Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Perasaan Gila


__ADS_3

Baik wanita itu ataupun Lando sendiri, mereka berdua sama-sama terkejut. Tidak menyangka bahwa mereka akan kembali dipertemukan.


Mereka tak bisa marah, sebab pada kenyataannya mereka sama sama tersihir oleh netra masing-masing.


Manik elang milik Lando, nyatanya sanggup membuat sang wanita berdebar. Begitupun sang wanita, tatapan teduh mata itu nyatanya sanggup menghapus rindu yang selama ini mengganggu sanubari sang pria.


Keinginan untuk mengeluarkan jurus saling meledek pun hilang seketika. Berganti dengan rasa canggung yang luar biasa.


Namun suara langkah kaki seseorang menyadarkan lamunan mereka. Rasa ketertarikan itu pun seketika hilang.


"Silakan duduk!" pinta wanita cantik itu.


"Terima kasih," jawab Lando, sopan.


Mereka berdua pun duduk di kursi masing-masing. Saling berhadapan. Lando, si musang tampan itu mulai tebar pesona, melihat sang Lawan yang mulai salah tingkah karena tatapannya, tentu saja membuat jiwa petualangannya meronta. Dengan penuh keberanian, ia pun membuka suaranya terlebih dahulu.


"Jadi kamu pemilik perusahaan ini?" tanya Lando basa-basi.


Wanita itu tersenyum sekilas, lalu ia pun mengeluarkan berkas surat perjanjian kerja sama antara Lando dan perusahaan yang ia pimpin.


"Kenapa anda datang sendiri, di mana menejer anda?" tanya wanita cantik itu. Mungkin hanya basa-basi.


Lando tidak menjawab pertanyaan itu, sepertinya ia terlalu fokus dengan bibir wanita cantik itu. Hingga menimbulkan niat untuk menciumnya.


"Hallo... anda oke?" tanya wanita itu lagi, sedikit mengejutkan Lando. Spontan pria tampan ini pun mengubah posisi duduknya, lebih santai agar dirinya tidak gugup.


"Kenapa kamu nggak pernah mengangkat telponku? Kenapa kamu hanya membaca pesanku?" tanya Lando, ini memang melenceng dari tema yang seharusnya mereka bahas hari ini. Tapi Lando tak ingin kehilangan kesempatan ini. Ia ingin memperjelas perasannya pada wanita yang sukses membuatnya tak bisa tidur ini.

__ADS_1


"Maaf, apa yang ada katakan tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Sebaiknya anda profesional," jawab wanita itu tegas.


Lando menghela napas dalam-dalam, lalu ia pun menuruti apa yang wanita itu inginkan darinya. Tapi dia masih menyimpan amarah untuk wanita ini, karena tak pernah meberinya celah sedikitpun untuk masuk ke dalam kehidupannya.


"Oke! silakan anda tanyakan apa yang anda ingin tanyakan!' tantang Lando dengan nada kesal.


"Apakah anda sudah membaca surat perjanjian itu?" tanya wanita itu.


"Ya!" jawab Lando singkat.


"Apakah ada permintan lain?" tanya wanita itu lagi.


"Ngapain tanya lagi, bukankah kalian sudah membahasnya dengan menejerku." Lando menatap wanita itu dengan tatapan kesal.


"Oke! Jadi anda sudah menyetujuinya kan. Baiklah, silakan tanda tangani kontrak ini dan setelahnya anda bisa meninggalkan ruangan saya. Besok-besok saya harap anda lebih profesioanl dengan hubungan ini," ucap wanita itu tegas.


Seperti tertampar, Lando pun tersenyum sinis. Namun ucapan wanita itu malah seperti cambuk baginya. Penyemangat luar biasa. Bagaimana tidak? Wanita itu berani menantang ketulusannya. Berani menggebrak keberaniannya.


Bersamaan dengan itu, wanita itupun juga merasakan hal yang sama. Ia juga ingin serakah. Ingin menyambut apa yang disignalkan oleh Lando. Namun, sayang keinginannya itu terhalang oleh dilema. Sebab ia mempunyai tujuan yang jauh lebih penting dibanding rasa yang kini sedang menyerangnya.


***


Di lain pihak, Langit kembali menerima kabar baik. Rumah kedua orang tuanya yang sempat hilang oleh kecerobohannya, kini telah kembali.


Riana telah menebusnya untuk mereka. Bukan hanya itu, sertifikat rumah tersebut juga atas nama ayah dan ibunya.


Kebehagiaan yang Langit dan kedua orang tuanya rasakan saat ini adalah kebahagiaan atas kerikhlasan Riana membalas budi baik mereka saat ini.

__ADS_1


Dalam sambungan telpon tersebut, Langit langsung berucap terima kasih dan dia berjanji akan mengembalikan uang yang Riana pakai untuk menebus rumah tersebut.


"Nggak usah, Mas! sudah Ria ikhlas. Lagian Mas juga udah bantuin Ria menghendle separo kerjaan Ria, mungkin tampa Mas, Ria juga ngga akan sampai ke titik ini.


"Apakah kamu di sana baik-baik saja istriku?" tanya Langit. Suaranya terdengar lembut, penuh kasih sayang, terselip kekhawatiran, ada juga rasa rindu yang hanya mereka sendiri yang bisa menerjemahkan rasa itu.


"Ria baik, Mas. Tapi..." Tanpa Riana sadari, Langit mendengar jelas bahwa saat ini, wanita ayu ini pasti sedang dalam tekanan.


"Tapi apa? Katakanlah, Sayang. Jangan kamu pendam sendiri rasa yang kini sedang menyerangmu. Aku kan ada untukmu, jangan takut!" ucap Langit menguatkan.


"Kenapa ya, Mas? Ria ngerasa majikan Ria masih hidup dan saat ini, Ria merasa dia juga sedang merencanakan konspirasi yang sangat besar. Entah siapa yang hendak ia serang, Ria hanya merasa janggal saja dengan kematian beliau. Tapi, Ria mohon, Mas jangan cerita sama siapa-siapa ya soal kecurigaan Ria ini. Termasuk pada pak Dilan, sebab Ria tahut, beliau juga terlibat dalam masalah ini," ucap Riana jujur.


Langit diam sesaat, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir sang istri. Langit tidak menyalahkan Riana jika memiliki kecurigaan seperti itu. Karena mau bagaiamanpun yang bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi adalah dirinya. Bukan orang lain.


"Aku nggak tahu alur cerita bosmu itu seperti apa, tapi Mas rasa tak menutup kemungkinan jika dia memiliki rencana yang akan berakibat fatal pada bayinya. Itu sebabnya ia membuat rencana untuk mencarikan tempat yang aman untuk bayinya itu. Sementara saat ini dia sedang berperang. Sedang berjuang memperjuangkan haknya mungkin. Kita berpositif thinking saja. Yang penting sekarang kamu tetap jalankan amanahnya, jangan salahi aturan. Sebenarnya hanya itu yang bisa kita lakukan." ucap Langit sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.


Riana diam, mencoba memahami setiap kata yang diucapkan sang suami. Tetap jalankan amanah dan tidak menyalahi aturan. itu saja, semua pasti aman.


***


Sayangnya, di lain pihak... Vico sudah mengetahui bahwa anak kandungnya masih hidup dan diasuh oleh seorang wanita yang dipercayai oleh mantan kekasihnya itu. Dan Vico sedang bekerja keras untuk menemukan wanita yang sulit ia lacak itu. Sebab identitas yang di gunakan wanita itu, dalam perjalanannya selama ini adalah identitas palsu.


"Aku yakin wanita itu pasti WNI," ucap Vico pada salah satu orang kepercayaannya.


"Mungkin, Bos. Tapi mereka seakan sudah bisa membaca pemikiran kita. Sampai sedetail ini mereka melakukan rencananya," jawab seseorang berjaket hitam itu.


"Raras memang cerdas, aku sangat mengenalnya. Dia menang tidak pernah mebalas secara terang-terangan orang-orang yang menyakitinya, Namun sejatinya ia selau punya rencana untuk membalas mereka. Dan akulah salah satunya. Ya Tuhan.... kenapa aku bodoh sekali!" ucap Vico dalam penyesalannya.

__ADS_1


Anak buah Vico saling memandang. Seolah membenarkan apa yang sang bos sampaikan.


Bersambung....


__ADS_2