
Sebuah hubungan yang dilandasi penghianatan tak mungkin tak ada luka. Bisa jadi ada kata maaf, tapi tidak kalau tidak ada luka. Pasti sedikit banyak akan tetap meninggalkan luka. Begitupun yang terjadi pada hubungan Langit dan Yuta. Hujaman benda tajam berbentuk penghianatan telah Yuta tancapkan pada hati Langit. Maka, jelas sudah hati itu kini terluka. Jelas sudah hati itu hancur. Jangan tanya bagaimana murkanya pria itu. Sampai menghadirkan sebuah ancaman untuk menghancurkan wanita itu detik ini juga.
Terbukti, setelah mengetahui sang istri yang sangat dicintainya ternyata hanya menghianatinya, Langit pun akhirnya langsung memutus rasa cinta itu. Tanpa memikirkan maaf untuk wanita tersebut. Baginya, cinta yang ada tidak ada apa-apanya di banding dengan luka yang telah Yuta berikan padanya. Jangankan menatap wanita itu lagi. Berpikir pun tidak. Langit terlanjur membenci.
Langit, yang saat ini sedang diselimuti amarah, tentu saja tak ingin kehilangan kesempatan untuk menghancurkan Yuta. Beruntung dia hafal dengan seluk beluk daerah yang ia tinggali. Tak ingin kehilangan jejak, Langit pun segera masuk ke gang kecil, yang ia tahu itu adalah jalan pintas. Sedangkan para polisi itu masih mengejar ke arah di mana Yuta melarikan diri.
Beruntung apa yang ia perhitungkan tidak meleset. Yuta berlari ke arah di mana saat ini dia berada. Langit tersenyum. Lalu ia pun bersembunyi di balik pot bunga besar, berdiri menunggu kedatangan target.
Beberapa menit berlalu, terlihat dari arah berlawanan, terlihat Yuta sedang berlari. Langit kembali tersenyum senang. Rasa bahagia langsung merengkuhnya. Dengan cepat, Langit pun melepas sepatunya dan melempar sepatu tersebut ke arah target. Dan ....
"Terima ini brengsek!" ucap Langit sembari melempari Yuta dengan sepatu yang ia kenakan. Lemparan Langit tepat mengenai sasaran. Sepatu itu tepat mengenai kepala Yuta. Hingga wanita yang saat itu belum siap menerima serangan, tentu saja langsung terkejut. Yuta jatuh tersungkur.
"Kurang ajar!" teriak Yuta kesal.
Langit tertawa senang. Kemudian pun mendekati wanita penghianat itu. Memastikan bahwa si wanita tak mampu melarikan diri lagi. Setidaknya tidak mampu melawannya lagi.
__ADS_1
"Mau lari ke mana, Sayang. Mau main petak umpet denganku ya, ha? Kekasihmu sudah masuk ke hotel mewah. Memangnya kamu nggak ingin ikut, ha?" ledek langit sembari melangkah mendekati Yuta yang saat itu sedang menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa mnatapku seperti itu? Bukankah pria ini yang selama ini mencintaimu. Kamu sudah nggak cinta sama aku lagi? Kenapa? Kaget ya ketahuan bangkainya, heemmm? " ucap Langit lagi seraya mencengkram kasar kedua pipi wanita.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Yuta pun memukul Langit dengan sekuat tenaga. Agar pria yang ia benci itu segera melepaskan cengramannya.
Langit yang gemas semakin kuat mencengkram dan berkata, "Kalo aku nggak bisa bikin kamu membusuk di penjara, maka jangan panggil aku Langi!" ancam Langit seraya melepas kasar cengraman tangannya dari kedua pipi Yuta.
Yuta yang terlanjur ikut marah pun menantang pria itu, sebab ia tahu, Langit sangat mencintainya dan tak akan pernah tega melakukan hal itu padanya.
"Kenapa kamu sepercaya diri itu, Sayang. Bukankah kamu sangat tergila-gila denganku, ha?" ejek Yuta dengan tawa khas nya.
Yuta menatap marah pada Langit. Sepertinya ejekkannya pada pria itu tidak mempan. Membuat Yuta kehilangan akal.
"Siap-siap menghadapi nerakamu, Sayang. Lihat, para malaikat itu sedang menjemputmu!" ucap Langit sembari menunjuk pada para polisi yang ikut mengejarnya. Langit tersenyum, sebab kali ini dia menang. Entah mengapa ia sangat senang.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkanmu, Langit. Kita lihat saja nanti. Brengsek!" teriak Yuta marah. Sayangnya, Langit tak ingin mendengarkan teriakan wanita penghianat itu. Langit memilih meminta para polisi itu untuk membawa Yuta. Meminta mereka untuk menindaklanjuti apa yang telah ia laporkan.
Langit senang, sebab para polisi itu terlihat memihak padanya. Sedangkan Yuta tetap mengumpat penuh amarah.
***
Meski blum dibilang finis, tapi Minah sudah merasa sangat senang dan lega. Karena usahanya tidak sia-sia. Ia yakin, saat ini Yuta dan selingkuhannya pasti sedang kalang kabut karena ketahuan dengan ulah busuk mereka. Minah yakin, bukan hanya dirinya yang tertawa, para orang-orang yang pernah dihianati juga akan tertawa menyaksikan kisah ini. Mereka pasti bersorak gembira. Karena kebenaran menang. Kebaikan mengalahkan kebatilan.
Sekarang, tergantung Langit. Akan tetap memilih Yuta atau Riana yang nyata-nyata tulus padanya.
Jika boleh jujur, Minah tetap berharap Riana kembali pada Langit dan mengobati luka batin pria itu. Namun, jodoh adalah kuasa Illahi. Dia sendiri hanya mampu melangitkan doa. Tanpa bisa memaksa, doa itu diijabah atau tidak. Yang jelas, Minah hanya ingin kebaikan menang. Minah hanya ingin Langit tahu, bahwa Rianalah yang memang tulus padanya.
Kini Minah sudah berada di kamar belakang di mana biasa ia mengistirahatkan jiwa dan raganya, jika datang ke rumah ini. Wanita paruh baya ini tersenyum senang. Sangking senangnya, Minah sampai tak mau memejamkan mata. Ia menunggu kabar selanjutnya. Menunggu kabar bagaimana nasib wanita pengianat itu. Entahlah, Minah merasa ini adalah penghargaan terbaik untuk dirinya sendiri. Karena sekali lagi ia bisa mendorong pengianat ke dalam neraka. Seperti pria yang pernah menghianatinya dulu.
Bersambung....
__ADS_1
Yuhu, satu lagi nopel terkeren karya kak Lusi... yuk cuskan๐๐๐