Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Menanti Sebuah Jawaban


__ADS_3

"Sini, Bang! Aku kenalin temen aku," ajak Lando.


Langit tersenyum. Mencoba menyembunyikan kecurigaannya terhadap wanita yang kini telah tersenyum manis kepadanya.


"Sini, sini!" Lando meminta Langit untuk mendekat kepada dirinya.


"Ren, kenalin ini abang ipar aku. Namanya Langit. Bang Ini temen Lando namanya Karen," ucap Lando.


Langit mencoba tersenyum, begitupun dengan Karen. Mereka berdua masih berusaha meredam kecurigaan mereka masing-masing. Agar Lando tidak curiga tentunya.


Setelah mereka Selesai berkenalan dan berjabat tangan, Lando pun kembali membuka suaranya. Bermaksud menyampaikan maksud dan tujuan nya mengundang Karen ke rumahnya.


"Sorry, Ren. Sebenarnya aku ngundang kamu ke sini karena kami, aku dan abangku butuh info dari kamu. Barang kali kamu tahu tentang seseorang yang sedang kami curigai," ucap Lando jujur.


"Oh, boleh. Kalo aku bisa bantu, kenapa enggak!" jawab Karen, spontan. Meskipun sebenarnya dia sedikit sangsi dengan permintaan ini. Ya, feeling Karen mengatakan bahwa kasus yang sekarang sedang dibicarakan oleh Lando dan abang iparnya ini, seperti berkaitan dengan dirinya.


"Oke, kamu ingget nggak Ren, waktu kita pemotretan di Bali. Ada satu cewek yang tiba-tiba dateng, terus ngajakin kamu ribut?" tanya Lando.


Karen diam namun sepertinya ia tidak ingat. Terpaksa Lando pun mengingatkan kembali waktu itu.


"Itu loh, Ren, yang waktu kita lagi break, yang kamu lagi mesenin makan buat kru. Terus nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba ada cewek jambak kamu, katanya kamu ngrebut pacar dia. Ingget nggak?" Lando menatap Karen, berharap wanita itu segera ingat dengan kejadian itu.


"Ohhhh, yang itu. Dia ma salah sangka, bukan aku yang berhubungan dengan pacar dia. Tapi kembaran aku," jawab Karen, entah ini jujur atau tidak, yang jelas Karen sangat percaya diri ketika menjawab demikian.

__ADS_1


Langit hanya diam dan mendengarkan. Namun, di dalam kediaman tersebut, Langit tetap merasa curiga pada wanita yang diincar oleh sang adik ipar.


"Oh jadi kamu punya sodara kembar?" tanya Lando, penasaran.


"Ya," jawab Karen sekilas. Bermaksud agar Lando tidak bertanya lagi perihal itu.


"Ohhh, tapi kamu ingat kan siapa wanita itu. Kamu kenal kan?" Lando menatap penuh harap pada wanita ini.


"Tentu saja, dulu aku dan dia berkawan baik. Lalu ya, namanya pertemanan, pasti ada naik turunnya. Ada apa sih? Kayaknya penting banget?" kali ini malah Karena yang penasaran. Baginya Lando terlalu lama membuka apa yang sebenarnya ia inginkan. Membuat Karen tak sabar.


"Bang, gimana?" tanya Lando membintangi persetujuan.


"Buka saya, Lan. Nggak apa-apa. Toh kita mau cari kebenaran," jawab Langit, serius.


"Ya!" Karen menatap Lando. Lagi-lagi, dengan tatapan tak sabar.


"Jadi gini, Ren... " Lando pun menceritakan duduk permasalahan yang saat ini sedang di hadapi oleh abang iparnya. Barang kali dengan menghadirkan Karen di tempat ini, titik terang itu segera di ketemukan. Sebab jika hanya mengandalkan keterangan wanita itu, kemungkinan besar pasti dia tidak akan dengan mudah mau membuka siapa yang telah menyuruhnya.


"Mana fotonya?" tanya Karen.


Langit segera mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada Karen.


Karen menerima ponsel tersebut, lalu ia pun meneliti dengan seksama foto-foto tersebut.

__ADS_1


Karen terlihat diam, namun wajah keterkejutannya sungguh tidak dapat ia sembunyikan. Karen terlihat gugup. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Menduga-duga sesuatu.


"Maaf, Bang, bisa saya tahu orang yang mengajak Abang ketemuan, barang kali saya juga kenal!" pinta Karen, kali ini Karen terlihat tidak peduli dengan siapa dirinya yang sebenarnya.


Baginya yang ia pikirkan saat ini adalah keselamatan bayinya. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Riana, alhasil, semua yang telah ia coba sembunyikan pasti akan hilang musnah. Karen sangat hafal bagaimana gilanya seorang Vico.


Langit mengeluarkan ponsel yang telah ia ambil paksa dari pemiliknya. Lalu, ia kembali menyerahkan ponsel tersebut pada Karen.


Karen pun menerima ponsel itu. Wanita ini kembali terkejut. Namun, ia tetap kembali menunjukkan sikap biasa-biasa saja. Seakan tidak terjadi apa-apa. Namun, jika boleh jujur saat ini ia sedang mengucapkan sumpah serapahnya pada seseorang.


"Abang yakin ini adalah salah satu dari mereka?" tanya Karen, memastikan.


"Iya, itu adalah foto salah satu dari mereka," jawab Langit, jujur.


Jederrr ....


Sungguh, jawaban Langit seperti petir yang menyambar bumi. Perasaan Karen terasa tertusuk. Rasanya enggan sekali menjelaskan. Namun kenyataan ini, masalah ini harus segera terselesaikan.


Karen tak bisa diam saja, sebab kediamannya pasti akan mengundang polemik yang lebih besar.


Kalaupun ia tidak bisa membahasnya di depan Lando, setidaknya setelah ini ia harus mengajak Langit bertemu dan mendiskusikan masalah ini dengan serius.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2