
Pembicaraan Nana dan Minah, tanpa sengaja didengar langsung oleh Langit. Hati pria ini kembali teriris, mengingat begitu tulusnya kasih sayang yang Riana lakukan pada keluarganya. Termasuk pada Zahra, putri semata wayangnya.
Namun, ketulusan itu malah ia balas dengan tindakan yang bisa dikatakan sangat keji. Bukan hanya melakukan tidak kekerasan, tapi dia juga melakukan tindakan yang bisa dikatakan sangat tidak manusiawi. Merenggut paksa mahkota wanita malang itu. Walaupun secara agamanya dan hukum, Riana memang sah menjadi haknya. Tetapi caranya yang salah.
Langit duduk termenung memikirkan kebejatannya kepada Riana. Ingin rasanya saat ini dia berlari mencari keberadaan sang istri. Namun, sekali lagi, Ia juga tak bisa bertindak gegabah. Mengingat yang memberinya jalan seperti ini adalah orang tuanya. Langit hanya ingin tetap menjaga perasaan mereka.
Lamunan pria tampan ini buyar ketika mendengar seseorang membuka pintu kamar pribadinya.
"Ma," panggil Langit seraya beranjak dari tempat duduk nya.
"Duduklah, Mama ke sini ingin membicarakan masalah penting padamu," ucap Nana seraya duduk di sebelah sang putra.
"Apa itu, Ma?" tanya Langit penasaran.
"Mama baru saja dapat kabar dari papa, kalo ternyata selingkuhan Yuta itu adalah salah satu bos yang bekerja sama dengan kita. Bisa dikatakan dia adalah investor terbesar di perusahaan kita, Langit," ucap Nana terlihat sedikit bersedih.
Langit mengerutkan kening, lalu ia pun mengingat kembali wajah pria itu. "Investor terbesar, kenapa Langit nggak tahu, Ma?" tanya Langit tidak percaya. Karena menurut Langit, dia sangat tahu dan kenal siapa-siapa saja yang berinvestasi pada perusahaannya.
"Kata papa, mungkin ini memang rencana dia dan Yuta untuk menjadikan uang itu sebagai senjata, kalo-kalo perselingkuhan mereke terendus." Nana menghela napas dalam-dalam. Seperti menyesali apa yang telah terjadi. Sedangkan Langit terlihat mengotak atik laptopnya. Mencari tahu kebenaran tentang kabar yang ia terima hari ini.
Langit menatap tajam ke arah nama daftar investor yang telah berinvestasi di dalam perusahaannya. Nama pria itu memang terdaftar. Namun, dia tidak pernah menampakkan batang hidungnya ketika rapat atau pertemuan-pertemuan penting. Yang selalu datang salah satu orang kepercayaannya. Atau lebih tepatnya kaki tangannya.
__ADS_1
"Mama benar, nama pria itu terdaftar sebagai salah satu investor, tapi dia belum pernah menampakan wajahnya, Ma. Makanya Langit belum nggak tahu," jawab Langit jujur.
"Yuta dan selingkuhannya itu jahat sekali, Langit. Memangnya kita punya salah apa? Padahal dia punya putri yang seharusnya dia jaga. Yuta bener-bener keterlaluan." Nana menatap nanar ke arah jendela. Hatinya serasa teriris. Yuta sungguh tega kepada keluarga yang telah menerimanya dengan kasih sayang.
"Langit sendiri juga nggak habis pikir dengan pemikiran wanita murahan itu, Ma. Sampai harus pura-pura sakit hanya untuk menutupi perselingkuhannya. Pura-pura sakit hanya untuk merongrong harta kita. Dia benar-benar ular," ucap Langit geram.
"Mama rasa, papa benar. Bahwa Yuta memang merencanakan ini jauh-jauh hari. Bahkan dia meminta kekasihnya untuk menyusup dalam perusahaan kita. Dan inilah saatnya mereka mengendalikan kita, agar kasus mereka tidak kita proses, Langit. Papa mu sedang pusing memikirkan ini Langit. Mama sendiri juga nggak ngerti harus berbuat apa?" ucap Nana khawatir.
Langit menatap bingung pada sang ibunda. Bagaimana tidak? Ternyata Yuta dan selingkuhannya ternyata telah memperhitungkan keadaan ini dengan sangat matang.
"Mereka memang brengsek, Ma. Mama nggak usah takut, Langit akan berusaha keras untuk mengembalikan keadaan perusahaan seperti sedia kala. Kita lihat saja, mau sejauh mana mereka menginjak kita," ucap Langit yakin. Langit telah berniat dan mengambil keputusan. Maka dia tidak akan mundur.
"Mama percaya padamu, Langit. Tapi kamu mau cari uang ke mana sebanyak itu?" tanya Nana takut.
"Bagaimana kalo Yuta meminta harta gono gini?" tanya Nana mengantisipasi.
"Aku dan Yuta memiliki Ara, Ma. Akan ku pastikan semua harta kami jatuh ke tangan Ara, agar dia nggak mampu mengusik itu. Yang terpenting adalah, hak asuh Ara harus jatuh ke tangan kita," jawab Langit mantap.
Nana hanya diam dan berdoa, semoga apa yang Langit inginkan terkabul. Mengingat begitu liciknya Yuta mempermainkan mereka.
Di sela-sela obrolan serius mereka, tiba-tiba Langit mengingat istri mudanya. Mau bagaimanapun Langit tak ingin melepaskan tanggung jawabnya terhadap wanita itu. Terlebih saat ini ia memiliki dosa yang sangat besar terhadap wanita itu.
__ADS_1
"Bolehkah Langit menemui Ria, Ma?" tanya Langit berusaha memberanikan diri mengutarakan maksud hatinya.
"Tentu saja boleh, tapi kalau dia nggak mau gimana?" Nana menatap mata sang putra.
"Dia mau balik atau nggak itu hak dia, Ma." Langit membalas tatapan itu.
"Mama mohon, jangan paksa dia. Dia sudah sangat menderita karenamu, dia sudah banyak tertekan oleh keluarga kita. Harusnya Mama nggak paksa dia menikah denganmu hanya karena hutang yang tak seberapa. Mama sendiri merasa sangat bersalah Langit. Karena memaksanya menikah denganmu dengan cara yang salah," jawab Nana, sedih.
"Coba nanti Langit bicara dengan Ria, Ma. Yang penting izinkan Langit ketemu dulu dengan dia dulu. Langit yakin, dia sangat menyayangi Ara tanpa pamrih, Ma. Pasti Ria mau pulang," tambah Langit yakin.
Nana mencoba yakin dan percaya bahwa Langit pasti bisa mencari jalan keluar untuk masalah-masalah yang kini sedang membelenggu mereka. Sejatinya Nana sangat yakin jika putranya ini sangat cerdas dan memiliki keteguhan hati yang tegas. Seperti namanya.
***
Di sisi lain, Yuta tertawa karena ternyata Langit dan keluarganya tak bisa membaca apa yang selama ini telah Vicky rencanakan terhadap perusahaan Langit.
Yuta tidak marah, karena rencana yang tidak ia ketahui sebelumnya itu, nyatanya sangat menguntungkannya. Yuta merasa sangat beruntung memiliki kekasih secerdas Vicky. Karena diam-diam, pria itu telah membuatnya bangga.
Bersambung..
Yuk kepoin karya temen aku.. SEMOGA SUKAK... makasih atas like vote n komennya ya...
__ADS_1