Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Keinginan Hati


__ADS_3

"Kalo elu percaya ama gue, oke! Gue akan coba bantu kelola. Lu juga bantu doa ya. Oiya, kalo elu nggak keberatan, boleh nggak gue ajak seseorang buat bantu gue di sini?" tanya Langit mencoba menawarkan si master bisnis dalam hidupnya, yang tak lain adalah kedua orang tuanya. Sebab kemarin mereka berpikir ingin membuka sebuah kedai martabak. Tapi belum memiliki tempat.


"Siapa itu?" tanya Azam.


"Bokap gue," jawab Langit, sambil melirik Azam. Meminta pertimbangan.


"Wehhhh, mantap! Mimpi apa gue bisa bekerja sama sama masternya kuliner. Ayok lah! Kapan lagi ketemu suhu, ye kan?" jawab Azam dengan candaan seperti biasa. Tak lupa dia juga memberikan dua jempol sebagai tanda suka dan menyetujui ide sang sahabat.


"Sebenarnya bukan gue nggak PeDe, Bro. Tapi gue rasa, bokap lebih cocok menerima tawaran ini. Kalo gue bagian teknisi saja. Bokap bagian menu! Lu tahu kan bokap nyokap suka kulineran. Ntar gue yang bagian masarin secara online. Gue tim di balik layar paling, Bro," jawab Langit, menyadari kemampuannya dalam olah menu kurang bagus. Tapi dia siap menjadi manusia yang ada di balik layar, untuk memasarkan produk yang hendak ia jual.


"Okelah, gimana baiknya kalian aja? Gue tim pusing sebenarnya kelola ni resto. Lu kan tahu gue jarang di Indo. Gue lebih suka main keramik di banding main daging, ikan, dan sejenisnya. Enakan di keramik," jawab Azam, terkekeh. Sedangkan Langit hanya tersenyum. Tetapi di balik senyuman itu, dia mulai memikirkan konsep terbaik untuk tempat kerja barunya ini.


Beberapa menit berlalu, makanan yang mereka pesan pun datang. Dengan sopan, Azam pun mengajak sang sahabat menyantap hidangan yang tersedia di meja mereka.


"Bro, makan dulu yo!" ajak Azam.


"Oke, mari!" jawab Langit santai. Kemudian, mereka pun mulai menyantap hidangan yang tersedia.


Di sela-sela acara makan mereka, Azam kembali menanyakan perihal pemilik barang yang telah ia serahkan kepada Langit.


"Bro, gue serius soal pemilik barang-barang yang gue kasih ke elu. Sebenarnya kemarin gue mau nanya, cuma elu keburu mesti balik kerja. Lu keberatan nggak kalo gue nanya soal dia?" tanya Azam tiba-tiba.


Mendengar seseorang mengungkit perihal sang istri, Langit merasa sedikit kurang nyaman. Sebab dia sendiri masih takut membuka barang-barang tersebut. Langit hanya berani mengambil foto pernikahan mereka dan menyematkan foto tersebut di dompet pribadi miliknya.


"Lu kenal sama dia, Bro?" tanya Azam kali ini dia serius. Karena dia memang berniat mengenal Riana untuk sebuah bisnis.

__ADS_1


"Ya!" Langit mentap kosong makanan yang ada di depan matanya.


Namun ingatannya langsung tertuju pada selembar foto yang hampir setiap ia pandang ketika sedang istirahat atau lagi sendiri. Sebab, foto itu telah meninggalkan segores luka di hatinya. Foto itu telah memberinya cerita yang tidak semua orang mau memahami inginnya. Foto itu juga pernah memberinya kebahagiaan. Meskipun berakhir menyakitkan. Sebab Langit baru menyadari kebahagiaan itu ada, di saat Riana telah meningalkannya. Meninggalkan sepenggal kisah yang belum usai.


"Bener dia bini lu?" tanya Azam penasaran.


"Ya," jawab Langit singkat. Karena jujur, dia masih sibuk mengatur gejolak yang ada di jiwanya. Sedih saja, kenapa yang pulang hanya barangnya. Kenapa tidak orangnya? Langit menginginkan pemilik barang ini. Ya, Langit menginginkan Riana pulang.


"Ohhh, di mana dia sekarang?" Azam semakin penasaran, namun antusias.


"Gue nggak tahu."


"Kok bisa nggak tahu? Kan dia bini elu. Gimana sih?" Azam mulai merasakan keanehan di sini.


Entahlah, Langit hanya tak ingin sahabatnya ini bertanya lebih jauh perihal Riana. Karena dia sendiri tak punya jawaban untuk menjelaskan bagaimana kejelasan hubungan antara dia dengan Riana.


Jujur, Azam kaget dengan keputusan mendadak itu. Tetapi ia tak hilang akal. Dengan cepat dia pun menghadang Langit dan meminta sahabatnya itu untuk kembali duduk bersamanya.


"Tunggu Lang, tunggu! Duduk dulu, duduk!" pinta Azam, memperlembut suaranya. Agar Langit mau menurunkan sedikit egonya. Agar Langit mau menceritakan duduk permasalahan yang kini sedang ia hadapi. Karena Azam tahu, jika saat ini, Langit bukan hanya butuh solusi, tetapi juga butuh seseorang yang bisa mengerti akan dirinya.


Langit kembali duduk di tempat yang sama. Lalu Azam pun kembali bertanya, "You oke, Lang?"


"Ya!" Langit masih belum mau terbuka dengan keresahan yang tersimpan rapi di dalam hatinya.


"No, Lang. Gue rasa lu nggak baik-baik aja. Oke... kalo lu nggak mau cerita ke gue sekarang, nggak pa-pa. Tapi please.... lu jangan nolak proyek kita ini. Sakit hati gue ngelihat elu kerja begitu, Lang," ucap Azam mulai mengekspresikan rasa empati yang ia punya untuk sang sahabat.

__ADS_1


"Gue tahu, lu cuma kasihan kan ama gue!" ucap Langit mulai salah paham.


"Gue bukan kasihan ama elu, Lang. Gue sedih ngebayangin kehidupan nyokap bokap elu, anak elu. Lu tahu nggak Lang, kalo anak elu butuh susu, popok, bukan cuma makan. Bukan gue ngremehin mereka bukan. Tapi ini realita yang mesti elu pikirin," jawab Azam, mencoba mengajak Langit berpikir realistis.


Langit diam sesaat, tapi dia berusaha memahami itu. Ia tak menyalahkan pemikiran itu, tetapi malah timbul sebuah pertanyaan perihal setiap kebutuhan Ara. Dari mana mereka mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan Ara. Sedangkan dia jarang memberi uang kepada mamanya.


"Kenapa, Lang? Ada yang elu pikirin?" tanya Azam.


"Ah, nggak. Gue baik-baik saja," jawab Langit singkat. Kembali pikiran pria ini berselancar tentang Ara. Sepertinya, ia harus menanyakan ini pada mereka. Sebab jujur, ia takut Ara memakan uang haram. Ia takut itu jadi sesuatu yang tidak baik untuk putrinya nanti.


"Sorry, Lang. Sorry banget!" ucap Azam.


"Nggak Zam, seharusnya gue yang say sorry ama elu. Jujur, otak gue mau meledak rasanya jika ingat perjalanan hidup gue perihal wanita. Mereka bener-bener bikin sesek, Zam. Yang satu gila harta. Yang satu cengeng, diapain dikit aja udah kabur," jawab Langit kesal.


Sebenarnya Azam ingin tertawa. Namun takut Langit tersinggung.


"Santai Lang, kalo elu butuh seseorang buat dengerin curhatan elu, gue siap kok. Tenang aja!" balas Azam.


"Ngomong-ngomong thank ya, lu udah mau bantu gue." Langit melirik sekilas pada sang sahabat.


"Siap, Lang. Pokoknya kalo lu ada apa-apa, hubungi gue aja."


Langit memaksakan bibirnya tersenyum. Padahal hatinya serasa perih. Apa lagi ucapan Azam berhasil menusuk relung hatinya. Perihal kedua orang tuanya, perihal Ara dan perihal Riana. Entahlah, Langit merasa sangat bersalah terhadap mereka semua.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2