Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Tamparan Untuk Langit


__ADS_3

Siang itu, udara begitu panas. Matahari terlihat sangat gagah, hingga mampu mengucurkan keringat orang-orang yang berlalu lalang di bawahnya. Tanpa terkecuali seorang Langit.


Pria yang bekerja sebagai sopir truck pengangkut tepung ini, terlihat begitu kucel dan lusuh. Maklum, secara materi sekarang Langit memang berbeda dengan Langit yang kita kenal dulu.


Sekarang Langit yang tajir bak Sultan itu sudah tak ada lagi. Yang ada hanya Langit, seorang biasa yang bekerja di tempat biasa.


Namun, Langit tidak berkecil hati. Ia tetap bisa berdiri tegak, menatap lurus, mengangkat wajahnya dengan sebuah keyakinan. Bahwa sesakit apapun masalah yang menghimpitnya, ia yakin, bahwa semua pasti ada jalannya.


Langit siap, sama sekali tak gentar menghadapi jalan hidupnya. Sebab yang penting baginya saat ini adalah tetap semangat mencari sesuap nasi untuk Ara, untuk kedua orang tuanya. Terlebih untuk membuktikan pada Yuta, bahwa dia baik-baik saja, meskipun dia telah menghancurkan hidup dan masa depannya.


Langit masih bisa dikatakan beruntung. Karena ia masih memiliki sahabat yang peduli padanya. Dia adalah Azam Ali. Seorang eksekutif muda di bidang desain interior.


Pria tersebut terlihat meneteskan air mata ketika melihat sang sahabat bersanda gurau dengan para sopir dan kenek yang seprofesi dengannya.


Sungguh, Langit terlihat hancur dalam pandangan Azam. Meskipun pria itu tetap berusaha tertawa dengan teman-teman barunya.Azam sangat tahu, bahwa sejatinya, Saat ini Langit sedang menyembunyikan suka yang ia rasakan.


Azam bukalah pria yang tidak beradab. Agar tidak menyinggung perasaan sang sahabat, Azam meminta sang sopir untuk mencari parkiran yang agak jauh.


Lalu ia mendekati Langit hanya menggunakan kaos biasa, celana pendek dan sandal jepit.


Tak lupa, sebagai buah tangan, ia membawakan beberapa makanan untuk para teman-teman sahabatnya tersebut.


"Lang! Oeee.... " Sapa Azam ketika ia sudah berada dekat dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


Langit yang mendengar seseorang memanggil namanya tentu saja segera mencari arah suara.


Senyum mengembangkan di bibir bapak satu anak ini, ketika melihat sang sahabat datang menyapanya.


"Hay, Zam. Weehhh, kapan sampai?" tanya Langit, menyapa sang sahabat seperti biasa. Berusaha tidak minder di depan teman-temannya yang lain. Padahal, jika di tanya, ia sangat malu saat ini.


"Gue udah nyampek dari kemarin. Tapi lu kan tahu, nyokap gimana?" jawab Azam dengan senyum sumringahnya.


"Ya .... ya... ya... gue paham. Kan nyokap kita mirip-mirip sikapnya. Mana mobil elu?" tanya Langit sembari celingukan mencari mobil milik Azam.


"Nggak ada, gue naik ojek. Eh, ini ada oleh-oleh buat elu dan kawan-kawan. Nah ..." ucap Azam sembari menyarankan beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman untuk mereka.


Langit pun mengambil tentengan itu. Lalu menyerahkannya pada teman-temannya. Selepas itu, ia pun kembali mendekati sang sahabat.


"Oke, aku ngerti kok," jawab Azam sembari mengajak Langit mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka bercengkrama.


"Gimana? Gimana? Elu mau ngomongin apa?" tanya Langit ketika mereka sampai di bangku kosong di dekat tempat kerja Langit.


"Eh, sampai lupa. Ini barang yang gue omongin ke elu." Azam menyerahkan tas berwarna merah itu pada sang sahabat.


Langit menatap sang sahabat. Sebab ia ragu. Ragu menerima tas itu. Apa lagi jika sampai tas itu memang benar milik Riana. Entahlah, ia merasa tak pantas aja menyentuh barang-barang wanita yang ternyata sanggup membuatnya merindu itu.


"Ini, katanya penasaran!" ucap Azam lagi, tentu saja kali ini dia memaksa Langit untuk menerima itu.

__ADS_1


Tak ingin menghadirkan pertanyaan yang mungkin akan memancingnga, Langit pun menerima tas itu tanpa membukanya terlebih dahulu.


Sayangnya, jiwa kepo Azam bangkit, pria ini pun memaksa Langit untuk membuka dan memeriksa isi tas tersebut.


"Kok ditaroh doang. Kan aku penasaran, kamu kenal nggak sama pemilik tas itu. Ayo dong, Lang, dibuka dulu. Diperiksa dulu. Aku kan pengen tahu, apakah dia ada hubungan denganmu. Soalnya, jujur, aku tertarik dengan pemilik tas itu," ucap Azam jujur.


Langit sedikit tersinggung dengan ucapan Azam. Bagaimana tidak? Azam tertarik dengan pemilik tas ini, yang disinyalir adalah Riana. Yang tak lain adalah istrinya.


Tak ingin membuat sang sahabat kecewa, Langit pun membuka pelan tas itu.


Hal pertama yang menjadi perhatian Langit adalah sebuah buku bersampul biru.


Entahlah, mengapa buku itu mempunyai daya tarik yang paling kuat di antara barang-barang yang lain. Mungkin di sana ada sesuatu tentangnya.


Pelan, namun pasti, Langit membuka pelan sampul buku itu. Pria tampan ini sedikit terkejut, karena pemandangan awal, ia di suguhi sebuah foto. Foto yang sama, yang pernah membuatnya marah besar dengan wanita itu. Yang nyatanya, wanita itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Bahwa ia juga tidak menyukai pernikahan ini.


Terbukti, di belakang foto tersebut, tertulis tanggal pernikahan mereka, dan juga sebaris kata yang membuat Langit merasa tertampar. Di sana, Riana menulis sebuah kata yang bermakna bahwa ia juga terpaksa. Sangat-sangat terpaksa.


Bukan impian, tapi sebuah kewajiban


Itu adalah sebaris kata yang Riana tulis di sana. Kata yang bermakna bahwa ini bukanlah impian, sungguh membuat hati pria ini teremas, sakit. Sebab pada kenyataannya, satu persatu apa yang pernah ia tuduhkan pada Riana tidak terbukti dan ini sungguh membuat Langit malu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2