
Kedatangan Lando di rumah Karen ternyata tidak sia-sia, sebab di sana telah terjadi keributan.
Ibu tiri dan juga adik tiri Karen tidak terima dengan apa yang telah Karen perbuat. Mereka marah, karena menurut mereka Karen telah berbuat curang.
"Siapa yang memulai di sini?" tantang wanita itu berani.
"Kamu, Kak, kamu... kamu nggak tahu apa-apa soal bisnis, Papa. Yang kamu besarin hanya kecurigaan terhadap kami. Kamu terlalu picik untuk melihat kebenaran. Papa bangkrut bukan karena mama yang merebut harta papa. Tapi papa yang hobi mau judi!" teriak Salsa, yang tak lain adalah adik tiri Karen.
Karen mencebikkan bibirnya kesal. Sebab ia tak percaya bahwa apa yang mereka katakan adalah benar.
"Aku bukan membela penuh mama, tapi ingat, Kak, siapa yang merawat kakak dari kecil ha? Siapa yang nyekolahin, Kakak. Kakak pikir Papa tahu biaya sekolah Kakak, ha. Demi nyekolahin Kakak, mama rela menjual semua perhiasannya. Asal Kakak tahu itu, silakan Kakak pikir, siapa yang bejat di sini, mamaku atau papamu?" Salsa tak mampu lagi menahan emosi yang selama ini ia pendam demi menjaga agar jangan sampai ada keributan antara ibu dan juga kakak tirinya itu.
Karen diam, namun dalam otaknya dia berpikir bahwa ia tak mau mengalah dengan mereka berdua yang menurutnya memang hendak mengguasai harta peninggalan kedua orang tuanya.
"Sekarang aku tanya, kakak senang udah ngerusak bisnis mama? Kakak senang udah merobohkan mata pencaharian kami? Heh, ternyata Karenina hanya punya mental seorang pecundang." Salsa melirik meremehkan pada sang kakak.
"Jaga mulut kamu ya!" Karen menatap marah pada Salsa.
"Apa? Kakak mau apa, ha? Mau marah sama Salsa? Mau ngamuk! Dasar wanita ular. Kamu pikir kami nggak tahu rencana busukmu. Kamu pikir kami nggak tahu kamu pura-pura mati di Italia demi kembali dan mencoba membalas dendam pada kami. Ayolah kakak sayang, jangan jadi orang bodoh yang sok pintar. Yang punya masalah denganmu hanya pria bangsat dan keluarganya. Bukan kami. Asal kamu tahu ya, demi menutupi aibmu, mama rela bungkam di depan papa. Mama selalu bilang tidak tahu tentangmu sama papa, bahkan sampai papa mengembuskan napas terakhirnya," jawab Salsa, penuh amarah dan emosi yang menghebu.
__ADS_1
Perang mulut masih terjadi, namun Lando hanya diam. Tetap mendengarkan semua yang dilontarkan dia bersaudara tersebut.
Di sana, Lando bisa mengartikan bahwa kakak beradik itu sedang dalam kesalahpahaman yang sebenarnya bisa di selesaikan dengan baik-baik. Tidak perlu beradu argumen seperti itu.
Jelas sudah bahwa Karen lah di sini yang salah paham dengan kebaikan ibu dan juga adik tirinya. Namun, wanita itu selalu menyangkal kebenaran tentang itu. Membuat Lando sedikit kesal dan ingin masuk saja ke dalam saja dan menjelaskan pada Karen untuk menerima apa yang sebenarnya terjadi.
Tak hanya fakta tersebut yang Lando dapatkan. Di sela-sela pertengkaran adik dan kakak itu juga, Karen juga mengatakan bahwa dia memang memang sengaja merebut seluruh karyawan ibu tirinya untuk balas dendam. Tanpa terkecuali model andalan mereka. Yaitu Lando.
Ya, Karen dengan terang-terangan membahas namanya. Bahkan dia dengan jelas mengatakan bahwa telah berhasil meluluhkan hati Lando. Lando memang target utamanya dan Karen merasa sangat senang.
Tentu saja, kenyataan ini sukses membuat seorang Lando naik pitam. Ia pun berjanji akan membalas dendam pada Karen karena berani mempermainkan perasannya.
Di lain pihak, Vico telah berhasil menemukan tempat di mana Riana dan bayinya berada. Ia pun segera meminta anak buahnya untuk mengantarkannya ke tempat kerja wanita tersebut.
Tentu saja, Vico ingin Menyusup ke dalam kehidupan Riana dan sang putri untuk merebut hati mereka melalui bisnis.
Vico bukan hanya berniat memiliki bayinya, namun ia juga berniat memiliki pengasuhnya sekali. Bahkan ia tidak peduli, bahwa pada kenyataannya Riana telah memiliki suami.
"Habisi saja suami wanita itu, dia sudah terlanjur membuat ku terpesona dengan kecantikannya!" ucap Vico memerintahkan.
__ADS_1
Anak buah Vico terlihat berpikir, sebelum ia menyetujui permintaan jahat tersebut.
"Kenapa kalian diam? Bukankah aku mau kalian bertindak sekarang?" tanya Vico kesal.
"Maafkan kami, Tuan. Mereka sudah kembali ke Indonesia," jawab pria bertubuh kekar itu.
"Apa?" Vico menatap anak buahnya yang bodoh itu.
"Maaf, Tuan. Kami pikir tugas kami sudah selesai," ucap pria itu.
"Kalian gila? Bagaimana kalian bisa berpikir demikian? Cepat cari alamat mereka. Aku mau wanita itu, titik!" teriak Vico kesal.
Tak ayal, keempat anak buahnya itu pun langsung lari tunggang Langgang. Vico terlihat sangat mengerikan jika marah.
Tentu saja Vico marah, tujuan sudah di gengaman, tetapi karena kebodohan mereka, sang target kembali lepas.
Vico terpaksa mengulang lagi dari awal. Dan ini sangat-sangat menjengkelakan.
Bersambung...
__ADS_1