
Keesokan harinya, Langit hendak berjalan ke meja makan. Tak sengaja ia berpas-pasan dengan Minah yang saat itu sedang menggendong baby Ara. Dengan penuh kesopanan, Minah pun menyapa sang majikan.
"Pagi, Den!" sapa Minah, ramah seperti biasa.
"Pagi, Bi Minah!" jawab Langit, sembari meminta Ara dari gendongan Minah.
Ara yang terlihat merindukan sang ayah tentu saja langsung girang. Dipeluknya pria yang selama ini menyayanginya itu. Lalu setelah memeluk sang ayah, tiba-tiba saja Ara menanyakan seseorang yang sama sekali tidak Langit sangka.
"Pi, ma iya?" celoteh Ara, menanyakan Riana pada sang ayah. Mungkin baby cantik ini pikir bahwa dia tahu di mana wanita yang ia rindukan.
"Emm, Mama Ria ya. Mama Ria ... Mama Ria sedang kerja, Sayang. Nanti kita jemput ya," jawab Langit sambil mencium pipi Ara yang menggemaskan. Pria tampan ini tetap berusaha tersenyum meskipun hatinya merasa perih. Entahlah, tiba-tiba saja, Langit merasa sangat jahat. Seperti sedang memisahkan seorang ada dari ibunya.
Langit juga tidak menyangkan, bahwa Ara yang ia pikir tidak akan menanyakan wanita itu, ternyata hati dan pikiran gadis cilik ini telah terpatri nama wanita itu. Bagaimana ini? Bagaimana jika Ara terus menanyakan Riana. Sedangkan dia sendiri tak tahu di mana wanita itu berada.
Tak berapa lama, bocah cantik ini terlihat menguap. Sepertinya ia mendapatkan kenyamanan ketika berada di dalam dekapan sang ayah.
"Bi, Bibi tahu nggak Ria pergi ke mana?" tanya Langit ketika Ara mulai terlelap.
"Maaf, Den. Mbak Ria nggak ada bilang apa-apa tu sama saya. Mungkin nyonya sama tuan besar tahu, Den," jawab Minah jujur.
__ADS_1
"Oh, oke. Emmm ... Bi, apakah kamu tahu nomer ponsel, Ria?" tanya Langit lagi.
"Kan ponsel Mbak Ria, Aden banting waktu itu, rusak kan. Eh!" jawab Minah gugup. Meskipun Minah memiliki sedikit rasa kesal pada Langit. Namun, tetap saja Langit adalah majikannya yang wajib dia hormati.
Mendengar jawaban Minah, Langit semakin merasa sangat-sangat bersalah. Bagaimana tidak? Sebagai seorang suami, dia bukannya mencukupi, tetapi malah menghancurkan barang-barang pribadi milik sang istri.
"Apakah dia pernah mengeluh dengan perlakuan kasarku, Bi?" Langit melirik sendu pada Minah. Sepertinya saat ini Langit sedang memendam sebuah rasa berat di dalam hatinya.
"Tidak, Den! mbak Ria nggak pernah cerita apa-apa sama saya. Saya juga takut mau nanya-nanya. Kalo soal Non Yuta saya banyak tahu malahan," jawab Minah, spontan. Sepertinya ia tidak menyadari bahwa apa yang ia ucapkan malah memancing keingintahuan Langit.
"Kamu bilang apa tadi, Bi? Yuta? Bibi tahu banyak tahu tentang Yuta! Tapi Bibi diam saja. Wah, konspirasi ini, " ucap Langit sedikit kesal pada Minah. Sangking kesalnya, Langit pun menatap kesal pada wanita yang sudah sepuluh tahun ini bekerja pada Keluarganya.
"Maaf, Den. Habis Minah juga takut. Gimana kalo non Yuta ngapa-ngapain Minah? Gimana kalo non Yuta nyakitin anak-anak Minah. Kan yang penting sekarang aden sudah tahu toh. Jadi tolong maapkan Minah ya, Den," jawab Minah sedikit takut.
"Oke, kali ini aku memaafkanmu. Tapi kamu harus menceritakan semua yang kamu ketahui perihal wanita itu. Bagaiamana?" pinta Langit sedikit mendesak.
Minah terlihat ragu, sebab Nana dan juga Dayat yang baru datang langsung ikut mentapnya.
"Kamu nggak usah takut sama mama papa, Bi. Mereka nggak akan menyalahkanmu," ucap Langit, berusaha membuat tenang Minah. Padahal dia juga tak bisa berjanji kalau kedua orang tuanya tak akan menyalahkan Minah.
__ADS_1
"Maaf, Den. Sebenarnya Minah curiganya juga belum lama. Pas dari rumah sakit itu, Minah menemukan banyak sekian obat di dalam bantal Non Yuta. Saya hanya merasa aneh saja, kenapa Non Yuta nggak meminum obat-obatnya? Awalnya seperti itu, Den!" jawab Minah jujur.
Nana dan Dayat saling menatap. Sekali lagi mereka heran dengan kenyataan yang saat ini menampar mereka. Sungguh, jika ditanya, maka ini adalah kenyataan paling membingungkan sekaligus menyakitkan untuk mereka. Terlebih untuk Langit sendiri.
***
Di sisi lain, Yuta meronta dan mengamuk di sel tahanan. Ia tak terima diperlakukan seperti ini oleh Langit. Menurutnya wanita yang memberinya satu putri itu sangat keterlaluan.
Bukankah semua bisa dibicarakan dengan baik. Lalu kenapa dia harus di hukum yang menurutnya hukuman ini hanya pantas diberikan kepada binatang. Bukan dirinya yang merasa terhormat.
Tak terima dengan apa yang Langit lakukan padanya, Yuta pun segera menghubungi sang kakak untuk membelanya. Menangguhkan penahanannya.
"Awas saja kau, Langit! Aku akan menghancurkan hidupmu sampai kamu berlutut dan memohon ampun padaku!" ancam Yuta penuh amarah.
Tak kehilangan akal, Yuta pun ingin mengusik bisnis Langit. Ia ingin membuat pria itu dan keluarganya jatuh miskin. Setidaknya menurut Yuta itu adalah balasan terbaik untuk membuat Langit tak bisa berkutik lagi. Ia pun berencana meminta sang kakak untuk mengarahkan orang-orang kepercayaan mereka untuk menyusup ke dalam perusahaan milik keluarga Langit.
Bersambung...
Makasiih atas like kome dan Vote nya...
__ADS_1
Yuk kepoin karya temanku.. 🥰🥰🥰