Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Tidak Menyangka


__ADS_3

Tidak tahu diri.... mungkin itulah kata yang pas yang bisa kita sematkan untuk seorang pria bernama Damar Langit itu.


Namun di samping kata itu, ada sesuatu yang tidak bisa kita tebak dari seorang pria angkuh ini. Yaitu caranya yang ingin dicintai. Cara anehnya yang ingin diakui Riana sebagai seorang suami. Cara arogannya yang meminta Riana untuk patuh padanya. Cara menjengkelkanya yang memaksa Riana untuk mengerti akan rasa yang harus dijaga.


Ahhh... hanya cara yang salah. Tetapi sayangnya, cara itulah yang menyakiti banyak hati. Cara itulah yang banyak mendapatkan penolakkan. Termasuk Riana sendiri.


Nana hanya bisa menatap heran kepergian sang putra. Rasanya anak itu selalu berhasil membuatnya bingung. Bagaimana tidak? Kediamannya, pola pikirnya yang aneh, sikap arogan yang selalu bikin orang-orang di sekitarnya jengkel, dan masih banyak lagi sikap Langit yang tidak bisa diterima oleh akal biasa.


"Piye, Ma? Udah di tanya perihal Yuta? Apa putramu itu tahu soal istrinya yang kena kasus itu?" tanya Pak Dayat tiba-tiba datang dari belakang.


"Astaghfirullah... kaget Mama, Pa!" Bu Nana diam sesaat. Masih berusaha mencerna kejadian yang baru saja ia alami.


"Loh kok kaget piye to? Piye Langit udah ngerti belum?" tanya Pak Dayat lagi.


"Ngerti opo to, Pa?" Bu Nana malah bingung, sebenarnya yang dimaksud sang suami itu apa.


"Kui loh, soal ibue Ara? Piye Langit udah paham belum?" tanya Pak Dayat.


"Ibue Ara sing mana to, Pa?" Bu Nana malah bingung.


"Ibue Ara, siapa piye yo, Ma? Emang ibue Ara ada berapa?" Pak Dayat ikutan bingung.


"Dua!" Bu Nana mantap suaminya.


"Eh, iya... lupa Papa! itu lah yang kena kasus," jawab Pak Dayat.

__ADS_1


"Oh, belum nanya anaknya udah kesal, Pa. Tadi kami ngomongin ibue yang di jauh sana," jawab Nana sedikit sedih.


"Oohhhh, terus piye?" Pak Dayat makin penasaran, apa lagi ini adalah perihal menantu kesayangan.


"Dia marah, Pa. Soalnya Ria pergi nggak izin sama dia. Ria pergi nggak bilang-bilang. Dia kesel. Merasa tidak dihargai. Lah... dianya begitu, masak minta dihargai. Aneh sekali!" jawab Nana, kali ini dia sangat-sangat kesal dengan sang putra.


Pak Dayat diam sesaat, lalu ia pun mengutarakan pemikiran Langit dari sudut padang dirinya sebagai laki-laki.


"Mungkin, dia marahnya, kenapa Ria meninggalkan kontrakan itu, nggak izin sama kita. Kan kalo izin sama kita dia pasti tahu, gitu kali, Ma. Biar dia nggak susah nyariin. Kan sekarang mereka sedang proses cerai, kan nggak lucu kalo yang perempuan, yang gugat kok malah kabur! Mungkin begitu, Langit merasa di remehkan!" jawab Pak Dayat, sesuai pemikirannya sebagai laki-laki.


"Bener juga ya, Pa. Pantesan putramu itu gemes banget. Eh tapi, Pa. Kan gugatan cerai itu nggak jadi. Belum didaftarin ke pengadilan." Ibu Nana menatap sang suami. Begitupun sebaliknya.


"Ya memang belum, pengugatnya kabur. Pengacaranya mau minta persetujuan ama siapa?" Pak Dayat membalas tatapan sang istri.


***


Di sebuah rumah sakit elit yang ada di kota Amsterdam, lahirlah seorang bayi perempuan dengan berat 3,5 kg. Bayi itu begitu manis dan menggemaskan. Bayi yang terlahir melalui operasi cesar itu diberi nama Shanza Hania yang artinya wanita yang terhormat dan kaya raya. Ya, sang ibu, Raras memang menginginkan putrinya menjadi wanita yang terhormat. Tidak seperti dirinya. Demi cinta ia buta. Demi cinta ia rela menghempaskan harga dirinya. Hingga lahirlah bayi yang tak berdosa ini.


Raras menitikkan air matanya, ketika ia membaca surat tanda lahir Baby Shanshan. Sebab di sana, yang tertera bukan namanya dengan pria itu. Tetapi nama pengasuh bayinya dan suami dari wanita itu.


Sungguh, ini adalah hal paling gila yang pernah Raras lakukan. Namun, ini adalah caranya untuk melindungi bayinya dari para orang-orang yang tidak menginginkannya. Ini adalah cara wanita ini, agar bayinya memiliki orang tua yang utuh.


"Non jangan menangis, percayalah... aku akan jadi ibu terbaik untuk putrimu. Putri kita," ucap Riana sembari mengelus lembut rambut wanita yang terlihat pucat itu.


"Ri, aku sedih!" ucap Raras sembari merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya.

__ADS_1


"Tidak, Non jangan sedih. Non masih memiliki tugas yang sangat banyak. Membesarkan Shanshan... memberinya Asi, kasih sayang. Kita berdua akan memberikan kasih sayang itu. Non pasti bisa!" ucap Riana masih setia mengelus rambut Raras.


Namun, terjadi keanehan di sini. Raras tidak sesemangat tadi. Tidak sesemangat ketika hendak pergi ke rumah sakit. Raras yang Riana lihat saat ini, begitu berbeda. Raras terus meringis. Seperti merasakan sakit, entah di mana sakit yang Raras rasakan.


"Non sakit? saya panggilkan dokter, ya!" ucap Riana menawarkan.


"Tidak, Ria. Aku sudah tahu ini sejak aku mengandung babyku. Aku sudah mengetahui ini pasti terjadi. Tapi aku lega, Shanshan sudah punya ibu yang baik sepertimu. Aku yakin kamu pasti menjaga putriku. Aku yakin kamu pasti bisa membesarkan putriku!" ucap Raras sembari mengatur napasnya yang terlihat mulai berat ini.


"Tidak ... tidak ... maksud Non apa? Non jangan ngomong aneh-aneh. Non jangan nakuti saya, Non. Saya mohon!" ucap Riana, tangis wanita ini pecah ketika melihat pandangan Raras sudah mulai tidak singkron.


"Aku bahagia, Ria. Aku bahagia mengenalmu. Aku titip Shanshan ya, aku titip milikku. Tolong jaga Shanshan untukku!" pinta Raras, suaranya mulai tersegal. Napasnya mulai tidak teratur. Riana pun kalang kabut ketakutan. Dengan cepat wanita ini pun segera berlari mencari dokter yang bertugas. Tentu saja untuk melihat sahabatnya itu. Riana takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Namun sayang, ketika tim dokter datang, Raras sudah tertidur. Raras sudah terlelap. Raras telah pergi. Meninggalkan sepenggal kisah yang belum usai. Meninggalkan kenangan yang sangat indah untuk Riana. Meninggalkan seorang bayi mungil yang membutuhkan kasih sayangnya.


Riana gemetar, hanya bisa menatap nanar pada wajah pucat sangat sahabat.


Tangis Riana pecah mana kala tim dokter menyerah memberikan pertolongan pada wanita yang baru dua bulan ini dikenalnya.


Tangis Riana menggema memenuhi ruangan rawat Raras. Riana serasa gila menghadapi kenyataan yang tak pernah ia duga. Hanya bisa menangis dan berteriak memanggil nama majikannya itu. Berharap Raras hanya mengerjainya. Berharap ini hanya mimpi. Berharap Raras tidak serius. Berharap Raras bagun dan tersenyum padanya.


Namun, harapannya hanya tinggal harapan. Sebab, pada kenyataannya para petugas medis itu mencabut seluruh alat bantu yang menancap ditubuh Raras. Lalu menutup tubuh wanita malang itu dengan sehelai kain berwarna putih.


Riana terpukul. Sangat-sangat terpukul.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2