Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Dia dan Hatiku


__ADS_3

Dua hari kemudian....


Di sebuah ranjang rumah sakit.


Langit merasakan ada sesuatu yang lain dalam tidurnya. Dalam alam bawah sadarnya itu, dia melihat seorang wanita bercadar sedang mendekatinya. Lalu menatapnya. Terlihat jelas, wanita itu menangis. Air mata yang ia keluarkan tergambar jelas keluar dari sudut matanya.


Langit juga merasakan, wanita itu mengelus pipinya. Memberikan kecupan di kening. Mengecup bibirnya di balik cadar itu. Bahkan wanita itu juga mencium bolak balik tangannya. Seperti seseorang yang meminta restu. Namun, ketika ia membuka mata, wanita itu juga menatapnya dengan tatapan terkejut. Begitupun dengan Langit. Mereka berdua sama-sama terkejut.


Sedetik kemudian, wanita itu langsung pergi. Berlari keluar kamar tanpa menoleh lagi kepadanya. Sedangkan Langit, tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin bertanya, namun lidahnya kelu. Semua kata yang ia punya, seakan terkumpul dalam tenggorokannya. Menyumbat bebas di sana.


Bukan hanya tak bisa berbicara, Langit juga tak mampu beranjak dari pembaringan. Langit tak mampu bangun tanpa bantuan orang lain. Itu sebabnya, ia hanya mampu menatap nanar kepergian wanita pencuri bibirnya itu. Ia hanya bisa mengutuk tulangnya yang retak itu, sebab karena gips yang terpasang di kakinya lah yang menghalanginya untuk mengetahui siapa wanita yang berani mencuri sesuatu darinya itu.


Semenit kemudian, Langit tersadar. Pikirannya langsung tertuju pada wanita itu. Wanita yang pernah ia sakiti. Riana.. wanita itu. Hati Langit berkata, bahwa wanita yang datang dan berani menciumnya pasti wanita itu. Langit yakin itu.


Tetapi, Langit kecewa. Karena wanita itu seperti tak ingin bercengkrama dengannya. Terbukti wanita itu malah berlari setelah bertatap muka dengannya.


***


Di sisi lain, Riana menangis di dalam taksi yang membawanya kembali ke hotel. Wanita itu menangis karena pria yang mulai ia cintai itu kini telah terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Ia juga tak menyangka tentang apa yang telah menimpa sang suami. Dari usaha yang hancur. Perusahaan kedua orang tuanya yang telah berpindah tangan. Rumahnya di sita bank. Semua harta terlepas dari tangan. Sampai rumah sakit yang belum dibayar.


Riana tak tega. Tak bisa menutup mata. Mau bagaimanapun, dulu ... ketika ibunya sakit parah, keluarga itulah yang membantu ayahnya untuk membayar seluruh biaya pengobatan ibunya. Menyekolahkan adiknya dan juga membantu membiayai kuliah serta pengobatan sang adik.


Kecerdasan yang ia miliki sekarang tak lepas dari campur tangan mereka. Tak lepas dari dana yang mereka kucurkan untuk membantunya menuntut ilmu.

__ADS_1


Sekarang, roda kehidupan telah berputar. Gantian, kini dirilah yang berada di atas. Kini saatnya dirinya membantu keluarga itu. Setidaknya untuk saat ini, prioritasnya adalah membiayai pengobatan sang suami sampai sembuh. dan juga mengembalikan rumah yang ia tahu, rumah itu adalah rumah impian kedua mertuanya.


Riana tidak peduli apa yang dipikirkan Langit padanya. Yang jelas apa yang menurutnya benar, itulah yang akan di lakukan.


Tak ingin menunggu waktu lagi, Riana pun segera pergi ke kantor pria yang ia percaya bisa membantunya merealisasikan niatnya tersebut. Dilan adalah pria itu. Pria yang saat ini masih ia percaya untuk mengelola warisan yang ia terima dari Raras untuknya.


Beruntung, saat ini Dilan sudah sampai di kantor. Dengan cepat, Riana pun langsung menghubungi pria itu, karena saat ini dia sudah ada di depan kantor.


"Masuk aja, Ri. Anggap kantor sendiri hahaha!" ucap Dilan.


"Kamu jangan tertawa, Lan. Kamu tahu aku sedang dalam masalah besar. Pria itu melihatku!" jawab Riana sambil melangkah menuju ruangan pria yang kini jadi sahabatnya itu.


"Ya nggak pa-pa sih, dilihat suaminya masak takut," ledek Dilan, masih ingin menertawakan sahabatnya itu.


"Nggak ah, aku tahu dia pasti akan marah padaku!" jawab Riana sembari masuk ke dalam ruangan di mana Dilan berada.


"Hayy!" sapa Dilan.


"Hay juga, makasih ya Lan, kamu udah bantu aku cari info soal keluarga suami!" ucap Riana sambil menangkupkan kedua tangannya pada pria itu.


"Siap! Kalo kamu butuh sesuatu aku pasti siap, Ri. Tenang aja! Jadi gimana rasanya ketemu doi?" canda Dilan.


"Dah ah, jangan becanda! Kepalaku serasa mau pecah mikirin apa yang terjadi dengan keluarga suami, Lan. Aku nggak nyangka aja, ternyata istri pertama suamiku segitu jahatnya!" ucap Riana sambil menjatuhkan kepalanya di meja kerja Dilan.


"Ya, namanya juga kehidupan, Ri. Yang terjadi biarlah terjadi. Yang penting sekarang gimana caranya mengatasi semua itu," jawab Dilan dewasa.

__ADS_1


"Kamu bener! Aku tetap mau membuat suamiku sembuh seperti sedia kala, Lan. Ini bukan masalah dia suamiku atau bukan. Aku hanya ingin membalas kebaikkan keluarganya. Dulu, keluarga itulah yang membantu ayah untuk membiayai pengobatan ibu. Bayar sekolah dan kuliahku. Bayar sekolah adikku juga, bahkan bayar pengobatan adikku juga, Lan. Demi Tuhan aku nggak bisa tutup mata soal itu." Riana menatap Dilan, seakan memberi tahu pria itu. Bahwa apa yang ia katakan adalah isi hatinya saat ini.


Dilan tersenyum. Tetap mengacungkan pada wanita baik hati itu.


"Oke, nanti aku bantu mengurus biaya rumah sakit suamimu. Oiya, perihal masalah perceraianmu, gimana?" tanya Dilan.


"Entahlah, Lan. Aku mesti belum memikirkan ini. Soal itu nanti saja. Aku mau fokus pada bisnis yang ditinggalin non Raras. Aku nggak mau bikin beliau kecewa, Lan. Kamu juga tahu kan, biaya untuk Shanshan nanti juga nggak sedikit. Aku nggak mau putriku itu kekurangan, Lan. Aku juga nggak mau putriku yang satunya juga menderita. Aku mau ayahnya cepet sehat, biar bisa ngidupin putriku satunya lagi, Lan." Riana menghapus air matanya, sungguh... saat ini hatinya seperti teraduk oleh sesuatu yang terjadi pada sang suami.


"Sabar, Ri. Kamu orang baik. Tujuan kamu juga mulia. Pasti Tuhan bakalan bantu," ucap Dilan.


"Ya, Lan. Aku juga berharap demikian. Aku berharap kebaikkan untuk mereka. Aku berharap kebaikkan untuk Shanshan. Aku berharap kebaikkan untuk Ara. Aku juga berharap kebaikan untuk dia!" jawab Riana serius.


"Tunggu... berharap kebaikan untuk dia? Maksudnya?" ledek Dilan.


"Eh, nggak... maksudku hanya untuk kedua putriku. Untuk Ara dan Shanshan. Itu saja!" jawab Riana salah tingkah.


Dilan tersenyum, sebab apa yang pernah Raras ceritakan padanya adalah benar adanya. Riana tak mau mengakui perasaan yang sebenarnya ia rasakan untuk Langit.


Ya... Riana memang jaim.


"Oke, baiklah. Aku siap ngerjain tugas dari kamu. Terus, besok jadi balik ke Itali?" tanya Dilan.


"Ya jadilah, Lan. Aku kan nggak bisa ninggalin Shanshan terlalu lama," jawab Riana yakin. Namun, tidak dipungkiri bahwa di sudut hatinya yang terdalam, ia juga ingin merawat sang suami sampai sembuh. Ia juga ingin melihat dan mendampingi pria belajar berjalan lagi. Serta memastikan dia sembuh dan pulih dari kecelakaan ini.


Bersambung...

__ADS_1


Like vote n komennya selalu aku nanti😍😍😍


__ADS_2