
Tak mau termakan oleh tipu daya licik Vicky, akhirnya Yuta pun memutuskan untuk menemui pria itu di rumahnya. Tentu saja, ia berniat untuk meminta penjelasan atas apa yang telah Vicky lakukan padanya.
Namun sayangnya, Yuta ditolak oleh para penjaga. Dengan alasan bos besar mereka sedang rapat dan tidak bisa diganggu.
Tak kehilangan akal, wanita bertubih kurus nan mungil ini pun menghubungi Vicky by phone.
Lagi-lagi keinginannya itu ditolak oleh Vicky. Panggilan teleponnya ditolak. Bahkan beberapa kali tidak diangkat.
Vicky benar-benar menghindarinya.
Yuta berteriak marah. Emosinya memuncak. Ancaman demi ancaman pun ia lontarkan. Sampai dia bersumpah untuk membunuh pria itu, jika sampai dia berani mengkhianatinya.
"Kita lihat, Vicky... jika kamu berani mempermainkan aku, maka akupun siap menjadikanmu mayat hidup!" ancam Yuta kesal.
Yuta tersenyum licik, lalu ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Menyusun rencana agar bisa membumi hanguskan Vicky dan komplotannya.
Beruntung, ia masih memiliki beberapa teman yang mau berpihak padanya. Mereka adalah orang-orang yang bernasib sama seperti dirinya.
Dipacari oleh Vicky, lalu dimanfaatkan. Setelah puas memanfaatkan. Harta hampir habis, lalu mereka ditinggalkan.
__ADS_1
"Brengsek! Ternyata pria itu penjahat luar dalam. Lihat aja, kalo aku nggak bisa bikin kamu dan keluargamu hancur, jangan panggil aku Lin Yuta!" ancam Yuta dengan tatapan mata siap membunuh.
Berani, ya, mulai hari ini, Yuta harus berani. Berani move on. Jangan mau diperdaya terus oleh pria itu dan keluarganya.
Namun sayang, seorang Yuta hanya menyadari dia ditipu secara finansial. Sepertinya Yuta belum menyadari, bahwa dia juga ditipu secara mental.
Yuta belum menyadari, bahwa selama ini ia dimanfaatkan oleh keluarga itu untuk merebut perusahaan milik kelurga Dayat.
Yuta juga belum menyadari bahwa cerita yang ia dengar perihal kepergian kedua orang tuanya adalah bohong. Mereka, Vicky dan kedua orang tuanya telah memanipulasi segalanya. Sehingga Yuta yang percaya, mudah mereka mainkan emosinya.
Kenyataan yang sebenarnya hanya Dayat dan kedua orang tua Yuta yang tahu. Sekarang tergantung Yuta, dia mau percaya pada siapa?
***
Dari pihak Vicky, ada kedua orang tuanya, yang ternyata adalah biang keladi dari semua akar kesalah pahaman yang menancap di hati Yuta selama ini.
"Mami bangga sama kamu, Sayang. Ternyata kita tidak sia-sia memelihara anak ular itu. Ternyata hanya modal memberinya makan saja, kita udah untung berlipat-lipat ganda," ucap Chatty yang tak lain adalah ibu kandung Vicky. Wanita yang memungut dan membesarkan Yuta.
"Untung dulu Papi nurut sama, Mami. Mungut anak itu dari sampah. Ternyata berguna juga buat kita, Mi. Ahh.. akhirnya keluarga Dayat, bikin kita hoki juga ya Mi," balas Ibas, yang tak lain adalah ayah kandung Vicky.
__ADS_1
Sedangkan Vicky hanya tersenyum. Melihat kedua orang tuanya begitu bahagia, itu adalah reward tersendiri untuknya. Akhirnya apa yang mereka cita-cita kan tercapai juga.
Merebut perusahaan Dayat dan Nana adalah tujuan hidup mereka. Dan sekarang, mereka telah berhasil. Tinggal menyingkirkan seorang yang bagi mereka hanyalah seongok lintah. Lintah yang kini tidak berguna bagi mereka. Dan harus segera disingkirkan.
"Cepat kamu bereskan wanita itu, Vicky. Dia sudah nggak beguna lagi buat kita," ucap Chatty sembari menghisap rokok elektrik yang ia pegang sejak tadi.
"Santai, Mi. Tanpa susah-susah kita menyingkirkannya, dia juga bakalan mati. Mami tahu kan tumor yang ada di otak dia. Sekarang pertumbuhannya makin pesat, Mi. Dia nurut sama Vicky untuk tidak meminum obat yang seharusnya dia minum. Kita tunggu dia ambruk aja," jawab Vicky dengan senyum liciknya.
"Jadi, bener tu anak memang sakit?" tanya Ibas.
"Masak Vicky bohong sih, Pi. Ya beneran, dia itu sakit. Cuma Vicky selalu mensugestinya, Vicky selalu bilang padanya bahwa penyakitnya itu udah mengecil. Jadi nggak perlu minum obat lagi. Dan nyatanya sukses kan, dia mampu bertahan sampai sekarang." Vicky kembali tersenyum. Sepertinya dia memang senang mempermainkan Yuta.
"Kamu memang putra terbaik, Papi. Nggak kayak kakak bodohmu itu. Nggak bisa memanfaatkan keadaan sama sekali," ucap Ibas kesal.
"Ya, mungkin abang memang cinta beneran kali, Pi, sama tu cewek. Udah kasih aja sih, kasihan juga sama abang." Vicky terlihat asik membalas pesan dari ponselnya.
"Hah, pokoknya Papi nggak suka am pacar abangmu itu. Terlalu muda dan kita nggak tahu, apakah dia selevel dengan kita atau nggak!" jawab Ibas lagi.
Vicky dan sang mami hanya mencebikkan bibir mereka. Malas saja terus mendebat pria keras kepala itu. Karena mereka yakin, mereka tak akan menang melawan pria berhati batu itu.
__ADS_1
Bersambung...
Like komen dan Vote kalian adalah hadiah terbaik untukku... makasih😘😘😘