ada di tangannya.
Entah mengapa, Azam yakin, jika desain-desain Riana itu pasti bakalan di sukai para konsumen.
__ADS_1
Bersambung...
Like like like... Komen jangan lupaπππsabar ya, besok kita lihat reaksi Langit ngebaca buku harian mama Iya... ππππ