
Nana duduk di samping sang putra, lalu ia pun meminta maaf atas apa yang pernah ia lakukan pada putra semata wayangnya ini.
"Mama tahu kalo Langit marah sama papa, marah sama mama. Tetapi, Mama juga ingin yang terbaik untukmu. Maaf jika maksud mama dan papa ternyata hanya menyakitimu," ucap Nana lagi.
"Udahlah, Ma. Jangan dibahas lagi. Angap aja Langit lagi apes," jawab bapak satu anak ini.
"Tapi nggak kalo soal Riana, kamu beruntung, Langit," sangkal Nana, karena menurut Nana, sang putra memang beruntung memiliki Riana.
Sayangnya anggapan itu diremehkan oleh Langit. Karena ia belum merasakan apa keuntungan memiliki wanita itu.
"Kenapa kamu senyumnya begitu? Memangnya kamu nggak ngrasa beruntung punya Riana?" tanya sang ibu.
"Beruntung? Memangnya wanita itu berbuat apa buat Langit?" Langit kembali tersenyum sini.
"Astaghfirullah.... Langit. Kamu nyadar nggak sama apa yang kamu omongin?" Nana terlihat sangat kesal dengan pemikiran putranya. Pria ini begitu naif sampai kebaikan seseorang pun tak terlihat di matanya.
"Kalo dia memang baik, dia nggak akan ninggalin Langit, Ma. Kalo dia memang baik, dia nggak akan ninggalin Ara, Ma. Setidaknya dia akan bertahan, demi Ara. Lalu apa? Di saat Langit terpuruk, dia ke mana?" jawab Langit, terdengar tegas dan sungguh-sungguh. Tetapi di balik ketegaan itu, Langit seakan lupa penyebab Riana pergi meninggalkannya.
"Kamu memang egois Langit, kamu jangan pura-pura nggak tahu, Ria pergi karena apa?" Nana ikutan kesal.
"Karena apa? Karena Langit pukul, karena Langit aniaya. Iya...." Langit menatap sang ibu dengan tatapan penuh pertanyaan. Sedangkan Nana hanya membalas ucapan itu dengan tatapan serupa.
__ADS_1
"Oke, kalo dia pergi karena masalah itu, Langit terima. Tapi melangkah lebih jauh tanpa memberi tahu Langit, tanpa berkirim kabar dengan suaminya, apa namanya itu? Apakah itu bisa di sebut istri yang baik? Setidaknya kalo dia mau melangkah, kasih tahu dulu. Biar kita nggak bingung nyariin. Udah tahu masalah belum kelar, main kabur aja. Jadi menurut Mama siapa yang nggak bertanggungjawab di sini? Ria atau Langit?" Sepertinya Langit memang tidak bisa menerima kepergian Riana yang menurutnya tidak bertanggung jawab itu.
"Mungkin Ria pikir kalian udah cerai, Langit! Jadi dia merasa bebas " Nana masih berusaha membela sang memantu. Mencoba meluruskan kesalah pahaman masalah yang kini menimpa sang menantu dan juga putra semata wayangnya yang kolot ini.
"Udah berpikir cerai? Cerai itu ada artinya ma. Dia udah terima belum akte itu? Aneh!" balas Langit, Lagi-lagi dengan nada ketus khas Langit.
"Iya, tapi dia nggak melulu lupa kita kok Langit. Ria masih ngabarin kita. Bahkan dia... " jawab Nana, hampir saja keceplosan soal reward yang pernah di kasih Ria untuk Ara.
"Bahkan apa, Ma?" tanya Langit.
"Bahkan dia.... bahkan dia... " Nana terlihat masih ragu untuk mengungkapkan kebenaran tentang apa yang pernah Riana lakukan untuk mereka.
"Bahkan dia apa, Ma? Dia telpon Mama?" tanya Langit.
"Lalu, di mana dia sekarang?" tambah Langit.
"Mama nggak tahu, karena hapenya udah nggak bisa Mama hubungi!" jawab Nana jujur.
Langit kembali tertawa sinis. Karena menurutnya, Riana memang tidak bertanggung jawab.
"Sudah ku bilang, semua wanita itu sama saja, Ma. Pernikahan kok dijadikan mainan. Pergi seenak jidatnya aja. Dia pikir dia itu apa? Kalo masih merasa istri, bertanggung jawab dong. Setidaknya tetap di tempat sampai palu hakim memutuskan segalanya. La ini apa, belum juga sidang, udah kabur. Maksud dia apa? Nggak mau cerai apa gimana? Kan Langit sebagai suami jadi bingung, Ma?" jawab Langit kesal.
__ADS_1
"Dia pergi kan gara-gara kamu, Langit. Coba kamu nggak seanarkis itu. Mungkin nggak mama sama papa misahin kalian?" balas Nana tak mau kalah.
"Langit nggak nyalahin mama atau papa soal misahin Langit sama dia, Ma. Yang jadi penyesalan Langit adalah kenapa dia pergi dari tempat itu sebelum masalah di antara mami selesai. Itu namanya nggak tanggung jawab, Ma. Ngerti kan maksud, Langit," balas Langit lagi.
"Oke, Mama ngerti maksud kamu. Tapi apakah kamu tahu, di saat kita terpuruk, di saat kita nggak punya apa-apa. Di saat mau makan aja nggak ada. Di saat mama mau beli susu Ara aja kita nggak punya. Siapa yang kasih? Dia Langit, dia!" ucap Nana dengan suara yang mulai meninggi. Nana sangat tidak terima jika Langit menganggap Riana tidak bertanggung jawab. Nana tidak terima kalau Langit menganggap Riana tidak baik.
Langit menatap sang ibu, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Apa maksud Mama?" tanya Langit.
"Ya.... kamu tidak salah dengar, Langit. Ria memang yang membantu kita di saat keuangan kita minus. Dia yang menyelamatkan kita dari kelaparan. Dia yang menyelamatkan Aramu. Kamu pikir, Mama dan papa bisa beli susu, popok dan kebutuhan Ara yang lain itu dari mana? Itu dari dia, dari wanita yang kamu bilang tidak bertanggung jawab itu. Puas!" jawab Nana kesal. Sengaja dia bongkar semua rahasia yang ia pendam di depan Langit. Agar sang putra tahu, bahwa Riana tidak seperti yang dia pikirkan.
"Apa maksud Mama?" Sepertinya Langit memang butuh penjelasan dan wajar jika dia menginginkan itu.
"Beberapa minggu yang lalu, Ria tiba-tiba telpon Mama. Dia bilang kalo dia menang lomba desain baju, kalo Mama nggak salah saat dia telpon itu dia ada di Bangkok. Dia bilang, awalnya desain itu dia buat untuk Ara. Sayangnya sebelum baju itu jadi, dia dan kamu, kalian berpisah kan. Lalu, karena niat awal baju itu adalah untuk Ara, maka dia ingin hadiah yang dia Terima juga buat Ara. Itu sebabnya ia menitipkan uang itu ke Mama. Untuk Ara. Dia ingat Ara, Langit. Dia ingat putrinya," jawab Nana panjang lebar. Berharap Langit mengerti dan mengubah pandangannya tentang Riana.
Sayangnya, apa yang Nana pikirkan meleset jauh. Sang putra malah tidak Terima jika wanita yang ia nilai bukan siapa-siapa buat Ara itu ikut campur urusannya membesarkan Ara.
"Langit mau, Mama kembalikan uang itu!" pintanya.
"Tapi kenapa Langit? Riana tulus!" jawab Nana.
"Kenapa harus ke Mama? Kenapa nggak ke Langit ngomongnya? Memangnya suami dia Mama. Bapaknya Ara, Mama. Nggak kan? Mau bagaimanapun semua harus pekek aturan, Ma. Pokoknya Langit mau, uang itu Mama kembalikan ke dia. Langit nggak mau terima. Apapun alasannya," jawab Langit seraya beranjak meninggalkan sang ibu.
__ADS_1
Kini tinggalah Nana dengan segala kebingungan nya. Sungguh ia tidak paham dengan pemikiran Sang putra. Kemarahan Langit memang tidak semeledak biasanya. Tetapi setiap kata yang dia ucapkan, pria itu sangat marah terhadap Riana.
Bersambung...