
Keesokan harinya...
Sejak kejadian malam tadi, Langit tak bisa memejamkan mata. Hati bergemuruh tak menentu, berharap hari segera siang. Tak sabar ingin bertanya kepada kedua orang tuanya. Barang kali, wanita bercadar itu juga mendatangi mereka. Setidaknya ia bisa memastikan, Siapa sebenarnya wanita itu.
Meskipun.... Langit yakin, bahwa wanita itu adalah Riana. Ia tetap gamang. Ingin tetap memastikan bahwa apa yang ia alami bukanlah mimpi. Wanita itu memang datang. Datang menjenguknya. Datang ingin melihatnya. Datang untuk memberinya semangat. Ia juga berharap, bahwa apa yang ia alami bukalhah halu belaka.
Langit ingin menghubungi nomer yang ja kasih label 'Seseorang', namun nomer tersebut tidak terdeteksi oleh ponsel sang ayah. Sepertinya Langit lupa menyimpan nomer itu di SIM cardnya. Langit ceroboh sekali.
"Langit, kenapa kamu bodoh sekali. Sekarang gimana? mau nyari di mana nomer itu?" tanya Langit pada dirinya sendiri.
Pria tampan ini terdiam sejenak. Lalu ia teringat nomer itu tersimpan di ponsel milik Riana. Sedangkan ponsel tersebut ia simpan di tempat super rahasia.
Langit diam sesaat. Ia kembali berpikir keras, bagaimana caranya ia meminta seseorang untuk membawakan tas milik Riana itu, ke rumah sakit tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya.
Bukan apa? Langit hanya tidak mau terjadi kesalahpahaman di sini. Langit tak mau kedua orang tuanya bertanya dari mana dia mendapatkan barang itu. Lalu mengapa ia menyimpan barang tersebut.
Langit tak ingin, kedua orang tuanya beranggapan bahwa dia menyukai wanita cengeng itu. Lalu, memberitahukan perasaannya ini kepada wanita itu. Tentu saja, dia tak ingin terlihat bodoh dan tak punya harga diri di depan Riana.
"Enak saja, siapa di sini yang suka sama dia. Dia itu wanita cengeng. Ogah aku suka sama wanita cengeng! Dia menyebalkan," ucap Langit kesal. Tidak terima dengan kenyataan yang saat ini membelenggunya. Bahwa sebenarnya ia memang jatuh cinta dengan wanita yang selalu dikatainya cengeng itu.
Pria ini diam sesaat. Mengotak atik ponsel milik ayahnya ini. Memeriksa daftar kontak, siapa tahu, dia bisa menemukan satu kontak yang bisa membantunya membawakan barang yang ia butuhkan itu.
Sayangnya, di dalam daftar kontak tersebut hanya ada beberapa teman sang ayah. Lalu ibunya. Lalu Azam. Sudah tidak ada lagi.
"Astaga, dasar ponsel sialan. Nomernya itu-itu doang!" gerutu Langit kesal.
Sedetik kemudian, ia teringat Azam. Sayangnya pria itu sedang tidak di Indonesia. Dia sedang berada di Surabaya. Sedang ada kerjaan di sana.
__ADS_1
"Zam... Zam... di saat gue butuh elu, elu malah ngilang!" ucap Langit di sela-sela panggilan mereka.
"Sorry bro. Pas elu telponan gue waktu itu, gue lagi di pesawat. Sumpah gue nggak tahu kalo elu dalam bahaya!" jawab Azam. "Gue turut berduka atas musibah yang menimpa elu, semoga cepet pulih ya!" tambah Azam.
"Ya, makasih banyak, Zam. Oke deh, semoga kerjaan elu lancar. Bye... " ucap Langit, kemudian mereka pun mengakhiri panggilan tersebut.
***
Setali tiga uang dengan Langit. Kedua orang tua pria tersebut juga bingung dengan kejadian aneh yang menimpa mereka hari ini.
Tiba-tiba saja, restoran yang mereka banjir orderan untuk satu minggu ke depan. Entah siapa yang membantu mereka mempromosikan restoran tersebut. Langit tidak mungkin, karena saat ini ponsel sang putra yang biasa dia gunakan untuk memasarkan orderan sedang rusak.
Pak Dayat juga tidak mungkin. Karena ponselnya saat ini sedang di pakai oleh sang putra. Sedangkan ibu Nana, ia tidak pandai perihal dunia marketing. Lalu, siapa yang melakukan ini.
"Siapa ya, Pa? Mungkinkah mereka pelanggan lama restoran ini? " tanya Ibu Nana heran.
"Coba, nanti kalo Papa ke tempat Langit, tanya Pa. Barang kali ini memang kerjaan dia!" ucap Bu Nana.
"Bolehlah, Ma. Kayaknya Papa juga curiga sama itu anak. Biarpun sakit, dia juga masih kerja. Makanya Papa nggak tega pas tahu ponsel dia rusak!" ucap Pak Dayat. Masih sedikit bingung dengan rezeki tiba-tiba ini.
"Iya, Pa. Semoga kita bisa bertemu dengan seseorang yang mempromokan restoran ini, Pa!" ucap Bu Nana.
Tak ada perbincangan lagi antara mereka berdua. Mereka sepakat untuk menyimpan kebingungan yang melanda pikiran mereka saat ini. Karena, mereka harus membuat pesanan yang telah di terima oleh restoran mereka. Berharap, ini adalah reward dari keikhlasan mereka selama ini.
***
Di sisi lain, pengasuh Ara sedang kebingungan dengan wanita yang mengaku sebagai ibu dari gadis cilik yang kini diasuhnya. Wanita paruh baya itupun tidak serta merta mengizinkan Riana menyentuh gadis cilik yang sedang ia asuh.
__ADS_1
Namun, Riana bisa membuktikan bahwa dia tidak berbohong. "Coba bibi lihat, ini adalah foto saya dengan Ara kan?" ucap Riana sembari memberikan foto yang ia ambil dari media sosial miliknya.
"Eh iya, tapi itu kan nggak pakai cadar?" jawab wanita paruh baya pengasuh Ara, ragu.
"Baiklah... saya akan buka cadar saya!" jawab Riana, kemudian ia pun membuka sedikit cadarnya. Lalu ia pun menutupnya kembali.
"Iya, tapi maaf, saya tetap tidak boleh percaya begitu saja, Bu. Saya harap Ibu tidak memaksa dan bisa mengerti posisi saya!" tolak wanita paruh baya itu.
Meskipun Riana ditolak, ia tidak marah. Riana tetap bersikap tenang. "Saya tidak akan membawa putri saya ke mana-mana, Bi. Saya cuma mau lihat dia aja. Cium dia. Itu aja kok. Ni bibi kalo nggak percaya, Bibi bawa aja tas saya, handphone saya. Nah, pegang! Yang penting saya bisa ketemu baby cantik saya!" ucap Riana sambil menyerahkan seluruh barang yang ia bawa kepada wanita paruh baya itu.
Seperti terhipnotis, wanita paruh baya itu pun menerima tas sekaligus handphone milik Riana. Lalu mengikuti langkah wanita bercadar itu.
Sesampainya di kamar Ara, Riana langsung bersimpuh di hadapan baby cantik yang kini terlelap manis itu. Dielusnya pipi gembil Ara, lalu ia pun mencium kening serta pipi yang tercium harum.
"Dia manis kan, Bi?" tanya Riana pada pengasuh Ara.
"Iya, Bu. Dia memang manis. Dia juga nggak rewel," jawab wanita paruh baya itu.
"Dia memang menggemaskan, Bi! Saya titip dia ya, Bi. Tolong jaga dengan baik putri saya! Tolong jangan bikin dia nangis ya, Bi!" pinta Riana.
"Baik, Bu. Insya Allah saya akan jaga putri ibu dengan baik. Kalo boleh tahu, ibu ini namanya siapa? Maaf kalo saya tidak sopan. Saya tidak tahu kalo ternyata dek Ara punya ibu secantik ini," ucap Wanita paruh baya ini, sopan.
"Nama saya Ria. Saya kerja dijauh, Bi," jawab Riana.
Tak ingin membuat Ara terbangun, menangis dan tak ingin ia tinggal, Riana pun memutuskan berpamitan. Sebab Riana sendiri juga pasti tidak akan tega jika melihat bayi cantik itu menangis dan tak ingin dia tinggal.
Bersambung....
__ADS_1
Like, komen n votenya tetap aku nanti ya gaesπππ