Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Keteledoran Membawa Berkah


__ADS_3

"Sudah nggak usah nangis, nanti kita beli lagi ponselnya," ucap Raras sembari mengelus lengan wanita yang selalu baik padanya ini.


"Masalahnya bukan ponselnya, Non. Tapi nomer yang tersimpan di sana. Nomer adek saya, nomer mama mertua juga, nomer pakde, bude, semua ada di ponsel itu. Foto-foto saya sama Ara, sama adek saya, saya almarhum ayah. Semua ada di situ. Bagaimana saya cari gantinya? Duuuhh.... kenapa saya teledor sekali?" ucap Riana masih merasa sangat-sangat menyesal.


"Aku tahu, aku juga minta maaf ya. Tadi udah buru-buruin kamu. Seharusnya tadi aku bantu kamu ngingetin barang-barang kita," ucap Raras, ikutan menyesal.


"Nggak Non! Jangan salahkan diri, Non! Saya kan memang super teledor. Saya gemas juga kadang-kadang sama diri saya sendiri. Pelupa akut." Riana tersenyum sembari menghapus air matanya.


"Iya, sabar ya, Ri. Semoga barang-barang berhargamu itu bisa balik ke kamu. Soal nomer ponsel pamanmu, Insya Allah nanti aku bisa bantu. Kalo yang lain nggak bisa, maaf. Cuma nomer rekening aja ini yang masih ke simpen. Semoga bermanfaat nanti." Raras menatap penuh persahabatan dengan asistennya itu.


"Makasih banyak, Non. Setidaknya saya masih punya nomer pakde, nanti nomer adik saya, kan bisa minta sana beliau." Riana kembali menghapus air mata kesedihannya.


Sedih saja, itu semua adalah barang-barang paling berharga dalam hidup Riana. Di sana ada banyak cara memasak dan membuat kue, yang di ajarkan oleh ibu mertuanya. Ada juga luapan isi hati, ya kalau yang menemukannya adalah orang yang sama sekali tidak mengenalnya. Kalau kenal, mau ditaruh di mana mukanya. Pasti malu sekali.


"Ri, aku sedikit penasaran dengan ibu mertuamu?" Raras menyamankan posisinya. Agar lebih nyaman mengintrogasi Riana.

__ADS_1


"Penasaran kenapa, Non? Beliau baik. Sangat baik. Suka ngajarin saya masak. Ngajarin bikin kue. Tapi anehnya, beliau tidak mau mengakui kalau pandai masak. Padahal aslinya pinter masak, Non. Bingung saya!" jawab Riana sudah mulai bisa tenang.


"Baguslah, setidaknya masih ada seorang ibu yang menyayangimu. Kamu masih beruntung, Ri. Sedangkan aku, emak tiri udah kek musuh bebuyutan. Suka bener ngehasut nyokap. Belum juga semingu nyokap berpulang, beliau dah ribut warisan," jawab Raras gemas.


"Iya, Non. Pas belum jadi mantunya, beliau tu ya galak sangat. Ngancem-ngacem saya, kalo nggak mau jadi istri anaknya, dia bakalan nuntut ayah saya. Soalnya Non tahu kan, ayah punya banyak utang sama mereka. Saya pikir, mereka itu bakalan jahat sama saya, sampai kapanpun. Eh, pas makin ke sini, beliau malah makin sayang. Suka belain saya. Sampai bantu saya lepas dari dia," jawab Riana, tersenyum kecut.


"Ya, setiap keburukan pasti ada kebaikan, Ria. Begitupun sebaliknya. Sekarang aku paham, kenapa kamu begitu menyayangi mereka? Kenapa kamu begitu peduli pada cucu mereka? Bahkan kamu menepia kebencian suamimu padamu, karena mereka baik padamu. Kamu luar biasa Riana. Semoga kebaikanmu akan membawamu pada kebaikan-kebaikan yang lain nanti." Raras ikut tersenyum.


"Aamiin, Non, aamiin. Doa Non sudah terkabul kok. Saya bisa dekat dengan mama mertua itu juga berkah buat saya Non. Bertemu dengan majikan sebaik Non, itu juga berkah untuk saya," jawab Riana dengan penuh syukur.


***


Keteledoran Riana ternyata membuat seorang pria bernama Azam Ali ini tertawa cekikikan. Sebab di dalam buku diary itu banyak sekali cerita-cerita lucu yang menyenangkan. Desain-desain baju dan berbagai gambar-gambar berbagai jenis bunga, hati dan bintang juga ada di sana. Azam menilai, pemilik buku ini pasti jago mendesain sesuatu.


Azam jadi penasaran, sebagai pengusaha interior, tentu saja ia ingin menguji pemilik buku ini. Mungkinkah dia bisa mendesai sesuatu untuknya. Mendesain pola kramik misalnya. Atau apalah, suka saya dia melihat warna-warni buku diary milik Riana ini.

__ADS_1


Bukan hanya buku itu yang menjadi daya tarik Azam. Sebuah ponsel dengan wallpaper bayi perempuan juga sedikit membuat Azam penasaran.


"Seperti putrinya Langit sama Yuta. Tapi.... ah, masak sih?" Azam terlihat ragu. Sebab dia juga sudah lama tidak berjumpa dengan putri sahabatnya itu.


"Bodoh, kenapa aku nggak minta langit buat ngirimin foto putrinya tadi. Harusnya aku bisa tahu, apakah ini memang barang milik orang yang Langit kenal, apa bukan," gumam Azam lagi.


Lalu ia kembali melanjutkan aksinya melihat lembar demi lembar buku tebal itu. Kali ini dia tidak tertarik dengan carita yang ada di dalam buku itu. Ia lebih tertarik dengan gambar-gambar yang ada di sana.


Andai benar, Langit memang mengenal pemilik buku ini. Azam berniat mengajak pemilik buku ini untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Sebagai desainer di sana.


Bukankah ini juga termasuk keteledoran membawa berkah. Seseorang yang tidak mengenal Riana secara maya, apa lagi fisik, bisa jatuh cinta dengan gambar-gambar cantik milik wanita itu. Bahkan dia berniat memakai desain itu untuk bisnis yang sedang ia geluti.


Bersambung...


Like, komen n Vote, jangan lupa... 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2