Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Cara Licik Langit Meluluhkan Riana


__ADS_3

Di depan pintu ruang rawat sang putra, terlihat jelas, sepasang suami istri itu gelisah. Tentu saja mereka takut. Takut dengan keputusan yang akan diambil oleh Riana dan Langit.


Mereka berdua takut, jika Riana dan Langit akan memutuskan berpisah.


"Duduk, Ma. Nanti kalo Ria teriak baru kita masuk!" ajak Pak Dayat, siaga.


"Papa jangan becanda ah, Mama tegang ni," jawab Bu Nana sembari meremas khawatir kedua tangannya.


"Becanda piye to, Ma. Kan Ria cuma takut dipukul sama Langit!" jawab Pak Dayat santai.


"Ih, tahu ah!" Bu Nana merajuk.


"Sabar, Ma. Kita kudu sabar ngadepin sepasang sejoli aneh itu. Kita kudu sabar ngadepin mereka yang sedang berusaha memahami isi hati. Mama kan tahu kalo mereka saat ini sedang termakan gengsi. Biarkan saja!" ucap Pak Dayat.


"Tapi mama udah nggak sabar, Pa. Pengen segera tahu keputusan mereka!" jawab Ibu Nana gelisah.


"Sudah Ma, jangan terlalu risau, mereka sudah dewasa. Kita lihat saja nanti. Kita ikut keputusan mereka saja. Jangan bikin berat Ria. Cinta itu nggak bisa dipaksakan, Ma. Siapa tahu Ria sekarang sudah punya some one yang lain. Lagian putra kita udah nggak bisa kasih apa-apa ke mantu kita ini. Sudah Ma, jangan di bahas lagi. Biarkan mereka saja yang memutuskan!" ucap Pak Dayat, mencoba membuat sang istri mengerti keadaan mereka saat ini.


"Papa kok gitu, kok doain Ria punya yang lain!" Bu Nana terlihat kesal. Tidak terima jika sampai Ria memiliki pria yang lain.


"Ya kan Ria jauh Ma dari kita. Udah gitu dia lebih berada dari kita. Ya kemungkinan bisa saja kan, Ma. Ria memiliki yang lain. Lagian mantu kita kan berhak juga memilih. Mantu kita berhak bahagia, Ma. Kita jangan egois lah!" ucap Pak Dayat, mencoba legowo dengan keputusan terburuk yang mungkin akan mereka dengar hari ini.


"Papa benar! Tapi Mama masih berharap yang terbaik untuk hubungan mereka, Ma! Mama masih berharap, Ria mau mendampingi putra kita," jawab Bu Nana, sedikit sedih.

__ADS_1


Pak Dayat langsung merangkul sang istri. Mencoba menenangkan sang istri.


***


Di dalam ruangan itu, Langit dan Riana, mereka berdua masih membisu. Masih sama-sama berusaha mengatur gemuruh yang ada di dada mereka masing-masing. Masih saling menunggu, siapa sekiranya yang mau menurunkan ego. Untuk mau menyapa terlebih dahulu.


Sampai akhirnya, Langit memutuskan untuk mengalah terlebih dahulu. Namun, ego dan harga diri yang tinggi tetap menjadi ciri khas bapak satu anak ini. "Ke mana saja kamu?" tanya Langit, dengan nada ketus seperti biasa.


Riana menengok sekilas. Lalu ia pun menjawab, "Ria kerja," jawabnya singkat.


"Aku tahu kamu kerja! Tapi di mana? ke mana? Kerja sama siapa? Terus kamu kerjanya apaan? Harusnya kan kamu kasih tahu aku. Izin aku dulu!" cecar Langit, masih belum mau menurunkan egonya.


"Ih, serah Ria lah! Dasar pria galak!" balas Riana ikut ikutan ngegas.


"Galak? Kamu ngatain aku galak? Memangnya aku ngapain kamu kok kamu bilang aku galak? Jangan fitnah ya! atau kamu memang sengaja memancing ku, supaya aku galak. Terus papa matahin kakiku, begitu? Kamu suka seperti itu?" balas Langit masih dengan ego dan harga diri setinggi namanya itu. Ketus seakan dirinya memang benar-benar tersinggung dengan tuduhan Riana. Meskipun sebenarnya dalam hati ia tertawa. Tertawa senang karena bisa tahu sisi lain dari wanita cantik ini. Kegugupan Riana yang menurutnya sangat menggemaskan baginya.


"Aku galak? Astaga! Oke, aku memang galak, puas! Maaf... maafkan aku. Sekarang kamu maunya apa?" tanya Langit.


"Entah!" jawab Riana ketus.


"Kok entah, gimana? Oke gini aja, biar hatimu lega, karena aku pernah berbuat jahat sama kamu, sekarang... kamu boleh membalasnya, silakan! Aku akan diam. Aku janji nggak akan lari. Kau nggak akan menghindar. Aku juga nggak akan balas. Kamu boleh tampar aku, kamu boleh gigit aku bahkan kamu boleh memaksaku sama seperti aku memaksamu. Kamu bebas, aku pasrah!" ucap Langit serius.


"Nggak, Ria bukan pendendam!" jawab Riana singkat.

__ADS_1


"Bukan pendendam tapi ngambek. Bukan pendendam tapi merajuk. Tapi kabur. Istri macam apa yang ninggalin suaminya tanpa pamit!" ucap Langit tak mau kalah. Tak mau terlihat salah. Karena dia memang sengaja ingin menaklukkan Riana dengan caranya. Sepertinya Langit sangat paham bagaimana menghadapi wanita tukang merajuk itu.


"Ya kan kita nggak baikkan, gimana Ria mau pamit. Kan kita udah mutusin nggak bareng." Riana menatap kesal ke arah sang suami.


"Mutusin nggak bareng? maksudnya gimana?" Langit kembali menatao tajam pada Riana.


"Ya itu, mutusin nggak bareng," jawab Riana lirih.


Langit tersenyum licik, lalu ia pun membalas ucapan keraguan sang istri, "Memangnya aku pernah gitu, bilang kita nggak usah bareng lagi. Memangnya aku pernah gitu, nyuruh kamu pergi? Memangnya aku pernah bilang, hay wanita cengeng pergi saja sana, gitu... pernah nggak? nggak kan?" Langit masih menatap sang istri, menantang wanita tanpa gentar. Bermaksud supaya Riana semakin goyah. Semakin merasa terpojok. Agar wanita itu tak berani lagi mengulang perbuatan bodohnya. Menurut Langit.


"Ya kan masnya jahat sama Ria. Itu kan artinya sama aja, masnya suruh Ria pergi," jawab Riana tak mau kalah.


"Oh jadi, kalo suaminya lagi marah, suaminya lagi cemburu, istri boleh pergi, begitu?" Langit kembali mencuci tangannya. Agar tidak terlihat bersalah. Pria ini benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatannya agar bisa menangkap kelemahan wanita cengeng ini.


"Ya kan masnya marahnya serem. Masak Ria sampai disiksa begitu. Harusnya masnya tanya dulu baik-baik. Siapa dia? Nanti juga Ria jelasin," jawab wanita cantik ini.


"Oke, aku tahu, aku salah. Aku minta maaf. Sekarang kamu jelasin, aku mau tahu, siapa pria yang memelukmu waktu itu?" Langit kembali menatap tajam.


"Iya Ria jawab, tapi ngliatinnya jangan begitu. Nggak mau Ria," jawab Riana sambil menggeser duduknya agar menjauh dari pria arogan nan menyeramkan itu.


"Ngliatinnya jangan begitu bagaimana? Mataku memang begini. Aku nggak menyuruhmu menjauh, ayo kembali ke tempat semula. Siapa yang menyuruhmu geser-geser begitu?" jawab Langit gemas. Berusaha keras memojokkan Riana. Seakan semua yang terjadi antara mereka adalah kesalahan Riana. Seakan yang terjadi antara mereka karena kepergian Riana.


Bodohnya, Riana tidak menyadari bahwa itu hanyalah akal-akalan Langit saja. Mempermainkannya, agar Riana mau mengakui bahwa sebenarnya cinta itu ada diantara mereka.

__ADS_1


Bersambung...


Like komen n votenya selalu aku nanti. Makasih buat kalian yang selalu setia dengan karya-karya saya😍😍😍


__ADS_2