
Langit bukan pria bodoh yang akan berpangku tangan diperlakukan tidak adil oleh orang-orang yang memang berniat menjebaknya.
Ia harus mencari tahu siapa dalang di balik masalah yang menimpanya kali ini.
Berbekal video itu, pertama-tama adalah pemeran wanita yang ada di dalam video tersebut.
Langit yakin, wanita itu pasti ingat siapa yang memboking dirinya untuk melayani Langit malam itu.
"Ya ... wanita ini kuncinya," ucap Langit dalam hati.
Disamping mencari dalang di balik peristiwa ini, tak lupa Langit juga mencari keberadaan sang istri. Sebab, mau bagaimanapun! Riana masih istrinya. Tanggung jawabnya.
Masalah Riana mau menerimanya lagi atau tidak, Langit akan memikirkannya nanti. Yang jelas, wanita itu harus ketemu dulu. Baru yang lain dipikirkan belakangan.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Langit memutuskan untuk ke club yang biasanya di datangi oleh wanita-wanita yang bekerja di dunia hiburan. Termasuk wanita yang tidur dengannya malam itu.
Seperti pengunjung pada umumnya, Langit pun memesan minum. Namun, kali ini minuman itu tidak ia minum. Tetapi hanya ia jadikan temeng agar tidak memancing keributan di sini. Sebab dari sudut matanya, ia melihat segerombolan pria yang terus mengatasinya dan Langit yakin segerombolan orang tersebut pasti sedang mengawasinya.
Sial.... Langit mengumpat kesal. Bagaimana tidak? Jumlah mereka bertambah banyak dan dia hanya sendiri. Bukankah ini sial.
Namun, demi menangkap orang yang telah berani bermain-main dengannya Langit tidak akan gentar. Sampai matipun ia akan tetap melawan mereka.
Malam semakin larut, Langit pura-pura mabuk dan menabrak salah satu dari mereka. Tentu saja, tujuannya menabrak pria tersebut tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mencuri ponsel milik pria tersebut. Karena dengan ponsel itulah, vi yakin bisa menangkap dalang dari kejadian ini.
"Sorry, Bang, sorry!" ucap Langit sembari menangkupkan tanganya pasa pria itu.
"Sialan, sudah sana! Nggak kuat minum Jangan minum!" bentak pria tinggi besar itu.
Langit tidak marah, dia malah tersenyum seperti seseorang tanpa dosa.
"Maapin ya, Bang. Maapin!" ucap Langit seraya melangkah meninggalkan segerombolan pria tersebut.
Beruntung cahaya remang-ramang di club tersebut dan musik yang di stel keras membuat segerombolan pria tersebut tidak menyadari. Bahwa pria yang menabrak salah satu dari mereka adalah mantan terget mereka. Atau lebih tepatnya adalah korban keserakahan mereka.
__ADS_1
Selepas keluar dari club tersebut, Langit langsung berlari menuju mobilnya dan segera menjauh dari tempat biadab ini.
Barang yang ia inginkan sudah ada di tangan. Tinggal mencari tahu, siapa sebenarnya orang-orang yang berniat jahat padanya.
Tiga puluh menit berlalu, Langit sampai di depan rumahnya. Namun, dari jauh terlihat beberapa gerombolan orang mencurigakan.
Mau tak mau, ia pun langsung balik arah dan meninggalkan rumahnya.
"Sial!" umpat Langit kesal
Masih bertahan dengan pikiran kacau, Langit pun tetap menginjak pedal gasnya. Melajukan kendaraannya entah ke mana. Yang penting menjauh dari orang-orang tersebut.
Bukan takut, hanya saja ia harus mengamankan dirinya sendiri agar bisa membuktikan pasa keluarganya, pada masyarakat dan pada Riana, bahwa dia tidak bersalah. Dia dijebak.
Tak lama suara ponselnya berdering, Langit segera meraih ponselnya. Ternyata itu adalah Dilan. Pria yang selalu di percaya oleh sang istri atas segala masalah yang terjadi padanya.
Tetapi tidak dengan Langit, kali ini ia tak bisa percaya pada siapapun. Buktinya saat ini ia pun terjebak.
"Ya," jawab Langit, malas, tak bersemangat.
"Bisa kita ketemu," ucap Langit.
"Bisa banget, Bang. Kapan?" tanya Dilan.
"Sekarang kalo bisa."
"Baik, saya yang ke tempat abang atau abang yang ke tempat saya?" tanya Dilan sopan.
"Aku yang ke tempatmu saja. Kamu di mana sekarang?" tanya Langit.
"Saya di apartemen, Bang. Abang ke sini aja," jawab Dilan. Lalu percakapan itu pun berhenti, mereka sepakat bertemu dan membicarakan perihal yang menganggu mereka.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Riana memutuskan untuk balik arah. Ia tak jadi menemui Lando. Karena ia yakin, Lando pasti akan memberitahukan keberadaannya kepada kakak iparnya. Secara mereka saat ini susah dekat.
Sesampainya di Bandara Juanda, Surabaya, Riana kembali mencari tempat di mana Langit tak mungkin bisa menemukannya.
Lalu, ia teringat pada mantan pengasuh baby Ara. Bik Minah.
Riana segera mencari nomer telpon wanita paruh baya itu. Barang kali mau menampungnya sementara waktu.
Beruntung Bi Minah langsung mengangkat telepon darinya.
"Hallo... ini siapa ya?" tanya Minah di seberang sana.
"Ini Ria, Bi," ucap Riana, tak tahan... ia pun menjatuhkan air matanya. Sungguh, saat ini yang ia rasakan hanyalah sendirian. Tak tahu harus berbuat apa. Dunianya kosong, tak ada tempat untuk mengadu. Riana butuh tempat untuk mengadu.
"Non, Ria... Masya Allah... " Terdengar suara tawa lirih Bi Minah, mungkin wanita paruh baya itu tidak menyangka bahwa Riana akan menghubunginya.
"Bibi tinggal di mana? Boleh nggak saya ke sana?" tanya Riana, terdengar sedih. Namun, saat ini dia memang membutuhkan seseorang untuk bersandar.
"Oh, tentu saja boleh, Non. Bibi tinggal di Sleman, Jogja. Nanti Bibi minta anak Bibi alamat lengkapnya. Non mau ke sini kapan? Sama siapa?" jawab Bi Minah, terdengar senang dan semangat.
"Mungkin besok, Bi. Bibi jangan bilang siapa-siapa dulu, ya. Nanti saya cerita kalo udah sampai sana," pinta Riana.
"Loh kenapa, Non?" tanya Bi Minah, merasa aneh saja.
"Pokoknya nanti Ria cerita kalo udah sampai sana, ya, Bi! Pokonya Bibi ingat jangan cerita sama siapapun kalo Ria telepon Bibi. Kalo Bibi cerita, Ria nggak jadi ke sana," ucap Riana mewanti-waniti.
"Iya, Non. Jangan khawatir. Bibi pasti tutup mulut. Bibi jaga rahasia," jawab wanita paruh baya ini.
Kemudian setelah berucap salam, mereka pun mengakhiri panggilan telepon itu.
Karena hari sudah malam, terpaksa Riana menyewa hotel untuk menginap. Mengingat baby Shanshan masih telalu kecil untuk tidur di luar ruangan.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih yang sudah kasih likenya, komennya sepedas apapun ya saya tetap Terima... 🙂🙂🙂🙂