
Mungkin semua orang yang membaca kisah Riana, pasti akan mengatakan dia bodoh. Sangat bodoh. Sangat-sangay bodoh. Bagaimana tidak? Ia tidak diinginkan sebagai seorang istri. Dianggap pembantu oleh sang suami. Dianggap tak lebih hanya seorang pengasuh untuk putri pria itu. Bukan hanya itu, ia juga disiksa lahir batin. Sering dicaci dan dimaki. Bahkan pernah dianggap sebagai pekerja **** komersial. Hanya karena Riana mau menikah dengannya dengan syarat. Ahhh, entahlah...
Namun, anehnya sampai detik ini, Riana tetap mengharapkan kebaikan untuk pria itu. Mengharapkan kebahagiaan untuk pria yang pernah menyakitinya itu. Jika ditanya, mengapa dia menginginkan kebaikan untuk pria itu, Riana pasti akan menjawab tidak tahu. Karena nyatanya, dia memang tidak tahu.
Saat ini, Riana sedang sibuk memasak untuk wanita yang dengan suka rela menerimanya bekerja. Tanpa peduli, saat ini Riana sedang punya masalah atau tidak. Riana memiliki hutang atau tidak. Wanita itu terlihat tidak peduli dengan asal usul Riana. Bukan hanya itu, wanita yang saat ini sedang hamil itu juga mengajarinya banyak hal. Termasuk mendesain baju. Agar desain milik Riana lebih sempurna.
"Ria, lagi ngapain?" tanya Raras tiba-tiba saja ada di belakangnya.
"Eh, Non Raras. Kaget aku. Ini lo lagi bikin ayam asam manis, sub rumput laut sama jus lemon kesukaan calon baby cantiknya Mbak Ria," jawab Riana dengan senyum termanisnya.
"Calon baby cantiknya mbak Ria, konon. Enak saja. Ini anak mami Raras yang paling paling manis nan kece," balas Raras tak mau kalah.
"Nggak bisa Non, nanti ni ya, si baby pasti bakalan sering sama saya. Pasti dia lebih dekat sama saya. Jadi dia tetap milik saya, secara lahir dan batin." Agaknya, Riana sengaja memancing rasa kesal sang majikan. Bukan bermaksud kurang ajar, Riana hanya ingin memeriahkan suasana saja.
"Dih, gila! Kalo mau baby ya bikin sendiri sanalah!" Raras mencebikkan bibirnya gemas.
"Mau Non, tapi sayang nggak ada lawan. Sepertinya saya bakalan jadi jomblo karatan ini. Sudahlah, Non. Izinkan saya jadi ibu angkatnya babynya Non aja," jawab Riana asal.
Tak ayal, mendengar celetukan tak bermutu Riana, Raras pun tertawa. Baginya, Riana memang selalu bisa membuatnya bahagia.
"Bisa aja kamu, kan kamu ada suami. Tinggal minta aja ama dia. Lain aku, ini gara-gara mabuk darat jadi begini. Tapi aku tidak menyesal, Ria. Aku malah bahagia. Setidaknya aku masih punya keluarga kandung, iya kan!" jawab Raras sedikit sedih.
"Non kan tahu, suami saya nggak mau mau sama saya. Nggak pengen punya istri kek saya. Mana mungkin saya minta anak. Yang ada dia bakalan cekik saya. Bisa dimaki-maki nanti saya sama dia. Non, ini ada-ada saja." Riana tersenyum namun tak melupakan apa yang sedang ia kerjakan.
__ADS_1
"Suami kamu aja yang bodoh, Ri. Masak wanita sebaik kamu disia-siakan. Aku jadi penasaran, kek mana muka suami kamu? Belagu bener!" ucap Raras kesal.
"Hahahahha, jangan Non. Buat apa?" Riana terkekeh.
"Ya aku penasaran aja sih. Kamu cantik, baik, sholehah, sholatnya rajin, ngajinya nggak ketinggalan. La kok ditolak. Kan bodoh. Aku jadi penasaran kek mana muka pria sok jual mahal itu," tambah Raras kesal.
"Jangan penasaran sama dia, Non. Dia itu udah ada seseorang di hatinya. Jadi wajar kalo mau setia. Menolak saya. Kan Non tahu, saya itu istri paksaan. Jadi nggak penting," jawab Riana jujur.
"Iya sih, kamu kan udah cerita waktu itu. Tapi ya nggak tahu kenapa aku penasaran aja. Kok ada laki-laki dikaruniai tulang rusuk seistimewa ini, nolak. Nggak pengen apa punya anak secantik emaknya ini," ucap Raras merasa aneh.
"Namanya manusia itu punya rasa, Non. Dan Rasa itu tak bisa dipaksakan. Aku nggak menyalahkan dia karena tidak mau menerimaku. Nggak masalah kalo dia nggak mau sama aku, hanya saja nolaknya kasar. Sikap kasaenya itu loh yang tidak bisa saya terima. Sudahlah, Non. Jangan ngomongin dia mulu. Nanti dia kegigit," jawab Riana masih dengan tawa cerianya.
"Kegigit? emang dia ngapain?" tanya Raras lugu.
Raras menciutkan matanya, aneh dengan jawaban tak masuk akal sang asisten.
"Ya, ya baiklah. Kamu benar Riana. Kamu benar. Rasa .... Rasa memang misteri. Ahhhhhh, sudahlah ... aku sendiri saja ditolak. Anaknya tidak diakui, ngapain juga mikirin kamu. Yang nyata-nyata sudah rela melepaskan sang suami aroganmu itu. Ya kan," lanjut Raras sembari meneguk jus lemon yang Riana siapkan untuknya.
"Makanya, Non. Kita tutup aja perihal para pria-pria dengan harga diri tinggi ini. Cukup kita doakan saja. Semoga Tuhan selalu melindungi mereka. Mereka selalu bahagia. Hingga jangan sampai repot-repot cari kita. Biar kita juga tenang melangkahkan kaki, ya kan. Tanpa di hantui bayang-bayang para pria budiman itu," balas Riana santai. Sesantai apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Heemmm, baiklah Riana. Kamu memang benar. Mari kita doakan para pria-pria itu. Supaya mereka baik-baik saja. Biar nggak nganggu kita lagi." Raras tersenyum. Meskipun jujur, hatinya sangat sakit saat ini. Pikirannya mendendam. Bagaimana bisa dia mendoakan baik untuk pria biadap yang menghamilinya tanpa mau bertanggung itu. Tidak ada sedikitpun keinginan dalam hati Raras kebaikan untuk pria itu. Sampai matipun tidak akan pernah, batinnya geram.
Semenit berlalu, ponsel Raras berdering. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil ponsel miliknya di ruang tamu. Namun, dengan cepat Riana pun melarangnya.
__ADS_1
"Jangan Non, biar saya saja yang ambil!" larang Riana sambil berlari mengambil ponsel itu.
"Astaga, Ria! Sampai kapan aku akan bersikap seperti ibuku. Aku bisa kalo cuma ngambil ponsel saja," ucap Raras sambil menciutkan matanya.
"Pokoknya, selama ada Ria, Non Raras nggak boleh capek-capek. Oke!" jawab Riana sembari menyerahkan ponsel itu untuk sang majikan.
"Heeemmm, makasih," jawab Raras sembari menyunkan bibirnya.
Riana tahu jika Raras pasti menganggapnya lebay. Tetapi, itu adalah salah satu caranya untuk melupakan apa yang sebenarnya menganggu pikirannya. Hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang.
Sementara Riana mengerjakan pekerjaannya, Raras pun memeriksa email-email yang masuk ke ponselnya. Dengan teliti, ia pun memeriksa satu persatu email yang masuk.
Di email yang kini sedang ia buka, mata Raras terbelalak tak percaya. Sebab email yang ia terima sangat istimewa. Sangat-sangat istimewa. Isi email yang tidak ia sangka.
Raras bersorak gembira seolah dia mendapatkan sesuatu yang sangat ia inginkan. Tentu saja reaksi heboh Raras menjadi perhatian tersendiri untuk Riana.
Penasaran, Riana pun segera mendatangi sang majikan. "Ada apa, Non? Kok seneng begitu?" tanya Riana dengan senyum ikut senang.
"Lihat ini Riana, karyamu juara dua. Kamu juara Riana. Lihat ini lihat, Masya Allah... luar biasa Riana Ekaristi. Selamat... pokoknya selamat. Kamu luar biasa!" ucap Raras antusias. Wanita itu kembali fokus pada ponsel dan terus membaca email yang ia terima. Sedangkan Riana, hanya tertegun tak percaya. Kabar yang ia dapat kali ini, sungguh, seperti mimpi baginya.
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan votenya ya geng.. Makasih🥰🥰🥰
__ADS_1