Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Dugaan


__ADS_3

Siang itu begitu terik. Matahari begitu panas menyengat kulit. Namun kondisi ini tidak menyurutkan niat sebuah keluarga untuk melangkah maju. Mereka bertiga sepakat melupakan kejadian yang beberapa bulan ini sempat menyesakkan dada. Mereka berusaha ikhlas dan ikhlas menerima kenyataan bahwa harta yang sempat mereka miliki itu bukanlah hal mereka lagi.


Setelah beberapa hari yang lalu menandatangani surat kontrak kerja sama dengan pemilik restoran ini. Kini keluarga Langit sudah mulai bergerak, merobak restoran yang telah dipercayakan kepada mereka.


Namun, ketika berada di satu titik, tiba-tiba Nana teringat akan tuduhan yang Yuta pernah dilontarkan kepadanya.


Perihal kematian kedua orang tuanya.


"Pa!" panggil Nana ketika melihat bunga mawar pink yang ada di depan matanya. Bunga itu adalah bunga kesayangan Okta Yang tak lain adalah ibu kandung Yuta.


"Ya, Ma. Ada apa?" Pak Dayat menghentikan aktivitasnya mengecat bagian restoran yang sedang mereka renovasi.


"Papa ingat Okta dan Frans nggak?" tanya Nana.


Pak Dayat mengerutkan kening. Aneh saja, kenapa tiba-tiba sang istri bertanya perihal mereka?


"Ya ingat lah, Ma. Bagaimana Papa bisa lupa mereka. Mereka kan sahabat terbaik kita. Andai Papa tahu di mana putri mereka, Papa nggak akan segan-segan merawatnya, Ma," ucap Pak Dayat. Sedih saja, sebab sahabat terbaik merek itu ternyata telah berpulang begitu cepat.


"Papa yakin mau merawat anak dari sahabat kita itu?" tanya Nana.


"Tentu saja, kenapa tidak?" balas Pak Dayat.


"Beberapa hari yang lalu, pas Yuta ke rumah, dia mengatakan bahwa orang tua kandungnya itu adalah Okta dan Frans, Pa. Dia bilang, kita yang telah melenyapkan kedua orang tuanya. Emangnya bener, Pa. Dia itu putrinya Okta dan Frans?" ucap Nana, menceritakan apa yang ia alami beberapa hari yang lalu.


"Kok Mama baru cerita? Papa nggak tahu, Ma. Kan di akte anak itu orang tuanya namanya buka Okta dan Frans. Tapi Kemal dan siapa gitu nama emaknya. Terus dia ngaku kan yatim piatu dan punya abang yang pengacara itu kan," jawab Pak Dayat, sesuai data yang ia baca dari silsilah keluarga Yuta.


Nana diam sesaat, lalu ia kembali menyuarakan dugaannya.


"Apakah mungkin ada yang memanfaatkan Yuta, Pa?" tanya Nana curiga.

__ADS_1


"Maksud Mama?" Pak Dayat bingung. Masih belum bisa menangkap apa yang sangat istri bicarakan.


"Gini loh, Pa. Yuta bilang kalo Okta dan Frans itu orang tuanya. Lalu, dia juga bilang kalo yang menyebabkan mereka meninggal itu kita. Pertanyaannya, dari mana dia tahu kalo kita yang menyebabkan Okta dan Frans kecelakaan. Kalo nggak ada yang kasih tahu, ya kan. Kok bisa-bisanya dia nuduh kita yang mencelakai mereka. Memangnya dia nggak baca berita. Kan kita waktu itu di luar negeri kan, Pa! Langit operasi. Ya mana sempat kita mikir nyelakain orang, mikir anak lagi sakit aja kita pusing. Ya kan?" ucap Nana sedikit ngegas.


"Mama bener juga ya, Ma. Apa sebaiknya kita tanya aja ke Yuta, Ma. Pasti ada titik terang. Dari pada kita menduga-duga," ucap Pak Dayat memberi ide.


"Hah, boleh tu, Pa. Coba tanya Langit, kawal sidang kedua dia kapan?" usul Nana.


"Coba deh, nanti Papa tanya!" Pak Dayat menatap sang istri. Namun tatapannya kali ini bukan tatapan cinta atau perihal perasaan. Tapi lebih ke rasa aneh, rasa curiga, penuh pertanyaan, pedih dugaan. Namun, dia sendiri masih bingung bagaimana cara mengungkapkannya pada sang istri.


***


Di sudut ruang yang lain, ada Raras yang sedang mondar-mandir gelisah.


Bagaimana tidak? Menurut kabar yang ia dapat, ternyata pria yang menghamilinya itu kini sedang mencarinya. Mencari keberadaannya. Tentu saja tak lain dan tak bukan, pria itu ingin mengambil anak yang saat ini dia kandung. Ia ingin merebut anak itu darinya.


"Non, ada apa?" tanya Riana.


"Aduh! Kaget aku Ri!" saut Raras, terang saja dia kaget. Sebab tiba-tiba saja Riana muncul di sampingnya.


"Ada apa sih, Non?" tanya Riana peduli.


"Pria jahat itu kabarnya sedang mencariku, Ri. Dia ... dia ...." Raras terlihat gugup. Bibirnya gemetar, seperti menahan rasa takut.


"Kok bisa, bukanya dia udah nggak peduli sama Non, sama dedek bayi juga?" tanya Riana penasaran.


"Setahuku begitu, Ri. Aku pikir pria jahat itu udah nggak peduli lagi sama aku. Aku pikir dia udah nggak mau lagi sama bayinya. Nyatanya si jahat itu masih saja mencariku. Udah ku bilang, aku tu nggak mau sama dia. Apa lagi sama keluarganya yang super serakah itu. Sampai kapanpun aku nggak akan mau!" jawab Raras di sela-sela isak tangisnya.


"Sabar, Non, sabar. Percayalah, semua pasti ada jalan keluarnya. Kalo boleh saya tahu, memangnya kenapa kok sampai dia begitu Non. Dulu nggak mau sekarang mau? Apakah mungkin dia mau karena menyesal akan perbuatannya, Non?" tanya Riana. Bukan bermaksud menekan Raras. Tetapi, setidaknya dia tahu alur ceritanya, agar bisa saling berbagi solusi.

__ADS_1


"Apa kamu serius mau tahu?" tanya Raras.


"Maaf, Non. Bukan bermaksud kepo. Tapi saya juga harus paham duduk permasalahannya. Baru saya bisa memberikan solusi terbaik. Lagian kalo Non sembunyiin terus yang ada Non stres sendiri. Nggak nemu solusi," jawab Riana.


"Begitukah?" Raras terlihat ragu.


"Ya... itupun Non juga harus percaya sama saya dulu. Tapi saya janji, bakalan menjaga rahasia ini. Demi Allah!" ucap Riana yakin.


"Baiklah, Ri. Aku coba jujur sama kamu. Jadi, setelah tahu aku hamil, aku pun menemui dia. Tentu saja dia kaget. Awalnya dia nggak percaya, tapi setelah aku bilang kalo aku hanya melakukannya sama dia, dia percaya. Lalu.... " Raras menghapus air matanya.


"Ya lalu?" Riana tampak serius.


"Lalu, dua hari kemudian, dia memaki-maki aku. Katanya aku berbohong. Saat itu dia datang ke aku bersama kedua orang tuanya. Dia menuduhku menjebaknya. Dia mengataiku wanita murahan, wanita ****** dan sebagainya. Bukan hanya itu, dia juga mengancamku akan menyabarkan video tak senonoh kami kalo sampai aku tidak mau mengugurkan kandunganku!" Raras mencoba menahan air matanya, tapi gagal. Air mata itu terus saja mengalir tanpa henti. Sebab rasa sakit yang ia rasakan kali ini sungguh-sungguh sangat sakit.


"Astaghfirullah ...." gumam Riana.


"Bukan hanya dia yang mengancamku, Ri. Seluruh keluarganya juga. Kalo sampai aku melahirkan bayi ini, maka mereka akan membunuhnya. Tapi konyolnya mereka akan membiarkan aku membesarkan bayi ini dengan


syarat, aku harus mengirim uang bulanan itu pada putra bangsat mereka. Bukanlah itu perbuatan yang sangat tidak bermoral. Siapa di sini yang dirugikan. Lalu kenapa aku pula yang harus memberikan uang bulanan pada anaknya. Gila kan mereka. Aku bukan takut apa, aku takut mereka mengambil bayiku, lalu melenyapkannya. Secara aku tahu bagaimana kejamnya mereka. Itu sebabnya aku nggak pernah keluar apartemen, Ri." Raras kembali menangis menjadi-jadi. Seperti tak punya saya dan kekuatan untuk melawan keluarga biadab itu.


"Sabar, Non, sabar. Insya Allah, Allah pasti kasih jalan. Sabar ya!" ucap Riana mencoba memeluk Raras. Dipeluknya wanita sebatang kara itu. Agar dia merasa tenang dan tidak sendiri.


"Aku hanya nggak habis pikir, Ri. Mereka masih saja ngejar bayi ini. Emang bayiku salah apa? Toh nggak menuntut mereka juga. Mereka memang gila, Ri. Aku benci mereka," ucap Raras lagi.


Kali ini, Riana tahu, kenapa Raras begitu membenci pria itu dan juga keluarganya. Di samping jahat, mereka juga serakah. Bukan membantunya membiayai calon cucu mereka. Malah merongrong sesuatu yang harusnya menjadi hak calon bayi ini.


Bersambung....


Like dan komen kalian sangat berarti... apa lagi kalo masih mau bermurah hati kasih Vote.. makasih banyak pokoknya🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2