
Vico membanting laptop yang biasa ia gunakan untuk bekerja. Amarahnya meledak, ketika ia tahu harga sahamnya nyungsep dinilai terendah.
Lucunya Vico tidak menyadari bahwa apa yang terjadi di dalam perusahaannya adalah ulah mantan kekasihnya sekaligus wanita yang pernah ia sia-siakan. Bahkan wanita itu saat ini telah menyusun rencana yang lebih ekstrim untuknya. Yaitu menggiring nya ke penjara.
"Brengsek!" umpat Vico kesal.
"Maafkan kami, Bos!" ucap asisten yang biasa membantu Vico mengelola bisnisnya.
"Siapa yang berani melakukan ini pada perusahaan kita?" tanya Vico pada pria itu lagi.
Belum sempat pria itu menjawab, pintu ruangan di mana dia berada telah dibuka oleh seseorang. Tentu saja Vico dan asistennya mengalihkan perhatian mereka pada seseorang yang datang tanpa diundang itu.
"Selamat malam, Sayang. Apa kabar?" sapa seorang wanita dengan pakaian yang bisa dikatakan sangat minim. Namun terlihat cantik dan anggun.
Vico yang sangat mengenal siapa wanita itu, tentu saja tertegun, terkejut, diam, melongo tak percaya.
"Hay... apa kabar!" sapa Raras, genit.
"Ka-kamu!"
"Ya, Sayang, ini aku. Kenapa kaget? Terkejut?" Raras tersenyum meledek.
"Bu-bukankah kamu sudah mati?"
"Mati? oh... tidak sayang. Aku masih hidup dan siap untuk meruntuhkanmu dari Kerajaan yang penuh kebohongan ini," jawab Raras sengit.
"Jangan gila kamu, Ras!" ucap Vico memperingatkan.
"Gila? Aku gila? Nggak salah! Kamu menjeratku dengan cintamu. Lalu setelah aku hamil, setelah kamu berhasil, kamu membuangku ke dasar laut. Siapa sekarang yang gila? Ingat sayang, semut saja akan marah jika diinjak. Lalu bagaimana seorang manusia sepertiku, heemmm! Aku sudah tahu semua akal busukmu, Vic. Kamu kan yang membujuk ibu tiri ku dan adik tiri ku untuk melenyapkan ayahku!" Raras menatap tajam ke arah Vico. Seakan memaksa pria itu untuk mengakui setiap perbuatan bejatnya.
__ADS_1
"Gila! ya enggak lah!" jawab Vico, mengelak.
"Oh ya... lalu apa ini?" hanya Raras sembari menyerahkan sebuah rekaman pembicaraan antara ibu tiri dan adik tirinya.
"Nggak mungkin, mereka bohong, Rasa. Aku sama sekali tidak tahu menahu soal kepergian ayahmu. Kalau pun ayahmu meninggal karena di racun. Itu pasti murni ulah mereka. Aku nggak terlibat, Ras. Percayalah! " jawab Vico serius.
Namun Raras tak semudah itu percaya. Air mata pria itu baginya adalah air mata buaya.
Bukti yang Raras dapatkan dari keterlibatan atas kecurangan Vico terhadap keluarganya sudah terlalu banyak. Mana mungkin Raras bisa memaafkan itu.
"Coba kamu lihat ini!" pinta Vita seraya menunjukkan rekaman Video ketika Vico dan ibu tiri Raras berpesta. Terdengar jelas bahwa mereka membahas cara untuk melenyapkan ayah kandung Raras untuk mengambil alih seluruh harta yang di miliki wanita itu.
"Nggak, Ras.. kamu pasti salah!" Vico masih berusaha mengelak.
"Terserah kamu mau seperti apa membela diri, itu hakmu. Tapi sebaiknya kamu bisa jelaskan alibi dan pembelaanmu di kantor polisi. Sebab tim yang telah menunggumu di depan pintu itu, terlihat lelah, Sayang. Jadi silakan nikmati. Bye.... " ucap Ratas sembari melambaikan tangan manja ke arah pria yang telah sukses menghancurkan kehidupannya itu.
Vico shock. Bagaimana tidak? Bangkai yang selama ini tersimpan rapi, ternyata dengan mudah diendus oleh seorang Raras.
Vico dan keluarganya memang lintah darat. Mereka sama-sama licik. Raras luar biasa karena dia tak mudah ditipu.
Raras tersenyum bahagia. Akhirnya masalahnya selesai satu persatu. Namun, tak dipungkiri bahwa dia juga sedih. Karena lelaki yang pernah ia cintai itu ternyata bajingan kelas kakap. Sehingga membuat mata hatinya buta. Salah memilih.
"Ya Tuhan... maafkan aku!" ucap Raras dalam isak tangisnya.
Sungguh, rasanya perih sekali rasa hatinya. Seburuk apapun Vico, pria itu pernah memberinya cinta. Pernah memberinya kenyamanan.
Andai pria itu tidak licik. Mungkin Raras akan lebih mudah memaafkan.
Di lain pihak..
__ADS_1
Vico marah, meronta, mengumpat tak Terima ketika para petugas menyeretnya ke dalam mobil tahanan.
Dalam hatinya ia bersumpah akan membalas apa yang telah dilakukan Ratas padanya.
***
Jogja ...
Riana tidak tahu bahwa saat ini, di sampingnya telah berbaring seorang pria tampan, yang beberapa hari ini membuatnya kesal. Namun, tak dipungkiri bahwa pria itu juga sukses membuatnya merindu.
Riana beringsut pelan. Ingin menghindar. Namun, tangan kekar Langit seperti mengikatnya kuat. Membuat Riana harus ektra kuat berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu.
"Jangan menghindar, Mam!" ucap Langit, terdengar lembut. Namun sukses membuat bulu kuduk Riana merinding.
"Ngapain ke sini?" tanya Riana ketus.
"Kamu istriku, Ri. Tidak seharusnya kamu pergi, kalau kita ada masalah. Aku belum menjelaskan semuanya, kenapa kamu tega ninggalin aku?" balas Langit tak kesal.
"Kamu sudah tidur dengan wanita lain, lalu apa lagi yang hendak kamu jelaskan padaku. Kamu menghianati ku, Mas. Kamu yang jahat!" jawab Riana lantang.
Langit membuka matanya pelan. Masih dengan posisi yang sama. Tetap memeluk sang istri dengan kesabaran yang ia memiliki.
"Aku tidak menghianatimu, Ri. Demi Tuhan," ucap Langit tak mau kalah.
"Lalu, aku harus menyebut apa perbuatanmu?" tanya Riana.
"Ya aku akui, aku memang tidur dengan wanita itu, tapi kamu juga harus tahu alasan aku melakukan itu. Aku dijebak, Mam. Sungguh!" ucap Langit sungguh-sungguh.
Sayangnya, Riana tak semudah itu percaya. Mau bagaimanapun ia harus tetap waspada.
__ADS_1
Bersambung...