Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Berbanding Terbalik


__ADS_3

Riana masih tak percaya dengan kabar yang ia terima. Rasanya ini seperti mimpi. Bagaimana tidak? Itu adalah desain yang ia gambar asal saja. Hanya menuruti isi hati dan tarian jari-jemarinya isengnya. Riana tidak menyangka, bahwa desain baju yang awalnya ia tujukan untuk membuatkan baju baby Ara itu, nyatanya bisa menang di ajang bergengsi seperti ini. Ia hanya mengubahnya di beberapa titik. Yang awalnya memang untuk bayi, dia ubah menjadi gaun malam yang mewah. Raras sendiri mengakui, bahwa desain yang Riana gambar berasa sangat istimewa dan menyentuh hati. Karena memang dari hati.


"Ri, buset ... lihat, rewardnya ... luar biasa. Tajir sekarang kamu, jangan lupa traktirannya," canda Raras sembari menyodorkan ponselnya pada Riana. Sedangkan Riana sendiri masih belum bisa percaya dengan kabar ini.


"Non! Ini sungguhan apa boongan?" tanya Riana masih belum percaya. Mata wanita ayu ini terlihat berkaca-kaca.


"Sungguhan Ria, kamu baca saja kalo nggak percaya. Ni, baca ... Astaga!. Kamu pikir aku tukang boong. Dih!" jawab Raras kembali menyodorkan ponselnya pada wanita cerewet itu.


Riana tak mengambil ponsel itu. Dia malah menangis. Menangis karena tak menyangka, bahwa desain yang awalnya ia buat untuk Ara, ternyata malah memberikan rezeki yang luar biasa untuknya. Ara dan desain baju itu ternyata bisa mengubah hidupnya.


"Sudah, jangan nangis! Aku tahu, saat ini pasti kamu ingat dengan putri sambungmu itu, iya kan. Nggak pa-pa, nangis aja sekarang. Nanti kalo kalian ketemu lagi, kamu bisa buatkan gaun seperti ini untuknya. Atau bisa juga kamu kasih nama gaun ini Zahra, oke!" ucap Raras sembari mengengam tangan wanita yang saat ini sedang menangis sesegukan itu.


"Mana mungkin aku ketemu lagi dengannya, Non. Mana mungkin orang tuanya akan mengizinkan aku memeluk gadis cilik itu lagi. Mereka membenciku, Non. Mereka membenciku." Riana menjatuhkan kepalanya di meja makan tempatnya berada saat ini.


"Jangan pesimis begitu, Ri. Kamu jangan melawan kehendak Illahi," ucap Raras mengingatkan.


"Entahlah, Non. Itu kan kenyataan. Mereka memang nggak akan pernah mengizinkan aku mendekati gadis cilik itu lagi, Non. Nggak akan pernah," jawab Riana pasrah.


Raras sangat tahu, jika Riana memang tulus mencintai bayi itu. Sayangnya, dia memang tidak memiliki hak.

__ADS_1


"Kenapa Tuhan senang sekali mempermainkan aku, Non? Kenapa mempertemukan aku dengannya, kalo pada akhirnya kami dipisahkan?" Riana kembali menangis, menumpahkan kerinduannya pada putri sambungnya yang ia sayangi itu.


"Iya aku paham. Aku ngerti. Tapi kamu juga harus ingat, di mana ada pertemuan pasti ada perpisahan, Ri. Cepat atau lambat, itu pasti terjadi. Doakan saja dia, semoga dia baik-baik saja. Semoga dia tumbuh menjadi anak yang sehat, baik, pinter dan sholehah sepertimu," ucap Raras mencoba terus menguatkan hati Riana yang saat ini sedang di selimuti belenggu rindu itu.


Raras tak melarang Riana menangis. Karena itu memang cara perempuan mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Benarkan?


***


Kabar gembira yang diterima Riana sungguh berbanding terbalik dengan kabar yang didapat oleh Langit.


Kali ini, pria tampan ini kembali kalah cepat dengan Vicky dan juga Yuta.


Justru, sekarang mereka menyerang balik keluarga Langit. Dengan mengunakan alasan, Langit lah yang berhianat di dalam pernikahannya dengan Yuta.


Bukan hanya itu, Yuta juga menggunakan pernikahan kedua Langit, untuk menggugat cerai pria itu. Agar namanya tidak rusak di mata masyarakat dan para kolega-kolega yang saat ini bekerja sama dengannya.


Ketangkasan dan keberanian Yuta bertindak, kini membawa wanita ini di puncak kesuksesan. Bahkan saat ini, dengan penuh percaya diri, ia dan juga kekasih gelapnya telah menerobos masuk ke dalam perusahaan milik keluarga Langit. Tanpa ada seorangpun yang berani melarang mereka.


Kedua orang tersebut kini telah duduk di kursi paling penting di perusahaan itu. Sebagai pemegang saham terbesar dan juga pemilik baru PT. Langit Perkasa yang tak lain adalah perusahaan kontruksi milik Langit dan keluarganya.

__ADS_1


Pak Dayat, yang saat ini ikut menghadiri rapat, hanya bisa diam dan meneguk kasar saliva kekesalannya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa diam-diam mantunya itu adalah wanita licik yang membantu kekasihnya menguasai perusahaan miliknya. Atau lebih tepatnya, Yuta adalah mata-mata.


Cinta nyatanya telah membutakan mata anak semata wayangnya. Langit yang terlalu mencintai Yuta, ternyata diam-diam sering menceritakan keadaan dan rahasia perusahaan kepada wanita itu. Sehingga dengan mudah Yuta bisa mengambil alih perusahaan itu dengan info yang ia dapat dari sang suami.


Sekali lagi, Pak Dayat hanya bisa mengikuti prosedur yang kini telah dibacakan oleh notaris dari kedua belah pihak. Pria paruh baya ini tak bisa berbuat apa-apa ketika pengacara Vicky menunjukkan padanya beberapa bukti, bahwa dia telah berhasil membeli saham yang di jual oleh Dayat untuk menggaji serta membayar pesangon untuk para pekerja yang terpaksa harus ia rumahkan.


Pak Dayat tersenyum kecut ketika menandatangani surat penyerahan tersebut. Rasanya sakit sekali. Pak Dayat serasa menyerahkan nyawanya. Sebab perusahaan ini adalah hidupnya. Bagaimana tidak? perusahaan ini adalah wujud perjuangannya untuk keluarga. Keringat dan dedikasinya kepada keluarga. Lalu, tanpa ada angin, tanpa ada hujan, tiba-tiba saja petir menyambar. Pak Dayat terpaksa menyerahkan apa yang ia miliki kepada pemilik baru perusahaan yang ia bangun selama dua puluh tahun ini.


Menyesal, sudah pasti. Tetapi pada kenyataannya dia kalah.


Sungguh, hatinya serasa getir. Namun, mau bagaimana lagi. Ini adalah kenyataan yang sedang ia hadapi. Mau tak mau, Pak Dayat harus tetap kuat berdiri. Meskipun jujur, saat ini ia hancur. Sangat-sangat hancur.


"Beri tepuk tangan pada pemilik baru perusahan kita ini, Bapak Vicky Pranata dan Nyonya Lin Yuta Nafisa, silakan Bapak Vicky dan Ibu Yuta menandatangani surat serah terima ini," ucap Notaris yang menjadi saksi sekaligus perantara pemindahan kepemilikan perusahaan ini.


Vicky dan Yuta pun naik ke podium dan menandatangi surat-surat tersebut. Mereka tersenyum lebar, karena apa yang mereka impikan telah menjadi kenyataan. Yuta menang dengan tujuannya. Sedangkan Pak Dayat dan juga istri hanya bisa menggigit perih hati mereka. Menahan tangis yang kini telah menusuk dada. Menahan air mata yang sekarang telah berada tepat di ujung mata, jangan sampai mereka kalah dengan itu. Karena satu saja air mata mereka jatuh. Maka itu adalah pertanda mereka kalah telak dengan wanita licik itu. Dan dia, wanita biadap yang menghancurkan keluarga mereka itu, pasti akan tertawa senang jika sampai itu terjadi.


Bersambung...


ditunggu like komen dan vote nya yes🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2