
Tangis Riana pecah nama kala menerima sebuah video yang mengguncang jiwanya. Bagaimana tidak, belum juga sebulan ia dan sang suami kembali seatap, namun Langit sudah berani bermain api.
Video tersebut menunjukkan betapa ganasnya Langit bermain di atas ranjang bersama wanita lain.
Sakit hati, sudah pasti. Marah, tentu saja.
Bagaimana tidak, Riana merasa dipermainkan, dibohongi, dihianati.
Janji setia itu ternyata bulshit. Janji untuk bersama dan saling menjaga itu ternyata hanya isapan jempol belaka. Kata-kata manis yang sering Langit ucapkan padanya ternyata hanyalah akal-akalan pria itu untuk meluluhkannya. Riana sangat membenci ini. Sungguh...
Riana kembali menangis menjadi-jadi, seakan tiada saat yang paling menyakitkan di banding saat ini.
Sungguh, cintanya pada Langit tidak main-main. Cinta itu begitu tulus dan tanpa pamrih. Namun, cinta itu nyatanya tidak berarti untuk pria itu. Langit begitu mudah menghianatinya. Langit begitu mudah kembali menorehkan luka di dalam hatinya.
Riana menatap kesal pada foto pernikahan mereka. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa pernikahan yang coba mreka perbaiki ini, ternyata harus tenggelam bersama badai yang menghempas hubungan mereka.
"Cukup sudah kamu mempermainkanku, Mas!" teriak Riana dalam sela-sela isak tangisnya.
Menyesal. sudah pasti. Tentu saja Riana menyesal telah memaafkan pria yang pernah menyakitinya itu. Riana begitu lemahnya hingga sekarang ia merasa bahwa dirinya adalah wanita paling bodoh di dunia. Wanita yang mudah di butakan oleh cinta.
"Baik, jika ini inginmu. Mari kita selesaikan di sini, mas," ucap Riana sembari mengusap kasar air matanya.
Tak ingin terpuruk dalam kebodohan yang menyakitkan, Akhirnya Riana pun memutuskan pergi untuk selama-lamanya dari kehidupan Langit.
Entah ke mana, yang penting tidak melihat pria itu lagi dan masa lalunya.
__ADS_1
Riana segera mengambil kopernya dan memasukkan beberapa potong bajunya dan juga baju baby Shanshan dan juga keperluan bayi itu.
Lalu tak lupa ia meminta pengasuh yang membantunya menjaga anak-anaknya untuk menjaga putrinya yang satu lagi, yaitu Ara.
Riana tak mungkin membawa Ara, karena bagaimanapun ada yang lebih berhak darinya. Yaitu kedua mertuanya.
Sebelum memutuskan pergi, Riana pun menghubungi kedua mertuanya untuk ke rumah. Namun, ia tak mengatakan bahwa dirinya marah. Ia hanya meminta mereka untuk datang. Untuk membantunya membantu Ara itu saja.
Riana belum mampu menjelaskan alasan mengapa ia pergi. Sebab, dalam hatinya saat ini sedang terjadi peperangan antara benci dan cinta, antara kecewa dan sesal.
Riana menangis kesal saat mekangkahkan kakinya keluar dari tempat tinggalnya bersama sang suami.
Hati dan pikirannya terus memaki. Menyesali segalanya sekarang. Menyesal karena mengenal pria itu. Menyesal karena memaafkan pria itu.
Satu jam berlalu...
Kedua orang tua Langit pun sampai di kediaman putra semata wayangnya itu.
Mereka terkejut, sebab pengasuh Ara mengatakan majikan mereka pergi dengan terburu-buru.Membawa koper dan juga semua perlengkapan baby Shanshan.
"Memangnya dia nggak bilang mau ke mana?" tanya Ibu Nana pada pengasuh baby Ara.
"Tidak, Bu. Non Ria menangis sambil merapikan barang-barangnya," jawab gadis yang dipercaya Riana dan LAngit membantu mereka menjaga putri-putri mereka.
"Apakah mereka bertengkar?" tanya PAk Dayat.
__ADS_1
"Maaf, Pak ... saya kurang tahu. Tapi Aden memang tidak pulang semalam," jawab pengasuh itu lagi, kali ini dia jujur.
"Astaga! Bikin ulah apa lagi tu anak," gumam Pak Dayat, curiga.
Tak lama kemudian, ponsel Pak Dayat menerima pesan dari Riana, yang bertuliskan maaf, bahwa dia tidak sanggup lagi mendampingi Langit.
Bukan hanya ucapan permintaan maaf, Riana juga menyertakan alasannya mengapa ia melakukan hal demikian. Tentu saja ia tidak mau di salahkan akan hal ini. Riana hanya ingin menunjukkan kekecewannya pada Langit. Riana hanya ingin protes, mengapa cinta dan pengorbanannya seakan diremehkan oleh pria tersebut.
"Ma ...." Pak Dayat menatap nanar pada ponsel yang kini ada di gengamannya.
"Ya, Pa." Ibu Nana mendekati sang suami. Lalu pak Dayat menyerahkan ponselnya pada sang istri.
"Ada apa, Pa?" tanya Ibu Nana bingung.
"Coba Mama lihat ini, pantas Riana pergi. Papa pun mulak melihat kelakuan bejat putra kita, Ma,' ucap Pak Dayat, terdengar lirih dan sesekali terbata. Sebab ia memang sangat-sangat kecewa. Pak Dayat berusaha menahan agar tangisnya tidak keluar.
Tak mau rasa penasaran menghantuinya, Ibu Nana pun segera memeriksa ponsel sang suami. Dan betapa terkejutnya ia setelah melihat adegan memalukan Langit bersama seorang wanita yang jelas itu bukan Riana.
"Astaga! Bagaimana ini, Pa?" tanya Ibu Nana takut.
"Entahlah, Ma, sebaiknya kita tunggu Langit datang dan menjelaskan semua ini. Coba Mama telpon Ria, siapa tahu masih aktif," ucap Pak Dayat, tentu saja dengan perasaan cemas bercampur kecewa, tentu saja.
Bersambung ...
Jangan lupa like komen n Vote yes.. maaciw🥰🥰
__ADS_1