Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Cinta itu Ada


__ADS_3

Suara tangis baby Shanshan mengejutkan Riana dan juga Langit. Mereka terlihat sama-sama malu. Karena saat ini mereka dalam keadaan masih sama-sama tidak memakai busana.


Langit hanya mengenakan ****** ******** sedangkan Riana masih dalam keadaan tidak mengenakan apapun. Karena, ketika ia hendak memakai busananya, Langit tidak mengizinkan.


Ia ingin sang istri tetap dalam polos seperti ini. Langit ingin menikmati keindahan snag istri yang ia rindukan siang dan malam. Entahlah, Langit menyukai itu.


Riana tidak menolak, karena ia tahu, bahwa dirinya adalah milik Langit seutuhnya. Ia tak ingin menyakiti sang suami apa lagi durhaka. Sungguh itu sama sekali tak ada di dalam kamus milik Riana. Riana terlihat menggemaskan ketika berada di dalam selimut dalam keadaan polos begitu. Tersenyum manis ketika melihat sang suami memakai kembali bajunya dan mengambil baby cantik itu dari bok bayinya.


"Sepertinya dia haus, Mam! Aku bikinin susu dulu ya," ucap Langit sembari menyerahkan baby cantik itu kepada ibunya. Sedangkan Langit langsung membuatkan baby cantik itu susu yang telah tersedia dia nakas kamar mereka.


"Makasih, Papi, udah bikinin adek susu," ucap Riana ketika menerima sebotol susu untuk baby cantik mereka.


Selesai membuatkan susu untuk sang putri, Langit langsung kembali masuk ke dalam selimut sang istri dan memeluknya manja. Sedangkan Riana langsung mengelus tangan kekar yang melingkari perutnya itu.


"Aku pakek baju dulu ya, Mas," pinta Riana lirih.


"Nggak boleh," jawab Langit sembari menciumi pundak sang istri.


"Kenapa?"...


"Aku masih mau,"


"Ih, nanti malam lagi." Riana merajuk.


"Nggak," jawab Langit, egois.


Riana malah tertawa.


"Kenapa tertawa?" Langit mengangkat wajahnya dan menatap aneh ke arah sang istri.


"Mas aneh, dulu nggak mau sama Ria, sekarang nyariin. Nggak jelas banget!" canda Riana gemas.


"Ih, siapa bilang nggak mau. Cuma pura-pura aja. Buktinya aku marah kamu, pas ada yang meluk kamu. Entahlah, aku nggak bisa terima aja kalo ada yang berani nyentuh kamu," ucap Langit sungguh-sungguh.


"Benarkah? boleh tahu kesan pertama ketemu, Ria?" tanya Riana sembari memutar tubuhnya, kini menghadap pria gengsian itu.


"Kesan pertama.... emmm, apa ya?" Langit terlihat berpikir.


"Ria cantik?" saut wanita ayu ini.

__ADS_1


"Nggak biasa aja!"


"Kok?" Riana merajuk.


"Pokoknya kamu nggak cantik, tapi luar biasa. Sudah jangan bahas ah, aku nggak mau mengingat masa lalu lagi. Yang Mas mau sekarang, kamu dan aku, dan anak-anak kita, selalu bersama," jawab Langit serius.


"Kami milikmu, Suamiku!" sampai kapanpun." Riana memegang wajah sang suami, dan mengecup manja bibir pria tampan itu. Menciumnya dengan penuh gairah.


Terang saja, apa yang dilakukan wanita cantik ini sukses membuat jiwa kelelakian pria tampan ini bangun. Dengan cepat, pria tampan ini pun memulai apa yang ia inginkan.


"Massss.... wait!" pekik Riana geli.


"Apaan?" tanya Langit, moodnya langsung memudar.


"Ada si baby, masak mau begituan lagi." Riana tersenyum menahan tawa.


"Eh, iya. Lupa... " Langit ikut tersenyum. Terlebih ketika baby cantik itu menatapnya.


"Mamaafin Papi, Sayangku. Maaf ya maaf," ucap Langit sembari mencolek pipi gembil baby Shanshan. Sedangkan Riana hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan sang suami.


"Mas!"


"Bolehkah aku serakah?" Riana menatap sang suami.


"Soal?"


"Seberat apapun masalah kita nanti, sekuat apapun badai yang menggulung rumah tangga kita. Aku ingin, kamu tetap mengikatku di dalam ikatan pernikahan ini. Aku tidak ingin perceraian. Aku tidak ingin kamu meninggalkan aku. Aku tidak ingin mengulang kehidupan yang sama. Mas ngerti kan maksud Ria?" tanya Riana serius.


"Mas ngerti, Mas paham. Entah mengapa, jika boleh jujur... Aku sendiri, secara pribadi juga tak ingin berpisah denganmu. Oiya, Mam, Aku sudah izin Pak Dilan, Mam. Katanya aku boleh membawamu dan baby kita pulang ke Jakarta! Insya Allah ketika bersamaku, kalian akan aman!" ucap Langit, langsung pada pokok permasalahan mereka.


"Benarkah?" Riana terlihat antusias.


"Hemmm, Dia udah yakin dan percaya, kalau Mas pasti bisa jagain kamu dan Shanshan." Langit menatap sang istri sembari memeluk manja wanita cantik ini.


"Iya, Mas. Ria juga ingin bareng sama kalian. Ria nggak mau lama-lama pisah dari putri kita satunya lagi. Ria ingin merawat putri kita sendiri," ucap Riana serius.


"Iya, Mas, juga. Mas ingin kalo pulang kerja, ngelihat kamu, ngelihat Ara dan baby kecil ini juga. Mas ingin menjaga bidadari-bidadari Mas sendiri," balas Langit antusias.


"Makasih, Mas. Semoga kita selalu seperti ini, hingga maut memisahkan."

__ADS_1


"Aamiin," jawab Langit senang.


"Oiya, Mam, Beberapa hari yang lalu, Lando minta saran ke Mas, dia mau buka perusahaan kosmetik, semacam skincare dan sebagainya gitu, dia minta saran ke Mas. Terus, Mas bilang sebaiknya kita bahasnya ketemuan aja. Jadi nanti kalau kita udah balik, dia mau main ke Jakarta, mau ke rumah." Langit menatap sang istri dengan tatapan menggemaskan.


"Lando? sejak kapan Mas dekat dengan dia?" tanya Riana, aneh saja, sebab yang Riana tahu, adiknya itu sangat anti dengan suaminya ini.


"Jangan remehkan sebuah ketulusan, Mam!" Langit tersenyum ketika mengingat pertemuan pertamanya itu dengan sang adik ipar.


"Maksudnya?" tanya Riana masih belum mengerti maksud sang suami berbicara demikian.


"Mas ketemu dia di bandara Lombok. Dia mau terbang ke Surabaya, Mas juga. Kayaknya dia baru selesai pemotretan. Cuma kami beda maskapai."


"Oh, lalu?"


"Ya itu, Mas nyapa di duluan. Terus Mas ajakin dia ngobrol, minta maaf juga. Terus dia juga, kita sempet sharing perihal bisnis. Eh dia bilang mau diriin perusahaan, terus Mas tanya, perusahaan apa? terus dia cerita gini, gini, ya udah Mas bilang aja kalo lagi off Mas suruh ke Jakarta. Suruh belajar sama masternya," jawab Langit sesuai dengan perbincangannya dengan sang adik ipar kala itu.


"Oooooh.... syukurlah kalo kalian udah baikkan."


"Tapi Mas curiga sama dia!"


"Kenapa?"


"Dia kek naksir seseorang."


"Naksir seseorang? maksudnya?" Riana menatap sang suami.


"Iya, pas ngobrol sama, Mas ... mata dia itu sering curi pandang ama seorang cewek dan ya, begitulah," jawab Langit, santai tapi dia serius.


"Ya, nggajk pa-pa, syukur kalo dia udah ada yang dimau, nggak melulu nyari duit terus," balas Riana.


Perbincangan suami istri itu tetap berlanjut sehingga mendapatkan kesepakatan bahwa mereka akan pulang ke Jakarta dan memulai hidup bersama di kota tersebut.


***


Apa yang diucapkan Langit ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Nyatanya kini Lando sedang membeli seikat bunga dan juga cincin untuk melamar seseorang. Yang tak lain adalah bos di mana ia bernaung sekarang.


Lando sangat percaya diri, meskipun secara ekonomi, apa yang ia miliki dengan apa yang wanita itu miliki jauh berbeda.


Lando tidak peduli, yang penting baginya saat ini adalah mengutarakan cinta itu kepada wanita yang mampu mengalihkan perhatiannya itu.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2