Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Entahlah


__ADS_3

Satu persatu permasalahan yang menyangkut Riana dan Langit akhirnya terselesaikan juga.


Lando bersedia mengirimkan berkas-berkas yang kakaknya inginkan. Namun ia terlihat kecewa, karena sang kakak tidak jadi berpisah dengan pria jahat itu, malah memaafkannya. Mau kembali ke pelukan pria itu dengan suka rela. Membuat Lando ingin menghajar kedua sejoli bodoh itu, menurutnya.


Bagaimana tidak mengumpati mereka bodoh? Yang satu tukang tipu, yang satu kelewat lugu. Entalah.. Lando kesal saya dengan kedua sejoli aneh itu.


"Kakak gimana sih? Emangnya kakak lupa pesan ayah?" tanya Lando di sela-sela perbincangan mereka.


"Lando... kamu nggak ngerti. Kamu nggak tahu apa yang jadi pertimbangan kakak kenapa mau balikan sama dia." Riana menghapus peluh yang mulai keluar dari keningnya.


"Emangnya apa yang jadi pertimbangan kakak sampai nggak mau pisah sama pria jahanam itu, ha?" tanya Lando marah.


"Hussst, masak masnya kok dibilang jahanam. Kakak nglakuin kesalahan Lando dan yang bisa bantu kakak cuma dia. Gimana dong?" tanya Riana lugu.


"Kok bisa, emang kakak nglakuin kesalahan apa?" Suara Lando terdengar lebih keras sehingga Riana agak terkejut.


"Kakak pakek surat nikah kami buat ngadopsi baby. Terus Kakak nggak kasih tahu dia, mau nggak mau kan dia harus setuju. Untung dia nggak marah, Kakak paksa. Pokoknya panjang lah ceritanya kalo diceritain. Gimana dong, Lan? Sudah terlanjur!" Riana semakin merasa serba salah. Padahal dia sudah berjanji pada Lando tak akan kembali pada pria itu, tapi nyatanya dia malah balikan.


"Oke, Lando nggak akan marah soal baby atau apalah itu, tapi jujur Lando agak sedikit tidak setuju kalo kakak balikan sama dia. Kakak kan pernah di sakiti sama dia, Kak. Masak iya balikan. Kan konyol namanya, atau jangan-jangan kakak jatuh cinta ya sama pria itu? Kakak suka ya sama pria itu? Ha! cecar Lando kesal.


"Kakak, jatuh cinta? Sama dia? mana mungkin! Ya nggak lah!" tolak Riana yakin.


" Kakak yakin nggak cinta ama dia. Nggak suka sama pria itu? Lalu faktor apa yang bikin kakak mau balikan sama dia? Kalo cuma soal baby, semua bisa di atur Kak. Bisa aja kalian pisah dan... ya udah anak itu jadi anak kakak sendiri. Lando nggak yakin, kalo alasannya cuma itu. Kakak pasti suka ama tu cowok jahat itu!" desak Lando lagi.


"Enggak, Lan. Kakak nggak suka sama dia Serius, sungguh. Tapi jujur, kakak juga nggak bisa benci sama dia, terus tadi kami juga ciuman sedikit," jawab Riana, tanpa rasa berdosa.

__ADS_1


Mendengar jawaban sang kakak, tentu saja Lando semakin kesal. Sebab dia sangat tahu bagaimana sifat Riana. Kakaknya ini terlalu lugu cenderung oon. Kelewat baik, kelewat bodoh dan kadang-kadang mudah sekali memaafkan. Ahhh, entahlah.... intinya Riana itu tidak tegas.


"Lan, kamu marah?" tanya Riana saat sang adik diam. Riana tahu kalo pengganti ayahnya itu pasti kesal padanya.


"Kakak tahu tanpa harus Lando jawab kan! ahhh, udahlah... serah kakak aja. Yang penting, kalo sampai Lando denger dia berani nyakitin kakak, atau berani main tangan lagi. Awas aja!" ancam Lando kesal.


"Oh, oke, oke, nanti kakak sampaikan. Tapi, jangan lupa ya, surat-surat kakak jangan lupa di kirim ya. Masmu mau pakek!" jawab Riana, masih dengan keluguan menyebalkan, menurut Lando.


Sedetik kemudian mereka pun mengakhiri perbincangan itu. Meskipun pada hasil akhir, Lando sangat kesal pada sang Kakak. Namun, tidak dengan Riana, wanita super lugu ini malah memikirkan pertanyaan sang adik, perihal dia suka atau tidak dengan pria itu.


Tak ingin pusing sendiri memikirkan itu, Riana pun memutuskan masuk ke dalam ruang rawat Langit. Siapa tahu, nanti Langit bisa membantunya meyakinkan perasan yang ia miliki.


"Gimana Mam?" tanya Langit ketika melihat sang istri datang.


"Loh, emang Lando biasanya ke mana? Emang dia nggak kuliah?" tanya Langit, heran.


"Oh, dia udah nggak kuliah. Lagi cuti. Biasanya dia kerja, dan jarang di Surabaya. Jalan-jalan terus dia kerjaannya."


"Oh, cuti. Kok kerjaannya jalan-jalan. Emang dia kerja apaan?" Langit terlihat penasaran.


"Dia jadi model sekarang, Mas. Dah ah, jangan bahas dia. Ria lagi sebel sama dia!" ucap Riana, cemberut.


Langit mengerutkan kening, lalu ia pun bertanya, "Sebel kenapa?"


"Dia marah, katanya, kenapa mesti balikan sama Mas. Terus Ria jawab, Ria bikin kesalahan, kan emang Ria bikin kesalahan kan!" Riana terlihat serius, sedangkan Langit hanya tersenyum dan tetap menjadi pendengar yang baik.

__ADS_1


"Terus!" pancing Langit.


"Ya udah, Ria cerita yang sebenarnya dong. Habis itu dia nanya lagi, kenapa mau balikan, kakak cinta ya sama pria jahat itu. Ya Ria jawab jujur lah. Ria jawab kalo Ria nggak cinta sama masnya, tapi kami tadi ciuman dikit. Eh dia diem, Ria tahu dia pasti marah. Emang apa salahnya kalo kita ciuman, kan kita suami istri ya kan?" Riana makin cemberut. Sayangnya tidak dengan Langit, pria ini malah terlihat senang. Senyum mengembang sempurna di bibir pria itu.


"Ahhhh, sudahlah... kan kata Mas rumah tangga itu nggak perlu cinta, ya kan? yang penting punya anak. Kan kita udah punya anak, dua lagi. Ya kan!" tambah Riana lagi, kali ini Riana terlihat semakin percaya diri dengan pemikiran dan jawaban yang ia berikan pada sang adik. Bahwa jawaban serta pemikirannya adalah benar.


"Iya, Mami memang benar. Mami memang nggak salah, yang penting rumah tangga itu punya anak. Nanti kalo kaki Papi udah sembuh kita nambah anak ya Mam. Kan kita belum punya cowok," jawab Langit asal. Sepertinya menipu Riana adalah tujuan terbaik pria ini.


"Boleh! Kita mau ngadopsi lagi, di mana?" sepertinya wanita cantik ini masih belum memahami akal bulus suaminya.


"Kok ngadopsi sih, Mam. Ya nggak dong, kita bikin sendiri. Nanti calon babynya di simpan di sini. Biar tumbuh sehat di sini!" jawab Langit sembari mengelus perut rata sang istri.


"Ehhh, nggak... nggak mau. Nanti Ria di paksa lagi!" jawab wanita lugu ini, sembari menepis kasar tangan sang suami yang masih bersarang di perutnya.


"Eh, ya nggak dong. Masak dipaksa. Kita bakal nglakuinnya pakek perasaan. Pakek cinta," jawab Langit, berbisik mesra tepat di telinga sang istri.


"Dengan cinta? Memangnya kita saling cinta?" Lagi-lagi pertanyaan super lugu nan oon yang dikeluarkan Riana.


"Cinta dong, kan cinta itu bakalan kita pakai buat bikin baby, biar babynya tampan kayak papinya ini," rayu Langit. Dengan senyum bahagia, Riana pun menyetujui permintaan itu tanpa syarat. Karena yang dia tahu, apa yang dia lakukan tidak salah.


***


Hari menjelang sore, Riana dan Dilan sepakat untuk membicarakan masalah ini dengan Langit. Mau bagaimanapun, sejak Riana memasukkan nama Langit dalam akte baby Shanshan, saat itulah Langit terlibat dalam masalah ini. Mau tak mau, mereka harus membahas ini segera. Sebelum ayah sang baby menemukan keberadaan bayi itu dan membuat masalah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2