Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Titik Terang


__ADS_3

Dunia ini adalah tempat sebuah permainan. Kita sebagai penghuninya harus siap menjadi lakon di dalamnya. Masalah akan selalu datang, jika nyawa masih di kandung badan. Dan seorang Langit sangat menyadari hal itu.


Sekuat apapun dia menolak, selama ia masih bernafas, maka setiap masalah pasti akan menerjangnya.


Seorang Damar Langit kini jauh lebih dewasa di banding sebelumnya. Mungkin kalau Riana kabur setahun atau dua tahun yang lalu, Langit tidak akan memedulikannya.


Ia pasti akan membiarkan wanita itu pergi dan bahkan tidak akan mengharapkan dia kembali. Tetapi, Langit yang sekarang sungguh berbeda. Ia lebih dewasa dan bisa menarik ulur pemikirannya. Masih bisa meredam emosi yang dulu meledak-ledak tak karuan.


Semua itu terbukti sekarang, dia lebih tenang menghadapi masalah barunya ini.


Sesuai apa yang telah ia rencanakan dan dukungan dari Dilan, Langit pun memutuskan untuk menemui Lando. Yang merupakan keluarga inti dari istri tercintanya itu.


Sebelum Video biadab itu sampai di tangan sang adik ipar, alangkah baiknya Langit sendiri yang memberi tahu dan menjelaskan ini kepada wali dari istrinya tersebut.


Tak menunggu waktu lagi, setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya, Langit pun segera terbang ke Surabaya.


Beruntung Lando juga tidak ada jadwal pemotretan, sehingga mudah untuk menemui pemuda itu.


Kini, Langit sudah duduk santai di sebuah restoran, tempat di mana dia dan sang adik ipar berjanji untuk bertemu.


Hanya sepuluh menit menunggu, akhirnya yang ia tunggu pun datang.


"Bang!" panggil Lando dengan senyum sumringahnya.


"Hay Lan, apa kabar?" sambut Langit, pria tampan ini pun juga tersenyum bersahabat kepada adik iparnya.


"Lando baik, Bang. Tapi lagi pusing sama cewek-cewek aneh," jawab pemuda tampan ini. Tawa lirih pun terdengar di antara keduanya.

__ADS_1


"Makanya jangan terlalu tampan!" canda Langit.


"Ah, abang bisa aja." Lando kembali tersenyum.


"Gimana bisnis kamu, lancar?" tanya Langit.


"Alhamdulillah udah mulai jalan, Bang. Ya namanya baru merintis, pasti banyak godaan lah. Tapi bos aku, yang saat ini aku bernaung di dalam menejemen itu, dia baik banget, Bang. Mau ngajarin aku gimana cara masakin produk yang bener," jawab Lando antusias.


"Syukur lah kalo begitu. Oiya Kan, abang ke sini bawa kabar buruk untuk kamu. Ini soal kakakmu," ucap Langit tenang. Meskipun jujur, saat ini dia tidak bisa tenang. Jantungnya berdetak sangat kencang. Melebihi rasa ketika Lando datang dan mengancamnya waktu itu.


"Ada apa lagi dengan kakak, Bang. Apakah dia membutuhkan sesuatu atau sedang melakukan sesuatu?" tanya Lando, khawatir.


"Bukan? Jadi begini Lan... " Langit pun menceritakan detail permasalahan dirinya dengan Riana. Dari awal hingga akhir. Langit pasrah dengan penilaian Lando. Yang penting dia sudah jujur.


"Astaga, Bang! Kenapa Abang nggak bilang dari kemarin pas dia kabur. Kan Aku bisa langsung telpon dia. Dia memang hobi kabur dari kecil, Bang. Tapi Abang nggak usah khawatir, dia pasti balik kalo udah tenang," jawab Lando,


Sungguh jawaban yang tidak Langit sangka. Ia pikir Lando akan menampar nya karena kabar yang ia bawa cukup ektrim. Tidak main-main. Bisa dikatakan bahwa kabar ini kabar gila.


"Kamu serius, Lan? Dia begitu?" tanya Langit, heran.


"Ya, kita tunggu sampai satu minggu ke depan. Dia pasti bakalan telpon salah satu dari kita." Lando terlihat resah. Dan itu wajar, mau bagaimanapun saudarinya tak ada kabar, pasti sangat menyedihkan bukan?


"Makasih atas pengetianamu, Lan. Abang pikir kamu akan marah dan mengajar abang saat ini juga. Abang deg-degan ini sungguh," ucap Langit lagi.


"Lando percaya dengan hal jebak menjebak, Bang. Apa lagi ketika kita lihat reka adekan itu. Lihat, mata abang terpejam, kayak orang ngantuk. Ini kan bukan orang sadar betul melakukan ini. Lando yakin abang benar, bahwa abang sedang dalam pengaruh obat," jawab Lando sambil melihat reka adegan laknat itu.


"Entahlah, Lan. Kenapa abang bisa percaya begitu saja dengan ketiga pria brengsek itu. Harusnya kalo mau ketemu klient, abang mesti bawa temen. Jujur abang trauma, Lan," jawab Langit jujur.

__ADS_1


"Ya, sebaiknya begitu, Bang," dukung Lando. Lalu, di detik berikutnya, suasana menjadi hening. Lando berusaha mencari cara untuk menemukan kakaknya. Membantu sang abang menjelaskan ini pada wanita tukang kabur itu. Sebab tidak baik jika sampai masalah ini dibiarkan berlarut-larut.


Namun, di detik berikutnya, Lando penasaran dengan pemeran wanita dalam adegan mesum tersebut. Lando pun meminta izin untuk menonton dan memastikan wajah dari si pemeran wanita. Karena, Lando merasa seperti kenal.


"Bang, abang keberatan nggak kalo Lando melihat video Abang sekali lagi?" tanya Lando meminta izin.


"Tentu! Kenapa, Lan? Apakah ada yang salah?" tanya Langit, sedikit takut. Takut jika Lando berubah pikiran menjadi tidak mempercayainya.


"Oh, tidak, Bang. Aku hanya mau memastikan wajah dari wanita yang menggoda abang itu, sepertinya aku pernah lihat," jawab Lando, jujur.


Langit pun tersenyum senang. Rasanya ia seperti mendapatkan secercau cahaya. Secercah cahaya yang menghadirkan sebuah harapan. Harapan untuk menemukan siapa dalang dari peristiwa yang merugikannya ini.


"Ni Lan, lihat aja. Abang harap kamu kenal, agar kita lebih mudah menemukan siapa dalang yang mempermainkan abang," ucap Langit.


"Siap, Bang. Semoga Lando kenal," jawab pemuda itu, penuh harap.


Lalu, di detik berikutnya, Lando pun segera mengingat wajah wanita itu. Karena memang menurutnya tidak asing.


Sembari melihat reka adegan itu, Lando juga membuka aplikasi di ponselnya. Mencari foto-foto yang tersimpan di galeri ponselnya.


"Yes, ini Bang!" ucap Lando sambil menyerahkan ponselnya pada Langit, lalu ia meminta Langit untuk memeriksanya.


Langit mengambil ponsel itu dan mencocokkan wajah wanita yang ia tiduri malam itu dan benar ini sangat mirip.


"Bener, Lan. Ini dia. Tatonya sama," ucap Langit serius.


"Tenang, Bang. Nanti Lando bantu nangkep ni cewek. Yang penting Abang siapin tim untuk menginterogasinya. Selebihnya serahin pada Lando," ucap Lando percaya diri. Tidak peduli siapa yang akan ia hadapi, tapi Lando dan Langit percaya bahwa titik terang ini akan membawa mereka pada kebenaran.

__ADS_1


Bersambung..


Makasih yang masih setia🥰🥰🥰


__ADS_2