Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Sebuah Harga Diri


__ADS_3

Ketegasan Langit bukan isapan jempol belaka. Pria ini benar-benar tidak mau menemui wanita yang telah menghancurkan kepercayaannya itu. Dan kedua orang tuanya pun tak berani memaksa. Sekalipun hanya untuk memesankan taksi untuk mereka.


"Sudah, Ma. Jangan dipaksa! Biarkan saja. Langit juga punya hak untuk memilih. Yuta memang keterlaluan. Kalo Papa di posisi Langit pun, Papa enggan bertemu wanita itu lagi. Berhubung dia ini adalah anak sahabat, Papa, mau nggak mau Papa mencarinya. Terlebih, dalam pikiran anak itu ada kesalahpahaman yang mesti kita luruskan," ucap Pak Dayat mencoba menjadi penengah antara sang istri dengan putra semata wayang mereka.


"Papa benar, tapi Mama cuma mau anak kita jangan jadi pendendam, Pa. Malu sama Riana. Riana itu begitu baik, sampai sama kita pun, yang pernah sakiti dia, yang pernah tindas dia, dia sama sekali nggak dendam sama kita. Mama mau Langit itu seperti itu. Belajar dari istrinya," balas Nana.


"Ma, kita nggak bisa menyamaratakan pikiran orang. Semua punya pemikiran Sendiri-sendiri. Baik itu Riana ataupun Langit. Biarkan saja, biarkan mereka dewasa dengan prosesnya masing-masing. Dah yuk ah, Ma. Kita jalan. Sebelum matahari bertambah naik dan panas!" ajak Pak Dayat.


Nana tak menolak ajakan itu, ia pun mengikuti langkah sang suami untuk pergi ke alamat yang tertera di dalam surat permohonan cerai. Yang mereka dapatkan dari pengacara Langit.


Ketakutan akan sikap Langit yang kekeh dan teguh itu, sedikit membuat membuat kedua orang tuanya ketar ketir. Mereka takut, jika ketegasan itu juga akan digunakan untuk menghadapi Riana.


Padahal, jika diingat, Riana sangatlah berjasa pada kehidupan mereka. Ketika mereka benar-benar terpuruk.


"Ma!"


"Ya, Pa. Kenapa?" Nana menatap sang suami.


"Coba Mama sekali-kali singgung pasal Riana ke Langit. Papa penasaran, pengen tahu apa yang ada dipikiran putra kita soal istrinya itu!" pinta Pak Dayat.


"Coba besok kalo lagi ada waktu, Mama coba ajak grobrol, Pa. Mama juga penasaran, Kira-kira dia marah nggak kalo tahu, istrinya itu kasih uang anaknya banyak banget. Kira-kira dia marah nggak ya, Pa?" Nana menatap khawatir pada sang suami.


"Nggak tahu, Ma. Takutnya dia kesel dan minta uangnya kita kembaliin."

__ADS_1


"Duh, matilah jika begitu. Kan kita nggak tahu di mana Ria. Udah gitu, sekarang nomernya udah nggak bisa dihubungi," ucap Ibu Nana.


"Kok bisa?" Pak Dayat menatap aneh pada sang istri.


"Entahlah, Pa. Mama juga nggak tahu!" jawab Nana jujur. Sebab ia juga tahu, bahwa dia sama sekali tidak mengerti kenapa nomer hape milik Riana tidak lagi bisa ia hubungi.


Hampir tiga puluh menit mereka berada di dalam taksi. Pak Dayat pun membuka pesan tersebut. Pak Dayat mengerutkan kening setelah membaca pesan tersebut.


Pesan tersebut berasal dari pengacara Langit, yang mengatakan bahwa Yuta sudah tidak lagi tinggal di apartemen itu. Dia juga mengatakan bahwa Yuta saat ini sedang jadi buronan polisi karena tersandung kasus penipuan.


"Astaghfirullah.... kenapa lagi ni anak, Ma?" tanya Pak Dayat pada sang istri.


"Ya Allah, ini serius, Pa?" tanya Nana tak percaya.


"Sepertinya ini berita beneran, Ma. Yang ngreporin ini, Papa tahu orangnya. Dia bos kelapa sawit dari Kalimantan, Ma. Kok bisa ya Yuta kenal orang ini?" Pak Dayat heran. Sebab ia merasa kasus ini janggal.


"Langit pasti di resto, Ma. Kita temuan saja dia di sana. Bukan apa, Ma. Papa cuma takut, putra kita terseret. Sebab Langit kasih sah suami Yuta, meskipun saat ini merek sedang dalam proses cerai," ucap Pak Dayat khawatir.


"Papa benar, sebaiknya kita temui Langit, Pa. Dan kita tanya gimana pendapat dia tentang kasus ini."


Tak ada perbincangan lagi, Nana dan Dayat sepakat menemui Langit di resto. Tentu saja mereka ingin tahu pendapat Langit atas kasus yang menjerat Yuta.


Sesampainya di restoran, ternyata Langit sangat sibuk. Sehingga pasutri tersebut mengurungkan niat mereka untuk mengajak Langit berbicara perihal masalah penting ini menurut mereka.

__ADS_1


Namun, mereka takut. Takut jika sang putra terganggu. Untuk mengisi waktu


Nana pun memilih melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Yaitu merekap hasil pendapatan resto hari ini.


Sesekali wanita paruh baya ini memerhatikan sang putra. Langit


terlihat begitu serius, hingga tidak memerhatikan penampilannya.


Sebagai ibu, Nana pun merasa trenyuh. Bagaimana tidak? sangking semangatnya hendak mengembalikan aset kedua orang tuanya, Langit sampai tidak memperhatikan apa yang seharusnya ia perhatikan.


Pelan, Nana pun mendekati sang putra. Berniat mengingatkan perihal yang saat ini sedang ia risaukan.


"Langit!" Bu Nana langsung duduk di samping sang putra.


"Eh, Ma. Iya ada apa?" tanya Langit, masih fokus dengan apa yang ada di depan matanya.


"Rambut kamu udah panjang. Mbok ya di potong!" pinta Nana, halus pelan dan penuh perasaan. Tentu saja ia tak ingin sang putra tersinggung.


"Ntar aja, Ma. Langit masih belum sempat," jawabnya singkat.


"Iya, Mama tahu. Tapi alangkah baiknya jika kamu juga jangan lupa memerhatikan penampilanmu. Emangnya kamu nggak ingin apa menarik lawan jenis?" tanya Nana basa basi.


Mendengar pertanyaan yang berhubungan dengan perempuan tentu saja langsung membuat Langit sedikit tersinggung.

__ADS_1


"Tolong, Ma. Sekali ini aja... tolong jangan campuri urusan Langit perihal wanita. Apa Mama nggak kasihan dengan Langit. Please Ma, tolong jangan bicarakan perihal mahluk satu itu. Langit muak ma!" jawab Langit seraya beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan Nana hanya melonggo sebab ia sadar, ia telah gagal memilih momen. Momen ini seharusnya ia manfaatkan untuk membahas Yuta dan Riana, nyatanya Langit sudah tersinggung duluan.


Bersambung...


__ADS_2