Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Ketulusan Hati


__ADS_3

"Izinkan aku membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu, Ras," ucap Lando, langsung pada pokok pembahasan mereka kali ini.


"Ras? Kamu tahu nama pemberian mamaku?" tanya Raras sembari mengelap air mata yang tak terbendung lagi.


"Tentu saja, kenapa tidak? Kamu lupa, wanita yang jadi ibu asuh baby kita itu siapa ku! dia kakak kandungku tahu!" ledek Lando.


Raras kembali tersenyum. Rasanya bahagia sekali bisa bertemu dengan orang-orang sebaik Riana dan suami. Sekarang ditambah lagi satu sosok yang sangat mencintainya. Dan lagi-lagi, masih berhubungan dengan Riana.


"Aku harus bagaimana, Lan? Aku tidak bisa menolakmu?" tanya Raras, kali ini ia sungguh-sungguh.


Lando tersenyum. Dipeluknya wanita baik hati yang ia cintai itu. Lando tahu kalau Raras pasti ragu padanya. Namun ia juga berjanji, akan memberikan yang terbaik untuk hubungan mereka. Lando berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk Shanshan. Karena nyatanya bayi itu telah membuatnya jatuh cinta.


Lando memberanikan diri mencium kening sang kekasih. Tak ada alasan baginya untuk tidak melakukan itu. Raras dan dirinya memiliki rasa yang sama. Lalu untuk apa menunggu, bukankah cinta itu harus dibuktikan.


"Maukah kamu jadi istriku, Ras?" tanya Lando tanpa basa-basi, tidak terdengar lembut. Tapi menurut Raras itu sudah cukup romantis. Karena ia melihat gemetar nya bibir pria tampan ini. Pertanda ia serius dalam ucapannya.


"Lan, pikirkanlah dulu. Pernikahan bukanlah hal yang mudah. Aku memang belum pernah menikah, tapi wanita yang hendak kau nikahi ini adalah wanita kotor, Lan. Buktinya aku memiliki anak di luar nikah!" ucap Raras.


"Cukup, Ras. Jangan bicara begitu terus. Kamu memang salah karena tidak bisa menahan nafsumu saat itu. Namun aku percaya, kamu pasti bisa jadi istri yang baik dan ibu yang baik di dalam rumah tangga kita. Karena aku yakin, kamu tulus," ucap Lando, mencoba menyakinkan kekasihnya bahwa dia adalah wanita yang baik.


"Aku tidak tahu, Lan. Tapi aku juga butuh kamu untuk membimbingku menjadi wanita yang seperti kamu ucapkan," jawab Raras.


Kali ini, Lando hanya tersenyum. Tak ingin berucap apapun. Tak ingin mengklarifikasi apapun. Ia hanya ingin, Mewujudkan cinta yang ia miliki saat ini. Kepedulian yang ia rasakan saat ini.


Lando bersyukur karena keseriusan menjalin hubungan dengan wanita cantik ini, di sambut baik oleh yang bersangkutan dan juga Riana sebagai kakak kandung, sekaligus keluarga inti darinya.

__ADS_1


Tak ada lagi yang perlu Lando khawatirkan. Semua sudah jelas dan dia tinggal memantapkan hati untuk melangkah ke pelaminan.


***


Sebulan Kemudian...


Apa yang menjadi keputusan Lando dan Ratas tak luput dari campur tangan dan nasehat seorang Riana.


Wanita berparas ayu ini pun langsung merestui hubungan mereka. Karena sebelum Lando mengenal wanita itu, Riana lebih dahulu mengenalnya. Jadi dia tahu bagaimana pribadi wanita itu sebenarnya.


"Dijagain ya, Lan. Semoga ini adalah pernikahan pertamamu dan terakhirmu. Kakak berharap, kalian bisa selalu mensuport, apapun... yang penting itu tidak menjauhkan kalian dari Tuhan!" ucap Riana.


"Siap, Kak. Makasih buat dukungannya. Mana Ara?" tanya Lando.


"Tu, bagi digendong abangmu. Lihat Ara dan Shanshan, mereka seperti bayi kembar. Abangmu nafsu sekali mau mengambil bayimu. Tapi aku rasa, Raras nggak akan ngizinin," jawab Riana.


"Buncin.. cie.. jacin sama emaknya, jacin sama babynya juga," ledek Riana. Tak hayal Lando dan Raras pun tersipu malu.


Ya... Hari ini adalah pernikahan Lando dan Raras. Tidak mewah, namun cukup hikmat dan romantis. Raras sangat menyukainya, Lando begitu mencintai dan tahu apa yang menjadi kesukaannya.


Lando begitu tampan mengenakan toxido berwarna putih, senada dengan gaun cantik yang dikenakan oleh Raras.


Riana sendiri yang merancang gaun itu dan Raras serta Lando sangat menyukainya.


Mereka bahagia, belajar dari pengalaman rumah tangga Riana dan Langit, mereka berdua yakin, selama saling mencintai dan menyayangi, pasti semua akan baik-baik saja. Lando yakin itu.

__ADS_1


Hari telah berganti malam, pengantin baru ini pun sudah diizinkan masuk ke dalam kamar pengantin mereka dan Shanshan masih di dalam pengawasan Langit dan juga Riana.


Kini Ara dan Shanshan telah tidur di box masing-masing. Sedangkan Riana terlihat kesusahan membuka resleting gaunnya.


"Kenapa, Mam?" tanya Langit seraya mendekati sama istri.


"Ini loh, Pi. Sleting nya nakal sekali!" jawab Riana sembari terus mencoba menarik resletingnya sendiri.


"Sini Papi bantuin, astaga istriku, ada aku. Kenapa nggak minta bantuan dari tadi?" ucap Langit, perhatian.


"Aku malu," jawab Riana jujur.


"Kenapa?"


"Setelah menonton video penuh itu, aku malu, Pi. Ternyata kamu nggak sampai bener-bener menggauli wanita itu. Aku malah meninggalkanmu dan menurutmu tidak setia. Tapi, nggak salah kan kalo aku cemburu?" ucap Riana, lembut.


Langit membalikkan tubuh sang istri agar menghadapnya. Memaksa wanita itu menatap mata elangnya. Lalu, ia pun berucap, "Jika aku melakukan penghianatan secara sengaja, berarti ada yang salah denganku, Mam. Aku mohon kamu cari tahu dulu penyebabnya. Agar tidak terjadi hal seperti ini lagi. Karena yang aku inginkan hanya kamu, istriku. Bidadari surgaku," ucap Langit lembut, tepat di telinga sang istri.


Riana merinding, sebab Langit begitu lembut memperlakukannya. Bisikan-bisikan cinta yang dibisikkan sang suami, nyatanya mampu membangkitkan jiwa kewanitaan seorang Riana.


Ia tidak menolak ketika tangan sang suami mulai menjelajahi tubuhnya. Riana ikhlas. Ikhlas menyerahkan kembali jiwa raganya pada sang suami, setelah selama sebulan ini ia memang enggan di setuh.


Entahlah, Riana merasa terbayang-batang terus dengan video menjijikan itu. Tetapi, setelah ia mengetahui fakta yang sebenarnya, Riana memaafkan. Ia pun mengikhlaskan.


Kini, tak ada penghalang lagi bagi mereka berdua untuk melakukan pelepasan. Riana telah pasrah, menyambut kelembutan yang lakukan sang suami.Langit pun mulai lebih berani berbuat lebih.

__ADS_1


Perwujudan cinta itu kini telah mereka nikmati. Kebahagiaan telah merengkuh keduanya. Dan itu semua tidak lepas dari ketulusan hati seorang Riana yang tala menerima baik buruknya seorang suami. Langit juga sangat bersyukr. Karena Tuhan memberikannya seorang Riana. Wanita baik hati dengan segala kelembutan hatinya. Langit berharap, Riana adalah bidadari surganya.


End


__ADS_2