
Malam pun tiba. Langit memberanikan diri berbincang dengan kedua orang tuanya. Mengajak mereka berdiskusi perihal tuntutan yang diajukan Yuta kepadanya.
"Ma, Pa, Langit mau ngomong sesuatu sama Papa, sama Mama," ucap Langit.
"Ya, boleh. Sini lah, mari duduk," ajak sang ibu sambil menyiapkan karpet lipat untuk sang putra.
Diperlakukan sedemikian istimewa, hati Langit sedikit trenyuh. Sedih saja. Bagaimana tidak? Ia sudah membuat kedua orang tuanya jadi menderita seperti ini. Tapi mereka berdua masih sangat mencintainya. Mereka berdua masih sangat menyayanginya.
Membantunya menjaga sang putri, tanpa meminta imbalan sedikitpun. Justru mereka malah membantunya membeli semua kebutuhan pribadi Ara, sang putri.
"Pa, Ma, Langit mau minta maaf atas semua yang terjadi pada keluarga kita. Langit juga minta maaf, belum bisa mengganti semuanya. Tapi Langit janji, Langit bakalan kerja keras buat bahagiain kalian. Langit tahu, kalo Langit nggak mungkin bisa ngembaliin seluruh aset Mama dan Papa, tapi Langit janji akan bikin keluarga kita bahagia, Pa, Ma. Langit janji," ucap Langit sambil memegang kedua tangan ayah dan ibunya.
Nana dan Dayat saling menatap. Tak menyangka bahwa putra pendiamnya mau berbicara lagi dengan mereka. Sebab, sejak mereka tinggal di kontrakan ini, Langit jarang sekali mau berbicara dengan mereka. Langit jadi pendiam dan suka menyendiri. Selalu terlihat murung dan anti sosial. Membuat mereka berdua khawatir.
"Sudah, nggak usah diingat-ingat lagi, Nak. Mama dan Papa Insya Allah sudah ikhlas. Kita positif thinking saja, mungkin Mama sama Papa kurang bersedekah, makanya harta itu terlepas. Mungkin selama ini Mama sama Papa lalai, makanya Allah ambil kembali harta titipan itu. Sungguh, Mama dan Papa udah ikhlas. Yang penting kamu jangan murung lagi, yang penting kamu bisa melewati ini. Mama sama Papa udah bersyukur sangat," ucap Nana sembari mengelus lengan sang putra.
"Makasih banyak, Ma, atas dukungan, pengertian serta kasih sayang Mama dan Papa selama ini. Andai dulu Langit lebih dengerin Mama dan Papa, pasti ini semua tidak akan terjadi." Langit menunduk malu.
"Nggak, udah. Jangan dibahas lagi. Oiya, tadi siang kamu ketemu siapa? Papa bilang kalian langsung aja, nggak pakek mampir ya?" tanya Nana penasaran.
"Oh, tadi itu Azam, Ma. Kawan Langit yang suka makan kalo pas main dulu." Langit tersenyum.
"Oh, si Azam yang punya toko keramik itu?" tanya Pak Dayat.
__ADS_1
"Iya, Pa. Itu dia," jawab Langit.
"Ohhh! Oke!" Pak Dayat enggan banyak bertanya, takut Langit jenuh.
"Jadi gini, Pa, Ma. Tadi dia nawarin Langit buat kelola dia punya resto. Tapi Mama sama Papa tahu kan kalo Langit nggak handal dalam hal menu. Paling Langit cuma bisa memasarkan saja. Jadi Langit mau minta Papa sama Mama buat bantu Langit kelola resto itu. Siapa tahu, kerja sama kita ini bisa bawa ekonomi keluarga kita kembali stabil, Ma, Pa," ucap Langit memberi tahu hasil pertemuannya tadi siang dengan sang sahabat.
Mendengar kabar bahagia itu, tentu saja Nana dan Dayat langsung tersenyum. Mereka bahagia. Tidak menyangka, bahwa pertolongan Tuhan begitu cepat. Tuhan tidak membiarkan mereka berlarut-larut dalam keterpurukan.
Ada saja yang mau mengulurkan tangan untuk mereka. Beberapa hari yang lalu Riana. Lalu hari ini sahabat terbaik sang putra, si Azam. Seorang pemuda yang mengidolakan masakan ibu Nana.
"Azam mau Mama sama Papa, kita kerja sama buat ngidupin resto itu, Ma, Pa. Siapa tahu ini bakal jadi kadang rezeki buat kita." Langit menatap Mama dan papa nya. Mencoba meminta pertimbangan.
"Oke, nggak masalah. Papa siap bantu," ucap Pak Dayat.
"Mama pun!" tambah Bu Nana antusias.
"Besok Langit mau menghadiri sidang pertama perceraian dengan Yuta. Ma, Pa, Langit minta doa nya," ucap Langit.
Nana dan Dayat saling menatap. Sungguh, hati mereka terasa teremas, amat sakit rasanya. Tidak tega saja, kalau pada akhirnya pernikahan sang putra harus kandas dalam keadaan menyedihkan seperti ini.
"Udah, Mama sama Papa nggak usah sedih begitu. Yang penting Mama sama Papa do'ain, Langit. Semoga bisa melewati semua ini." Langit tersenyum, namun, kedua orang tua Langit tahu, jika senyuman itu adalah senyuman yang mengandung sejuta luka.
"Apa kami perlu ikut kamu datang ke pengadilan?" tanya Nana.
__ADS_1
"Nggak perlu, Ma. Ini agendanya masih mediasi. Langit masih santai ngadepin ini. Emmm, Langit cuma mau tanya itu, Ma. Tahu nggak nomer HP Minah. Yang lama Langit hubungi nggak bisa-bisa, Ma," jawab Langit.
"Minah? Kenapa Minah? Ada apa dengan Minah?" tanya Pak Dayat bingung.
"Nggak ada apa-apa, Pa. Langit cuma mau nanya saja sama dia. Siapa tahu dia tahu sesuatu." Langit terlihat gelisah. Karena sebenarnya, ia ingin bertanya perihal Riana. Hanya saja ia takut.
"Ohh, coba besok Mama coba bantu. Ini udah malam, sebaiknya kamu istirahat. Jangan capek-capek. Jaga kesehatan ya!" pinta Nana sembari mengelus kepala sang putra.
Langit menyetujui permintaan itu. Ia pun berpamitan untuk kembali ke kamar. Untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya tentunya.
****
Berbeda dengan Langit yang kini sudah menemukan setitik harapan untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Di sini ada Yuta yang marah besar. Karena ia tahu telah di tipu oleh orang yang ia sayang. Oleh orang yang ia cinta.
Nyatanya, rayuan Vicky hari itu, tentang tawarannya perihal bekerja sama untuk pembangunan beberapa resort ternyata adalah bohong belaka.
Tanda tangan yang ia butuhkan di kertas kosong itu, ternyata adalah akal-akalan Vicky untuk mengambil alih kekuasaan atas perusahaan bekas milik keluarga Langit. Dan bodonnya, tanda tangan yang ia buat di kertas kosong itu, juga sudah bermaterai.
Kini, Yuta harus mempersiapkan diri ditendang dari apartemen yang kini ia tempati.
Bersambung.....
__ADS_1
Like like like jangan lupa..
Thank yang udah mau komen. Karena komen kalian sangat berarti untuk novel ini🥰🥰Lope lope buat kalian...