
Seminggu berlalu sejak curhatan itu, Raras lebih banyak diam. Karena dia memang benar-benar takut. Takut kalau sampai pria itu menemukannya. Takut kalau sampai pria itu dan keluarganya mengambil bayinya. Takut kalau mereka melenyapkan bayinya. Takut kalau mereka akan melakukan sesuatu yang bisa menyakiti dirinya dan bayinya.
Ketakutan itu ternyata membuat kesehatan Raras drop dan harus dilarikan ke rumah sakit. Tekanan darah Raras naik. Sebab dia terlalu stres.
"Non, jangan melamun terus. Kasihan dedek bayi. Non-nya juga, heemm! Kita kan udah janji mau melewati ini bareng-bareng. Percayalah, saya akan jagain Non dan bayi ini terus!" ucap Riana mencoba membuat sang majikan tenang.
"Aku percaya sama kamu, Ri. Tapi mereka sangat licik." Raras terdiam.
"Kalo mereka licik, gimana kalau kita juga melawan mereka dengan cara licik?" tawar Riana.
"Maksudnya?" Raras bingung.
"Palsukan saja dokumen anak ini, Non. Non cari saja orang tua pengganti untuk dedek bayi. Orang yang Non percaya tentunya. Yang mau menjadi walinya. Hanya di dokumen saja sih. Hanya formalitasnya saja. Agar mereka tidak bisa menemukan anak ini. Soalnya sekarang kan canggih Non. Semua bisa dicari via internet," ucap Riana.
Raras diam sesaat. Lalu ia menatap Riana. Karena dia merasa, ide yang disampaikan oleh Riana cukup gila dan berani. Tapi menurut Raras tak ada salahnya dicoba. Demi keselamatan dirinya dan juga bayi yang saat ini berada di dalam kandungannya.
"Ide kamu gila, Ria. Tapi nggak ada salahnya. Kamu benar, merekan licik. Jadi harus dilawan dengan kelicikan." Raras mendesah kesal.
"Entahlah, Non. Ini baik atau tidak, tapi hanya itu yang terlintas di kepala saya. Kalo bisa, nyarinya jangan yang ada hubungan keluarga dengan Non. Biar mereka nggak curiga. Nggak gampang menemukan bayi ini," tambah Riana.
Raras masih diam. Mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh asistennya. Namun, tak dipungkiri bahwa ucapan tersebut sedikit membuka hatinya untuk realistis dan cerdas. Meskipun, Raras masih sangat ragu melakukannya.
Bagaimana tidak? Ini adalah bayinya, tapi demi melindunginya, dia harus menyerahkan formalitasnya pada orang lain.
"Non pikir-pikir dulu, pertimbangkan baik buruknya saran saya. Kalo buruk ya jangan dipakai." Riana mengambilkan sepiring buah yang memang sudah ia siapkan untuk sang majikan.
__ADS_1
"Ri, apakah kamu sudah bercerai dengan suami kamu?" tanya Raras tiba-tiba.
"Kemarin, kata adik saya, belum ada kabar apapun, Non. Jadi saya nggak tahu saya udah dicerai apa belum. Dan saya memang nggak mau cari tahu, Non. Biarin aja serah dia aja, Non. Saya nggak mau pusing mikirin sesuatu yang nggak penting. Toh saya juga masih nyantai soal jodoh. Nanti aja kalo misalnya saya udah ketemu some one yang benar-benar some one, barulah saya cari info and solusi untuk masa depan saya." Riana tersenyum.
"Kok ada wanita sesantai dan selugu kamu, Ri. Kalau dia nggak mau nyerein kamu, dan malah ngegantung kamu gimana?" tanya Raras penasaran.
"Jodoh, rezeki dan maut itu adalah rahasia Allah, Non. Saya nggak akan takut akan tiga hal itu."
"Oke, tapi gimana jika suami kamu mau kamu tetep jadi istrinya?" Raras menatap mata Riana.
"Kalo bisa jangan, Non. Kalo boleh meminta, juga jangan. Saya nggak mau, Non. Dia serem!" Riana mengkidik ngeri.
Raras tersenyum. Sebab Riana terlihat menggemaskan. "Nggak mau, nggak mau apa? Lu pikir, majikan lu ini ngak tahu, kalo lu selalu ngedoian dia kan. Cinta lu ya ama dia? Ngaku lu! " ledek Raras gemas.
"Oke baiklah, dia memang buka pria baik. Jadi sebaiknya jangan dicintai. Cuekin aja kali ya. Laki-laki kek gitu emang harusnya dicuekin sih," ucap Raras, bukan mendukung, tapi lebih ke meledek.
Sayangnya, Riana tidak menyadari maksud dan tujuan Raras berucap demikian hanyalah meledeknya. Riana masih saja terlihat cuek dan tidak peduli dengan perihal pribadinya itu. Tetapi tidak dengan Raras. Mengetahui sang asisten masih belum sepenuhnya berpisah dengan suaminya. Raras pun memiliki ide yang cukup gila.
"Ri!"
"Ya, Non!"
"Kamu mau nggak jadi ibu dari anakku?" Raras menatap Riana.
"Lah kalo saya nggak mau, mana mungkin saya ada di sini sih, Non?" tanya Riana, merasa aneh saja.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku. Emmm.... " Raras tampak ragu.
"Lalu?" Riana jadi bingung.
"Maksudku, maukah kamu jadi wali dari putriku. Hanya wali Riana, aku tidak memintamu menghidupinya," ucap Raras serius.
Riana tertegun. Bingung. Bukan tidak mau, tetapi Riana lebih tidak menyangka kalau Raras akan percaya padanya setinggi itu.
"Ri, kamu mau nggak?" tanya Raras memastikan.
"Sebentar, Non, sebentar. Saya napas dulu. Sebentar, ya! Sebentar!" pinta Riana, ia pun mengambil napas Sebanyak-banyaknya. Tentu saja dia tidak percaya dengan apa yang ia dengar . Ide gilanya malah menjerumuskan dirinya ke dalam ide tersebut.
"Non! Non yakin mau adek jadi anak saya? Non beneran percaya sama saya?" tanya Riana serius.
"Insya Allah, Ri. Aku percaya sama kamu, aku juga yakin sama kamu." Raras menatap nanar pada sang asisten. Sebab dia sedih, sangat-sangat sedih.
"Oke, kalo Non memang percaya sama saya. Saya pasti jagain putri, Non dengan baik." Riana ikut meneteskan air matanya. Sebab ia tahu ini pasti berat untuk Raras.
"Mungkin beberapa hari lagi aku bakalan nglahirin dia, Ri. Kamu siapin dokumen kamu buat akte dia ya, jangan lupa!" ucap Raras, kali ini tangisnya benar-benar meledak. Raras merasa sangat-sangat jahat. Tetapi sekali lagi dia tak punya pilihan lain. Ia yakin, suatu hari nanti sang putri pasti akan mengerti, kenapa dia melakukan ini.
***
Suara alarm terdengar nyaring. Namun, sang empunya, terlihat masih memejamkan mata. Tetapi bukan tidur. Sebab ada darah yang keluar hidung. Sepertinya dia pingsan.
Bersambung....
__ADS_1