
Pelan namun pasti, Riana menyibak tirai jendela kamar di mana dia berada saat ini. Pemandangan laut lepas di Kota Lamongan begitu menyejukkan hati. Di tambah semilir angin dan juga matahari yang mulai malu-malu. Sinar merah yang terpancar di ufuk barat menjadikan partanda bahwa matahari memang harus undur diri. Mengalah untuk bulan, agar bulan juga berkesempatan menunjukkan eksistensinya. Bersiap menggantikan tugasnya untuk malam ini.
Seuntas senyum tergambar jelas di bibir wanita ayu yang kini telah memantapkan hatinya untuk menutup auratnya. Semilir angin senja ini meniup lembut hijab warna merah marun yang menutupi mahkotanya. Entahlah, Riana begitu bahagia ketika ia bisa memutuskan untuk move on dari masalah yang terjadi padanya beberapa hari ini.
Riana tak ingin mengingat lagi pernikahan yang pernah terjadi padanya. Wanita cantik ini menganggap, pernikahan itu hanyalah pengalaman hidup yang mengajarjannya bagaimana harus lebih sabar dan menerima. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.
Pasal perceraian, Riana tidak peduli. Terserah keluarga itu, mau meneruskan perceraian ini atau tidak. Yang jelas ia sudah menandatangani surat itu. Perihal sidang dan keputusan cerai, Riana telah mempercayakan pengacara untuk mengurusnya.
Malam ini, Riana dijadwalkan bertemu dengan Raras, wanita yang telah menerima Riana bekerja sebagai pengasuh bayinya nanti.
Secara pribadi, Riana sudah menyiapkan segalanya. Baik surat-surat yang diperlukan untuk melengkapi dokumennya ketika nanti ia tinggal di Italia.
Beberapa menit berlalu, Riana tersentak dari lamunan. Mana kala terdengar suara ketukan pintu. Wanita bernama lengkap Riana Ekaristi ini pun segara beranjak dari tempatnya berdiri dan membukakan pintu untuk seseorang yang mengetuk pintu tersebut.
"Iya, Bude. Ada apa?" tanya Riana kepada istri pakdenya itu.
"Bersiaplah, itu sopir Non Raras udah jemput kamu," jawab wanita ayu itu.
__ADS_1
"Benarkah? Cepat sekali, Bude. Baiklah, tunggu lima menit, Ria segera turun!" jawab Riana yang saat ini memang berada di lantai dua rumah milik Herman dan istrinya itu.
"Iya, Bude sama Pakde tunggu di bawah ya! Perhatikan barang-barang kamu. Jangan sampai ada yang tertinggal, apa lagi yang penting-penting. Obat-obatan jangan lupa juga. Takutnya di sana kamu susah cari obat yang cocok buat kamu," jawab wanita itu.
"Siap, Bude. Makasih banyak!" jawab Riana sembari mengembangkan senyuman manisnya. Kemudian wanita paruh baya yang selalu Riana panggil dengan sebutan Bude itu pun ikut tersenyum. Meskipun detik-detik perpisahan telah tampak di depan mata. Entahlah, semua serasa bahagia saja.
Riana telah berganti pakaian dengan stellan berwarna abu tua itu. Dipadu padankan dengan dengan hijab senada. Riana tampak begitu cantik dan anggun. Meskipun separo wajahnya ditutupi masker.
"Ria, kenalin ini Pak Suhendra. Sopir pribadi Non Raras. Hen kenalke iki ponakanku, jenenge Riana. Titip ya Hen, kalo ada apa-apa telpon aku," ucap Herman kepada teman sesama sopir.
"Siap, Man. Tenang aja. Koen kan kenal Non Raras aa... Ndak usah tenang begitu!" jawab Pak Suhendra sembari terkekeh.
"Tenang aja, pria itu sudah lama ndak datang kok. Semoga selamanya nggak datang. Udah jangan ngomongin urusan orang. Kan itu urusan mereka," larang Pak Suhendra, bermaksud mereka aman dari orang-orang yang berada di sekeliling Raras.
"Baiklah, Hen. Aku percoyo awakmu!" jawab Herman kepada sahabat baiknya itu.
Tak lama kemudian, Suhendra pun berpamitan sembari membawa Riana ikut serta bersamanya.
__ADS_1
Di dalam mobil, Suhendra berpesan pada Riana agar jangan membantah sedikitpun apa yang di inginkan Raras. Wanita itu sangat labil, karena sebelum ini, ia tertimpa maswlah bertubi-tubi. Sehingga membuat jiwa wanita itu rapih dan menjadi sensitif.
"Memangnya apa yang terjadi dengan majikan kita, Pakde? Kenapa beliau jadi pemarah dan labil sekarang?" tanya Riana. Bukan mau sok tahu, tetapi jika dia tahu masalahnya sekarang, setidaknya Riana bisa berjaga-jaga terhadap lisan dan perbuatannya.
"Beberapa bulan yang lalu ayahnya meninggal karena kecelakaan. Saat ini, ibu tirinya ribut minta pembagian warisan. Belum lagi pria yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab. Seperti itulah, Ria. MakanyaPakde berpesan, tolong buat Non Raras senyaman mungkin bersamamu. Agar dia merasa masih ada orang-orang yang menyayanginya. Masih ada orang-orang yang peduli padanya," jawab Pak Suhendra jujur.
"Baik, Pak. Insya Allah saya akan menjaga perasaan nona kita dengan baik," jawab Riana sembari tersenyum. Namun, tak dipungkiri bahwa hatinya sedikit ngilu dengan masalah yang dihadapi oleh calon majikannya itu.
Di sini Riana jadi yakin, bawa setiap manusia itu memiliki ujian hidup yang berbeda-beda. Sebab ia tahu, bahwa Tuhan pasti punya rencana sendiri untuk mereka.
***
Lain Riana lain pula Yuta. Wanita ini menaruh curiga pada Minah. Melihat lirikan dan tatapan Minah kepadanya, Yuta sudah tahu jika wanita paruh baya itu pasti mengetahui sesuatu tentangnya.
Namun, untuk sementara ini, Yuta masih belum bisa bertindak atau melakukan. Sebab di samping Minah bukanlah dia yang memberi gaji, ada Ara yang membutuhkan pengasuh. Ia tak mau terbenani dengan mengurus bayi menyebalkan itu menurutnya. Yuta tak mau jika nantinya Langit akan memintanya untuk mengasuh bayi itu.
Yuta memutar otak, bagaimana caranya ia mendapatkan pengasuh untuk Ara dan kebohongannya selama ini tidak dibongkar oleh Minah.
__ADS_1
"Bagaimana kalo aku suruh Minah dan Ara tinggal di rumah mama saja. Sepertinya itu lebih baik. Aku tidak diributkan dengan suara tangisan bayi itu. Aku lebih bebas menglabuhi pria bodoh itu," ucap Yuta ketika menemukan ide untuk menyingkirkan Minah dan Ara dari rumah ini. Sebab, besok malam Vicky akan datang ke rumah ini. Mau tak mau Yuta harus mengosongkan rumah ini.
Bersambung....