
Tak terasa, seminggu sudah Langit dan juga keluarganya hidup di kontrakan sempit. Semuanya serba terbatas. Bahkan uang untuk makan dan susu untuk Ara pun, terpaksa Nana menjual beberapa perhiasannya yang masih tersisa.
Nana semakin stres. Apa lagi melihat Pak Dayat seperti orang stres. Pria ini hanya diam saja, tak mau berbicara sedikitpun. Dia seperti sedang menghukum dirinya sendiri.
Kerjaan Pak Dayat hanya rebahan di kamar, melamun. Jarang sekali makan. Kadang-kadang ia duduk sendiri di teras rumah kontrakannya, sambil memandang dan menghitung kendaraan yang berlalu lalang di depan rumah.
Sedih, hati Nana serasa remuk melihat kenyataan yang terjadi pada sang suami. Pria yang ia kenal tangguh. Tak kenal putus asa. Kini malah terlihat seperti manusia yang tak waras. Pak Dayat terlihat seperti manusia yang tak berharga.
"Pa, masuk yuk. Makan dulu!" ajak Nana lembut. Pak Dayat hanya menatap sang istri. Kemudian, ia pun menurut. Ikut masuk dan duduk manis di meja makan. Tanpa berucap apapun ia pun menyantap sepiring nasi dan juga tempe goreng yang di masak sang istri. Tak ada perbincangan di sana. Nana hanya memerhatikan sang suami makan. Ia memang sengaja tak ingin menganggu. S
Setelah selesai menyantap makannya. Pak Dayat kembali ke kamar dan menutupnya. Menutup diri seperti biasa.
Sebagai seorang istri, bohong jika Nana tidak sakit hati. Ini adalah ujian hidup mereka berdua. Lalu kenapa Pak Dayat malah bersikap seolah ini semua adalah salahnya. Nana hanya bisa menangis dalam diam.
"Ma," ucap Langit ketika melihat sang ibu menghapus air matanya.
"Ya, Langit. Ada apa?" tanya Nana berusaha tegar.
"Hari ini, Langit mulai kerja. Do'ain Langit ya, Ma. Supaya berhasil dan mendapatkan uang untuk kalian. Mama jangan sedih. Mama jangan nangis. Mama adalah sumber kekuatan Langit sekarang. Tolong, kuat demi Langit ya Ma. Tolong kuat demi Ara. Tolong Kuat demi Papa!" pinta Langit sembari memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.
"Tentu, Sayang. Mama akan selalu menjadi doakanmu. Mama akan selalu kuat. Mama janji!" jawab Nana dalam isak tangisnya. Sedih saja rasanya, Nana masih tidak meyangka bahwa dia dan keluarganya akan berada di titik ini.
"Baiklah, Ma. Langit berangkat dulu ya. Mama hati-hati di rumah. Langit titip Ara, ya Ma. Assalamu'alaikum!" ucap Langit sembari mencium tangan dan juga pipi sang ibu. Kemudian ia pun langsung pergi meninggalkan kontrakan untuk bekerja.
__ADS_1
***
Tiga puluh menit berlalu, ketika Nana sedang asik mencuci piring, Tiba-tiba saja terdengar seseorang mengetuk pintu. Dengan cepat, Nana pun berjalan ke arah pintu, tentu saja untuk membukakan pintu sang tamu.
"Ya, cari si.... " Nana tidak melanjutkan pertanyaannya. Karena yang datang adalah wanita itu. Wanita bangsat yang telah menghancurkan keluarganya.
Di depan pintu, Yuta terlihat tersenyum tanpa dosa. Membuat Nana geram dibuatnya.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Apakah untuk menghina kami?" tanya Nana kesal.
"Ohhhhh.... ibu mertuaku sayang. Mana mungkin aku tega menghinamu. Aku ke sini bukan untuk menghina. Aku ke sini hanya mampir. Cuma ingin tahu, sekarang mertuaku yang kaya raya itu tinggal di mana. Itu saja," jawab Yuta meledek. Bukan hanya ucapan menyakitkan itu. Yuta juga langsung menerobos masuk tanpa permisi.
"Pergi kamu dari sini! Aku haramkan kamu menginjak rumahku!" teriak Nana sembari menarik kasar tangan Yuta.
"Hay, hay, tidak perlu sekasar ini, Mama mertuaku sayang. Semua bisa kita bicarakan. Tenang... tenang.... santai!" ucap Yuta. Kali ini wanita jahat ini lebih ngelunjak. Dia langsung duduk tanpa meminta izin. Bukan hanya itu, ia pun mengingat kedua kakinya di meja. Membuat Nana semakin ingin mencekik leher menantunya itu. Geram sekali rasanya.
"Dasar wanita sialan! Pergi kamu dari sini! Pergi!" teriak Nana dengan amarah yang kian memuncak.
Sayangnya, tenaga yang dimiliki Yuta lebih kuat. Wanita ini pun segera beranjak dan melawan ibu mertuanya.
"Apaan sih?" tolak Yuta sembari mendorong kasar tubuh Nana. Hingga wanita parih baya itu jatuh tersungkur.
Yuta datang ke sini bukan tanpa alasan. Ia datang ke sini memang sengaja ingin menunjukkan pada Nana dan keluarganya. Siapa dirinya yang sebenarnya. "Dengarkan aku nyoba Karliana yang terhormat. Masih ingatkah kamu dengan Oktavia dan Frans?" tanya Yuta sembari mencengkeram kerah baju wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Mendengar nama sahabatnya yang meninggal dalam kecelakaan di sebut oleh mulut wanita kotor menurut Nana ini, tentu saja Nana marah dan tak Terima.
"Dia sahabatku, jangan kau sebut namanya dengan mulut busukmu iku!" jawab Nana dengan tatapan ingin meremas wajah wanita rubah ini.
"Sahabat? Sahabat kamu bilang? Dasar pembohong kamu," balas Yuta mencari mendorong dada Nana, sehingga wanita ini kembali tersungkur.
"Mereka memang sahabatku. Apa masalahmu?" tanya Nana lagi. Penuh amarah. Penuh kekesalan. Emosi Nana kian memuncak.
"Bulshit... sahabat kamu bilang ha? Sahabat bodoh. Sahabat jahat. Sahabat munafik. Mana ada sahabat yang tega
mencelakai sahabatnya sendiri. Sahabat macam apa yang tega membuat seorang bayi tak berdosa yatim piatu, ha? Katakan sahabat seperti apa, Brengsek?" teriak Yuta tepat di wajah ibu mertuanya. Karena dia benar-benar marah.
Tentu saja apa yang dikatakan Yuta langsung membuat Nana bingung. Sebab ia tidak paham dengan apa yang sebenarnya mantunya ini maksud.
"Kamu sebenarnya ngomong apa, Yuta. Sungguh aku tidak mengerti. Okta dan Frans... mereka adalah sahabatku yang sudah lama meninggal. Lalu apa hubungannya denganmu?" tanya Nana penasaran. Sebab ia sendiri masih belum paham dengan alur cerita yang di bawa Yuta padanya.
"Di samping jahat, kamu juga bodoh ternyata. Masak nggak bisa ngerti omongaku sih. Aaaa... sekarang aku ngerti. Ini pasti karena efek makanan yang kamu konsumsi ya. Sekarang cuma makan pakek garem ya, ha. Atau nasi doang... pantas sekarang kamu jadi bodoh gitu," ucap Yuta kembali mengeluarkan pisau berbentuk lidah itu. Sehingga membuat lawan bicaranya tak berkutik.
"Kamu jangan keterlaluan, Yuta!" Nana menatap tajam ke arah Yuta.
"Kamu sudah mengambil paksa seluruh harta yang bukan hakmu. Kami sudah memanipulasi segalanya. Ingat nggak ada yang kekal di dunia ini. Tunggu saja Tuhan pasti akan membalasmu," ucap Nana dengan nada biasa. Karena ia sangat menjaga. Jangan sampai terpancing dengan wanita jahanam ini.
"Aduh ibu mertuaku sayang. Jangan repot-repot mikirin aku. Mikirin diri mama sendiri aja. Soal Tuhan, mama pikir aku percaya. Nggak... Tuhan itu tidak ada, Ma. Buktinya dia tidak menolongku ketika aku harus makan sisa nasi di sampah. Dia juga tidak menolongku ketika aku terpaksa menjual diri hanya untuk sesuap nasi. Astaga, sudahlah Ma. Jangan menceramahiku. Aku nggak butuh." Yuta membalas tatapan sang ibu mertua dengan tatapan penuh amarah juga.
__ADS_1
Nana hanya diam. Menunggu apa yang sebenarnya wanita ini darinya..
Bersambung...