
Bersamaan dengan keluarnya Riana dari kamar, terlihat Raras juga keluar dari kamar. Sama-sama berjalanenuju dapur. Namun, Raras terlihat terus meringis. Sepertinya dia sedang merasakan sesuatu yang kurang nyaman.
Riana yang melihat Raras kesakitan, langsung tanggap. Ia pun langsung menghampiri wanita itu dan bertanya dengan sopan. "Ada apa, Non? Apa yang terjadi?" tanya Riana sembari menyiapkan kursi untuk sang majikan.
"Entahlah, Ri. Perutku sakit sekali. Tidak seperti biasanya. Aku kan nggak salah makan ya," jawab Raras sembari terus meringis menahan sakit yang ia rasakan. Dielusnya pinggang yang berasa sangat pegal.
"Bukankah hari perkiraan lahirnya masih bulan depan ya, Non? Mungkinkah Non mau melahirkan?" cecar Riana heran.
"Nggak! Iya kamu benar. HPLnya masih lama, tadi aku udah konsultasi ke dokter, katanya itu biasa terjadi di kehamilan tua. Duh rasanya kaku sekali seluruh tubuhku ini. Ya Tuhan!" Raras sampai menjatuhkan kepalanya di meja makan. Sangking sakitnya.
"Sabar, ya Non. Mari minum dulu!" pinta Riana sembari membantu Raras meminum segelas air putih yang sengaja ia siapkan untuk wanita itu.
Dengan senang hati, Raras pun meneguk air itu. "Makasih, Ri. Makasih banyak. Malam ini kamu tidur di kamarku ya, Ri. Aku nggak mau sendiri!" pinta Raras.
"Siap, Non. Yuk baring aja, siapa tahu enakan!" ajak Riana sambil membantu Raras berdiri.
Raras tak menolak. Ia pun langsung mengiyakan permintaan itu.
"Makasih ya, Ri. Kamu udah mau jagain aku," ucap Raras ketika Riana membantunya berbaring.
"Iya, Non. Jangan sungkan! Bukankah kita sudah berjanji untuk saling menjaga," jawab Riana sembari mengelus pinggang Raras. Agar sang majikan merasa lebih nyaman.
"Oiya, Ri. Rewardnya sudah dikirim ke rekeningku. Kamu kasih nomer rekening ya, nanti aku transfer," ucap Raras sambil menikmati elusan tangan Riana yang selalu memperlakukannya seperti ratu itu.
"Emmm, Non. Kok saya jadi pengen kasih reward itu ke Ara ya. Kira-kira orang tuanya tersinggung nggak ya, Non?" ucap Riana spontan. Karena niat itu juga terlintas spontan dalam pikiranya.
"Ya nggak lah. Itu malah bagus, jadi niat kamu langsung tersampaikan. Menuruku nggak pa-pa, sih. Kan kamu ngasih anaknya, bukan emak bapaknya." Raras terlihat memiringkan tubunnya. Agar lebih nyaman.
"Aku cuma takut sama emak bapaknya, Non. Kan uangnya nggak seberapa buat mereka," jawab Riana ragu.
__ADS_1
"Eh, uang segitu banyak loh, Ri. Bayangin kamu kerja di aku lima bulan baru dapet segitu. Ya kan. Kalo kamu takut sama emak bacanya. Kamu jangan kasih ke orang tuanya lah, titipin ke siapa gitu. Yang sekiranya kamu percaya dan sampai ke dia," jawab Raras, terdengar malah mendukung niat itu.
"Emmm, kalo aku titipin ke mantan mertua, boleh kali ya, Non. Kan niatnya baju itu memang buat dia. Biar sampai ke dia gitu, Non. Lagian ngapain aku banyak-banyak nyimpen uang, ya kan. Ikut Non kan hidupku udah ke jamin. Terus adik saya juga sering kasih yang jajan. Nggak enak Non, kebanyakan uang," jawab Riana sesuai dengan apa yang ia rasakan selama ini.
"Dasar bodoh! Kalo orang banyak uang itu enak, Ri. Mau ngapa-ngapain bisa. Mau jalan-jalan ke Luar Negeri, bisa. Mau makan enak, bisa. Mau apa aja bisa. Dasar wong aneh, banyak duit kok malah oleng!" Raras terkekeh.
"Saya nitip ya, Non. Tolong transfer uang itu ke Rekening mertua saya. Biar buat nyenengin itu bocah. Kasihan, bapaknya kan mesti nyari buat berobat ibunya." Riana tersenyum.
"Kamu bilang suamimu kaya raya, kok jadi kasihan?" tanya Raras heran.
"Iya, Non, mereka memang kaya raya. Entahlah, pokoknya itu udah jadi niatku, uang itu, hadiah itu, aku pengen kasih ke Ara saja. Udah, nggak ada alasan lain," jawab Riana, bingung harus bagaimana dia menjelaskan niatnya ini pada sang majikan.
"Oke, nanti aku bantu tranfer. Yang penting kamu konfirmasi dulu ke mertua kamu. Jadi mereka nggak bingung," ucap Raras mengingatkan.
"Oke, Non. Siap! Besok saya akan telpon beliau dan mengabarkan ini pada mereka. Semoga saya masih nyimpen nomernya," ucap Riana sambil tersenyum senang.
"Saya kan cuma ngekorin, Non. Maaah di suruh siap-siap juga. Aneh, Non ini!" Riana ikutan tersenyum.
"Siap-siap dapat pengalaman maksudnya. Biar makin pinter. Nanti aku bakal kenalin kamu ke orang-orang penting di sana. Siapa tahu, nanti kamu bisa berjalan sejajar dengan mereka," ucap Raras sungguh-sungguh.
"Aamiin, Non, Aamiin. Semoga doa, Non, terkabul. Saya janji nggak akan melupakan kebaikan Non kepada saya. Saya pastikan bakalan jagain baby cantik ini dengan hati dan jiwa saya. Saya bersumpah, Non," jawab Riana tak kalah serius.
***
Tak ada yang lebih sakit dari sebuah penghianatan. Kini, Langit benar-benar merasakan itu. Bukan hanya hati yang tersakiti. Namun juga jiwa. Namun juga raga. Harta, tahta, kekuasan, bahkan semua yang ia miliki.
Kini, Langit sedang merapikan barang-barangnya yang ada di rumah yang selama ini ia tinggali bersama wanita penghianat itu.
Surat peringatan dari bank sudah ia terima. Yang artinya, ia harus segera mengosongkan rumah itu.
__ADS_1
Tak ada lagi yang tersisa sekarang. Selain nyawa dan badan. Namun, jangan panggil dia Langit kalau menyerah dengan keadaan.
Mungkin tidak sekarang, tapi Langit yakin, suatu hari nanti, dia pasti bisa membalas semua perbuatan jahat wanita itu.
"Kita lihat, Yuta. Kamu telah bermain-main dengan Damar Langit, bersiap-siaplah untuk terbakar!" ancam Langit geram.
Sedetik kemudian, ia pun teringat rekaman CCTV yang ada di rumahnya. Pria tampan ini pun langsung mencari laptop dan langsung bersiap membuka rekaman-rekaman . Siapa tahu, ia bisa menemukan bukti-bukti yang ia cari. Tentu saja untuk melawan wanita ular itu. di persidangan nanti.
Langit tersenyum senang. Setidaknya dia masih memiliki harapan untuk menegakkan keadilan. Untuk membuktikan kebenaran. Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung memasukkan kata sandi untuk berselancar dengan laptop, harapan satu-satunya yang ia miliki.
Beruntung, belum ada satupun rekaman yang ia hapus selama CCTV itu terpasang.
"Ya Allah, bantu aku untuk membuktikan bahwa apa yang wanita jahat itu tuduhkan tidak benar!" pinta Langit sembari menekan tombol-tombol yang biasa ia jadikan kata sandi untuk laptopnya.
Sembari menunggu alat canggih itu memutar rekaman yang ia pilih, Langit pun meminum kopi yang sempat ia bikin beberapa menit yang lalu.
Sayangnya, di rekaman pertama yang nampak bukanlah Yuta. Melainkan wanita yang kini sedang ia cari. Di rekaman tersebut, nampak Riana sedang berjalan membawa setumpuk baju menuju kamarnya. Lalu, beberapa menit berlalu, wanita cantik itu keluar dari kamar pribadinya. Di pertengahan jalan, ia bertemu dengan Minah, tepat di depan kamarnya. Terlihat Riana menyapa wanita paruh baya itu. Lalu bercengkrama akrab, seakan tidak ada jarak.
Langit begitu menikmati rekaman itu. Tersenyum sendiri, seakan apa yang ia saksikan saat ini adalah obat dari segala rasa kecewa yang ia rasakan.
Bersambung...
Like
Like
Like
Komennya jangan lupa yes🥰🥰🥰🥰
__ADS_1