Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Kabar gembira


__ADS_3

Bi Minah langsung mengambil sikap. Beruntung bisa masih menyimpan nomer ponsel milik Langit.


Diam-diam wanita paruh baya ini pun langsung menghubungi pria tersebut.


Beruntung panggilan telepon yang ia lakukan tersambung. Di seberang sana, Langit langsung menyambut panggilan telpon yang tertuju untuknya.


"Hallo, selamat malam, dengan siapa ini?'" tanya seseorang diseberang sana.


"Emmm, hallo... apakah benar ini Den Langit?" tanya Bi Minah.


"Benar, ini saya, Langit. Ini siapa ya?" tanya Langit.


"Eh, ini saya Den. Minah!" jawab Minah.


"Minah? Minah... tunggu! Bi Minah?" tanya Langit, sedikit girang karena yang menghubunginya adalah seseorang yang selama ini membantu keluarganya.


"Ya Den, Ini saya, Bi Minah. Emmm anu Den," ucap Minah, agak terbata.


"Iya, Bi. Ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada Bibi?" tanya Langit, khawatir.


"Ah, nggak Den. Bibi baik-baik saja. Tapi ini, anu.... istri Aden lagi di tempat bibi. Katanya dia sedang di awasi seseorang. Bibi takut, Den. Makanya telpon aden. Sepertinya kalian lagi ada masalah ya, makanya Non Ria nggak berani telpon aden," ucap Bi Minah jujur.


Entah mimpi apa Langit semalam. Ia mendapatkan kunci jawaban atas masalah yang menghadangnya. Lalu sekarang, wanita yang ia cari-cari, malah kabar itu datang dari seseorang yang sangat tidak Langit sangka.


"Oh, iya, Bi. Aku dan Ria memang sedang dalam masalah. Rumah tangga kami sedang terguncang. Bibi sekarang ada di mana? Sekarang juga Langit ke sana," ucap Langit. Lalu ia pun segera keluar dari kamar untuk mencari Lando. Karena saat ini ia memang sedang berada di rumah adik iparnya itu.


"Nanti saya minta anak saya buat kasih lokasi kami ya, Den. Kalo Bibi nggak ngerti," ucap Bi Minah.

__ADS_1


"Oh, iya, Bi. Tolong segera ya. Tolong tahan wanita tukang kabur itu. Aku jalan sekarang, Bi!" ucap Langit.


"Baik, Den. Bibi akan jaga Non sampai aden datang," ucap Bi Minah.


"Makasih ya, Bi. Maaf ngrepotin. Oiya Bi, putri kami rewel nggak?" tanya Langit sembari berlarian mencari sang adik ipar.


"Dia baik, Den. Cuma sesekali nangis. Mungkin rindu ayahnya," jawab Bi Minah, di selingi senyum ikhlas wanita paruh baya itu.


"Ibunya nggak bisa di ajak kompromi, Bi. Aku bingung harus gimana ngadepin wanita tukang kabur itu," ucap Langit.


"Sabar, Den. Maklum masih muda. Masih labil," jawab Bi Minah yang sedikit banyak tahu tentang Riana.


"Bibi benar, do'ain kami bisa menyelesaikan masalah kami ya Bi!" pinta Langit..


"Pasti, Den. Sebisa Bibi. Bibi pasti bantu," ucap Minah.


" Sama-sama, Den. Hati-hati nanti kalo menuju ke sini. Nanti kalo di pertigaan mau masuk gang, telpon bibi ya. Biar di kawal sama anak bibi dan teman-temannya. Karena takutnya orang yang ngawasin Non Ria, masih ada di sana," ucap Bi Minah memperingatkan.


"Baik, Bi. Terima kasih banyak," jawab Langit. Lalu panggilan panggilan pun berakhir.


Sedangkan di depan Langit saat ini ada Lando yang menunggu dirinya menyelesaikan percakapan dengan seseorang.


"Ada apa, Bang?" tanya Lando.


"Kakakmu sudah ditemukan, Lan. Dia aja di Jogja, di rumah mantan asisten mama. Asisten kami juga sih. Yuk temenin abang ke sana," ajak Langit.


"Oke, ayo!" jawab Lando.

__ADS_1


"Oke, abang tunggu di luar aja ya," ucap Langit.


"Oke, kita bawa mobil?" tanya Lando.


"Iya, malam-malam gini mana ada pesawat," Langit mengerutkan kening heran.


"Oh iya, lupa saya." Lando terkekeh, lalu ia pun enggan membuang waktu. Dengan cepat ia pun membalikkan tubuh dan segera mengambil barang-barang yang ia butuhkan.


***


Di sisi lain, Vico marah besar karena tak bisa menembus perumahan yang ditempatkan Riana dan juga bayinya. Di sana ternyata di lindungi oleh pemilik kawasa. Atau bisa di sebut preman yang menjaga ke amanan.


Bahkan anak buah Vico tidak mampu membujuk mereka dengan jumlah uang yang cukup fantasis menurutnya.


"Brengsek! Para bajingan itu tidak bisa di beli rupanya," ucap Vico kesal.


"Maafkan kami, Bos. Tapi pasukan mereka lebih banyak dari kita. Mereka memiliki orang dalam di kesatuan, Bos. Di sana penghuninya rata-rata keluarga militer," jawab Mereka jujur.


"Sialan! Kenapa wanita itu seberuntung itu. Kurang ajar!" Vico membanting gelas yang ada di dalam genggamannya. Rasanya kesal langsung menyerang pria berambisi besar itu.


"Maafkan kami, Bos!" ucap salah satu dari mereka lagi. Jujur, mereka juga takut jika berhubungan dengan pemegang keamanan di sana.


Kesialan Vico tidak hanya itu, ternyata ada hal yang lebih mengejutkan di banding itu. Karen atau yang kita kenal dengan sebutan Raras, Diam-diam telah menyusup ke dalam perusahaan milik Vico.


Tentu saja, wanita itu ingin meruntuhkan apa yang di miliki pria tidak bertanggung jawab itu. Raras ingin membuktikan pada dunia, bahwa pria tak punya hati itu memang pantas kehilangan semuanya. Sepertinya yang kehilangan segalanya. Karena dia tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya. Sehingga membuat keluarganya murka dan mengusirnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2