Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Seperti Mimpi


__ADS_3

Di seberang sana, Riana merasa tak nyaman dengan nomer aneh tersebut. Karena ia sempat mendengar suara tabrakan atau seperti benda jatuh, tapi lebih keras.


Rasa penasaran itupun menuntun wanita itu menilik profile yang tertera di dalam nomer ponsel tersebut. Sayangnya, hanya ada gambar sebuah restoran. Tidak ada informasi lain.


"Siapa sih ini? aneh banget!" guman Riana. Namun, rasa aneh itu menghadirkan rasa tak nyaman di hati Riana. Seakan menuntunnya untuk mencari tahu informasi tentang penelpon tersebut.


Untuk meredakan rasa penasaran itu, ia pun meminta Dilan yang saat ini ada di Indonesia untuk membantunya melacak nomer itu.


"Lan, tolong bantu aku ngelacak nomer ponsel yang aku kirim ke kamu ya," ucap Riana.


"Emangnya telponnya di mana, Ri? Di nomer pribadi kamu atau di nomer bisnis kamu?" tanya Dilan, karena dia tahu bahwa nomer bisnis yang Riana gunakan saat ini adalah nomer milik Raras.


"Di nomer bisnis, Lan!" jawab Riana jujur.


"Oh, kamu udah periksa profilenya udah periksa?" tanya Dilan lagi.


"Udah, tapi cuma foto restoran doang!" Riana mensrenshoot data profile yang ia maksud, lalu mengirimkannya pada Dilan.


"Oke, data udah aku terima. Besok aku kasih tahu infonya. Sabar ya! Cuma, kalo nomer yang masuk ke dalam nomer Raras, aku curiga kalo itu Vico, bapaknya si adek. Tapi ini hanya kecurigaan ku loh, besok tetep aku cari tahu siapa dia," jawab Dilan.


"Ohhh, gitu ya.... ngeri kali kalo dia. Ya udah deh nggak usah di cari, Lan. Kita case close aja." Riana telah memutuskan, meskipun hatinya masih penasaran dengan penelpon tersebut.


"Bener?" Dilan memastikan


"Iya deh, gitu aja. Oke, aku balik ke butik dulu. Oiya, Lan ... kemarin ada yang mau sewa apartemen yang di Jakarta. Dia udah menghubungi kamu belum?" tanya Riana.


"Sudah, Ri. Asistenku yang ngurus. Oiya, yang di Surabaya gimana? Kamu langsung pulang ke Jakarta kan nanti?" tanya Dilan.


"Kayaknya aku tinggal di Surabaya aja, Lan! Adikku domisili sana. Aku pengen deket ama dia," jawab Riana.

__ADS_1


"Oh, Oke deh... masalah tempat tinggal, nanti kita atur. Ya udah Ri, selamat bekerja ya. Semoga sukses hari ini," balas Dilan.


"Makasih, Lan. Untukmu juga ya!" tak lama kemudian, mereka pun mengakhiri panggilan telepon tersebut.


***


Di sisi lain, Langit telah mendapatkan pertolongan. Namun, pria ini masih belum sadarkan diri. Mata terpejam rapat, darah merembes dari kedua tangannya. Lalu kakinya. Sungguh, kondisi Langit sangat menyedihkan.


Musibah yang di alami Langit tentu saja membuat goyah hati Nana dan juga Dayat, mengingat saat ini keduanya mereka juga tidak stabil. Sudah begitu, mereka harus mmperbaiki mobil yang Langit pakai. Sebab mobil tersebut adalah milik Azam.


"Bagaimana ini, Pa? Bagaimana keadaan Langit?" tanya Nana dalam sela-sela tangisnya.


"Dia aman, Ma. Cuma yang jadi kendala kita adalah biaya. Ke mana kita nyari biaya untuk semua ini, Ma?" tanya Dayat. Tentu saja, sebagai seorang ayah yang anaknya ditimpa musibah bertubi-tubi sangatlah sedih. Terlebih saat anaknya membutuhkan uluran tangan mereka, mereka tidak siap dengan itu.


"Gimana kalau pakai uang itu, Pa?" tanya Nana memberi ide.


"Uang yang itu mana, Ma?" Pak Dayat menatap heran ke arah sang istri.


Seketika, Pak Dayat pun tersenyum dan memeluk erat tubuh sang istri. Entah mengapa? Rasanya, setiap masalah yang menimpa mereka selalu ada Riana sebagai penolong. Selalu ada menantunya itu yang selalu menjelma menjadi penyelamat mereka.


"Andai Riana ada di sini, Ma!" ucap Pak Dayat.


"Iya, Pa. Mama nggak tahu mesti ngomong apa? Mama sedih, karena di saat Langit butuh dia, dia nggak ada!" ucap Nana, air mata menetes begitu saja. Entahlah... Nana sedih.


"Kita doakan saja mereka, Ma. Jika jodoh, mereka pasti bareng lagi!" ucap Dayat optimis.


***


Di ruang rawat sebuah rumah sakit, terlihat seorang pria sedang melamun. Bukan memikirkan apa yang terjadi padanya. Tetapi suara wanita yang seakan menari di otaknya.

__ADS_1


Riana... suara wanita itu sukses mengguncang jiwanya. Kemarahan yang terbungkus oleh cinta itu nyatanya sukses membuat seorang Langit gemas. Andai saat ini dia tak mendapatkan musibah, sudah pasti dia akan meminta temannya untuk melacak di mana wanita itu kini berada. Langit berniat menjemputnya dan ingin memarahinya. Bisa-bisanya dia pergi jauh tanpa izin darinya.


Langit tersentak dari lamunannya, ketika pintu kamar rawatnya di buka oleh seseorang.


Terlihat Pak Dayat masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Pak Dayat.


"Baik, Pa. Maaf Langit ngrepotin Papa sekali lagi!" ucap pria tampan ini.


"Tak masalah, yang penting kamu cepet sembuh. Ponselmu rusak. Nah, pakai punya Papa dulu. Sudah Papa ganti SIM cardnya!" ucap Pak Dayat sembari menyerahkan ponsel itu pada sang putra.


"Makasih, Pa. Sekali lagi maafkan Langit." Dari sudut matanya, terlihat butiran bening keluar dari mata pria tampan itu.


"Sudah, jangan menangis. Tak ada yang perlu kamu tangisi. Semua akan baik-baik saja." Pak Dayat menatap kasihan pada sang putra. Sedangkan Langit masih sibuk dengan pikirannya.


"Mobil sudah masuk bengkel, Papa juga sudah telpon Azam untuk meminta maaf. Oiya, Papa mau kasih kabar buruk ke kamu, kamu harus kuat, ya!" ucap Pak Dayat serius.


"Kabar buruk apa, Pa?" tanya Langit, tegang.


"Saat ini, mamamu ada di rumah sakit Bhayangkari, Yuta.... Yuta... dia..." Pak Dayat tak kuasa menahan kesedihannya. Sebab sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan terjadi begitu saja.


"Yuta kenapa, Pa?" tanya Langit, tak kalah serius.


"Yuta telah berpulang, Langit. Saat ini, Papa ke sini... selain untuk memberi tahu kabar ini. Papa juga mau jemput kamu. Papa mau ngajak kamu nganterin ke tempat peristirahatan Yuta yang terakhir. Apa kamu mau?" tanya Pak Dayat.


Jujur, Pak Dayat takut jika Langit menolak. Sebab ia sangat tahu bagaimana bencinya Langit pada Yuta. Bagaimana tidak sukanya dia pada wanita itu.


Langit diam, tak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir tampannya. Semua serasa seperti mimpi baginya. Baik suara Riana, kecelakaan itu bahkan kabar kematian Yuta yang ia terima detik ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2