Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Teringat Sesuatu


__ADS_3

Malam itu Langit tidak tidur. Ia asik berselancar di dunia maya. Mencari bukti-bukti dari jejak digital yang terpasang di rumahnya. Meskipun belum sepenuhnya mendapatkan bukti yang ia inginkan, Langit tidak putus ada. Ia terus mencari dan mencari. Karena ia yakin, pasti Yuta tidak seperfect itu dalam menjalankan rencananya. Ia pasti punya titik kelemahan. Langit berharap ada keajaiban akan masalahnya ini.


Langit masih asik dengan acara berselancarnya. Tiba-tiba ia mendapatkan pesan dari sang mama, bahwa ia sudah mendapatkan rumah kontrakan untuk mereka. Rumahnya tidak besar, tetapi cukup lah buat mereka berempat. Setidaknya mereka tidak kepanasan dan kehujanan untuk sementara waktu.


"Alhamdulillah, Ma, kalo udah dapet. Langit senang. Sekarang Langit masih di rumah. Masih menelusuri rekaman CCTV, siapa tahu ada jejak Yuta yang bisa kita gunakan sebagai bukti, bahwa Langit tidak melakukan apa yang dia tuduhkan," tulis Langit sebagai balasan pesan yang dikirim oleh sang mama.


Sedetik kemudian, Nana kembali malas pesan darinya. Yang meminta Langit untuk tetap semangat. Semua pasti ada jalannya. Mereka yakin itu.


Kembali Langit fokus pada laptop yang ada di depannya. Bukan hanya laptop, ponsel yang ada di genggamannya juga tak luput dari perhatiannya.


Beberapa jam telah berlalu, Langit hendak menyudahi aksi berselancarnya. Sebab ia sudah lelah dan belum mendapatkan apapun. Namun ia tidak menyesal, setidaknya ia mendapatkan sebutir kebahagiaan. Karena ia bisa melihat kembali aktivitas Riana yang diam-diam ia rindukan.


Azan subuh berkumandang. Hati pria ini bergetar. Tiba-tiba saja ia rindu bersimpuh di hadapan sang Khaliq. Apa lagi ketika tadi ia melihat Riana juga mondar-mandir menggunakan mukena. Terlihat begitu cantik dan elegan. Langit ingin seperti Riana yang taat pada agama dan keyakinan yang dianutnya.


Dengan keyakinan penuh, pria tampan ini pun beranjak dari tempat duduknya. Hendak mengambil handuk dan membersihkan diri. Langit berniat untuk mengadukan nasibnya pada sang Pemilik Hidup. Ingin memohon, meminta pertolongan, serta meminta kesabaran lebih.


Namun, ketika ia hendak beranjak, tiba-tiba saja ia melihat bayangan seseorang yang tak tak lain itu adalah Yuta. Wanita itu terlihat sedang berjalan santai menuju dapur. Ia juga melihat Yuta dengan santai membuka laci-laci tempat biasa Minah menyimpan makanan untuk anggota rumah ini.


Tak lama kemudian, ia pun mengambil satu bungkus mi instan dan memasaknya. Bukan hanya itu, Yuta juga menenguk minuman soda yang biasanya tersedia untuk Langit.


Melihat rekaman itu, Langit geram. Namun, ia tetap tersenyum. Karena, setidaknya ia sudah mendapatkan satu bukti yang kuat. Bahwa wanita licik itu adalah pembohong. Berpura-pura sakit. Berpura-pura tak kuat berjalan. Untuk menipunya. Menipu keluarganya.

__ADS_1


"Kena kau, Yuta!" cetus Langit senang. Tak membuang-buang waktunya lagi. Langit pun langsung mengkopy dan menyimpan cuplikan video itu di dalam memori ponselnya.


Selesai menyelesaikan pekerjaannya. Langit kembali ke tujuan awal. Yaitu membersihkan diri serta berniat untuk melaksanakan salat Subuh. Barulah nanti ia kembali ke laptopnya lagi.


****


Di sisi lain, Nana dan Dayat menangia berduaan di kamar mereka. Kamar yang hampir selama ini mereka gunakan untuk melepas penat. Mewujudkan kasih sayang mereka. Menumpahkan segala keluh kesah. Terpaksa harus mereka tinggalkan.


Sedih, sudah pasti. Bagaimana tidak? Mereka tinggal di rumah ini sejak Langit belum ada. Mereka mengawali biduk rumah tangga mereka di sini. Tiba-tiba saja, tanpa ada angin, tanpa ada hujan mereka dipaksa melepaskan rumah ini. Sungguh ini adalah kenyataan yang sangat menyakitkan.


"Sabar ya, Pa. Semoga Allah memberikan keajaiban untuk kita. Sehingga kita bisa mendapatkan rumah kita lagi," ucap Nana sembari mengelus lengan sang suami.


"Insya Allah, Ma. Tidak ada yang tidak mungkin. Jika tidak pun, Papa Insya Allah Iklhas .... Kita kembali ke awal kita nikah, Ma. Hidup di kontrakan." Pak Dayat membalas senyum itu. Namun, tak dipungkiri bahwa hatinya serasa amat sangat getir.


"Mama benar, Tuhan tidak tidur. Tapi Papa kasihan dengan orang-orang seperti itu, Ma. Mereka begitu bodoh sampai lupa, bahwa harta hanyalah tipuan dunia. Ah sudahlahsudahlah, kota ngomong apaan sih. Ikhlas, Bismillah ...." Pak Dayat merangkul pundak sang istri. Mencoba saling menguatkan.


"Sudah yuk, Pa. Keburu matahari meninggi. Nanti panas, kasihan baby cantik ini!" Nana menyambut rangkulan itu dengan menggandeng tangan sang suami. Mengajaknya melangkah bersama. Melewati ujian baru yanga da di depan mata.


Pak Dayat membantu sang istri naik ke truck yang mereka sewa untuk membawa barang-barang mereka yang masih tersisa. Dan mereka masih bersyukur. Setidaknya Tuhan masih memberi mereka kesehatan dan kesabaran yang melimpah. Sehingga mereka biasa melewati ujian mereka kali ini.


Iklhas .... hanya itulah sedang mereka perjuangkan kali ini. Berbekal keyakinan yang mereka miliki, akhirnya mereka pun meminta sang supir truck untuk segera menginjak pedal gasnya. Agar segera meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


***


Selesai melaksanakan sholat dan merapikan barang-barangnya, Langit pun bersikap sama. Keluar dari rumah yang kini bukan menjadi miliknya lagi.


Seperti kedua orang tuanya, Langit berusaha ikhlas menerima masalah yang kini sedang ia hadapi.


Namun, ketika ia hendak menari kopernya, Langit Teringat sesuatu.


Ia teringat pada wanita paruh baya yang pernah mengabdi padanya. Teringat pada mantan perawat yang pernah merawat Yuta. Teringat pada orang-orang yang pernah bekerja padanya.


Langit kembali mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah ini. Toh dia masih memiliki waktu tiga hari untuk hengkang dari rumah ini.


Teringat dengan beberapa orang yang pernah bekerja padanya, Langit pun segera mencari nomer ponsel mereka. Siapa tahu masih aktif dan bisa di hubungi. Entah mengapa, Langit yakin jika salah satu dari mereka pasti mengetahui sesuatu. Karena apa yang terjadi pada mereka seperti di sengaja oleh Yuta.


Pertama, Langit menghubungi Minah. Namun sayang, ponsel wanita itu tidak bisa dihubungi. Entah karena tak ada signal atau tak ada paket data, atau entahlah. Nyatanya tidak bisa dihubungi.


Lalu, pria ini mencoba menghubungi nomer mantan perawat yang merawat Yuta. Sayangnya, sama. Sama-sama tidak bisa dihubungi.


"Ya Allah, sebenarnya ponsel mereka kenapa sih? Kenapa nggak ada yang bisa dihubungi," Langit mengeluk kesal.


Untuk meredakan kekesalannya, Langit mengambil napas dalam-dalam. Kemudian mengembuskannya pelan. Pria ini diam, mencoba mengingat barang yang mungkin Yuta lupakan.

__ADS_1


Sedetik kemudian, ia teringat ponsel lama milik Yuta yang rusak dan masih ia simpan. Langit tersenyum girang. Sebab ia yakin, pasti di dalam ponsel tersebut, ada sesuatu yang mungkin bisa membantunya.


Bersambung...


__ADS_2