Ketulusan Hati Istri Kedua

Ketulusan Hati Istri Kedua
Hadapi


__ADS_3

"Kok diam, Mam. Kamu pernah ketemu sama dia?" tanya Langit.


Riana masih diam, hatinya masih bertanya-tanya. Pikirannya melayang entah ke mana. Sebulan yang lalu, ketika ia melihat foto yang mirip dengan pria ini, Riana biasa-biasa saja. Tapi sekarang, hati Riana bergemuruh marah.


Bagaimana tidak? pria itu adalah pria yang telah menyakiti wanita yang menolongnya. Bahkan wanita itu sampai meninggal gara-gara melahirkan keturunannya. Bagaimana Riana tidak geram.


"Mam... hey, kok nglamun?" tanya Langit lagi.


"Eh, maaf, Mas. Sorry! Astaghfirullah... apa ini!" eluh Riana, sungguh ia tidak menyangka, bahwa ia akan melewati masa yang menenangkan seperti ini.


"Kenapa sih, Mam. Pernah lihat atau Mami kenal?" tanya Langit. Riana menatap sang suami, ingin cerita tapi ragu.


"Sebentar, Mas. Sebentar, Ria mikir dulu." Riana diam sejenak, lalu mengotak atik ponselnya. Ingin menghubungi Dilan, tapi takut suaminya tersinggung. Riana diam lagi. Lalu menimbang baik buruk masalah ini. Dan sebaiknya dia memang harus terbuka dengan sang suami. Agar semuanya jelas.


"Sebaiknya, Mas, mesti ketemu sama Pak Dilan. Dia yang lebih berhak kasih tahu, Mas, siapa sebenarnya pria ini!" ucap Riana tegas.


Langit mengerutkan kening. "Kenapa sih, Mam? Coba kamu cerita intinya saja!" pinta Langit.


"Emmm, jadi gini, Mas. Mas tahu kan kalo baby Shanshan terlahir tanpa ayah. Ria curiga, pria ini adalah ayah baby Shanshan. Tapi Ria masih ragu, seperti mirip, seperti memang dia. Soalnya Ria sendiri juga belum pernah ketemu!" jawab Riana jujur.

__ADS_1


Langit melongo, pantas saja Riana terkejut. Sebab dirinya juga tekejut.


"Kamu serius, Mam?" tanya Langit penasaran.


"Ya! Sebentar, sepertinya Ria punya foto pria itu," ucap Riana sembari terus mencari foto pria tersebut di galeri ponselnya. Sedangkan Langit, masih setia menunggu sambil ikut melihat satu persatu foto yang ada di galeri sang istri.


Tiga puluh detik kemudian, akhirnya pencarian Riana berakhir. Dan sampailah jemarinya pada satu foto. "Ni, Mas. Sama kan dengan foto pria yang Mas kasih ke Ria tadi?" Riana menyodorkan ponselnya pada sang suami.


Langit pun mulai membandingkan kedua foto yang ada di ponsel miliknya dan juga foto yang ada di galeri ponsel sang istri.


Dan menurut penilaian Langit, mereka memang mirip tapi tidak sama.


"Mirip saja, ya! Ah semoga memang bukan orang yang sama," ucap Riana penuh harap. Sebab, Riana malas harus berurusan dengan pria tak punya hati seperti itu. Belum lagi keluarganya, Riana tahu karena Raras pernah cerita perihal itu.


"Kamu tahu nama pria itu, Mam?" tanya Langit, ingin memastikan sebab dia sendiri juga jadi ikutan ragu.


"Kalo nggak salah namanya Vico, Mas. Tapi nama lengkapnya siapa, Ria nggak tahu. Cuma dia orang Jakarta sini. Setahu Ria sih," jawab Riana jujur.


"Vico? Berarti mereka memang bukan orang yang sama, Mam. Hanya mirip saja. Ya udah, semoga dia atau pria yang sedang bermasalah dengan mas, segera tergerak hatinya untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Aamiin!" ucap Langit penuh harap.

__ADS_1


Langit terlihat pasrah dang ikhlas, namun tidak dengan Riana. Dia masih kepikiran soal Shanshan. Dia masih kepikiran bocah cilik yang saat ini menjdi tanggung jawabnya itu. Sebab mau bagaimanapun, pemalsuan data bukanlah perkara mudah. Mau tak mau ia harus tetap serius mengkonsultasikan masalah ini pada mereka yang mengerti hukum.


"Jangan takut, Sayang. Mas ada di sampingmu. Mas akan selalu ada buat kamu. Buat Shanshan. Buat kalian. Mau bagaimanapun Shanshan juga sudah dipercayakan buat Mas. Baik itu secara langsung atau tidak. Baik itu secara sengaja maupun tidak. Nyatanya, nama Mas ada di akte anak itu kan. Berarti Tuhan mau, Mas yang jadi ayah yang mendidiknya nanti," ucap Langit serius.


Riana tersenyum, sebab sang suami tidak marah. Sebab sang suami ternyata juga meridhoi keputusan yang ia ambil secara sepihak itu.


"Eh, Mas mau tanya sesuatu sama kamu. Kamu masih simpan dokumen pernikahan kita nggak? Ada kan salah satu surat yang berisi tanda tangan Yuta soal izin yang dia kasih ke kita untuk menikah?" tanya Langit. Tiba-tiba saja ia teringat dengan kasus yang menjeratnya.


"Ada, Ria masih simpan. Tapi di tempat Lando."


"Tempat Lando? di mana?"


"Surabaya."


"Coba dong, Mam, suruh kirim, Via foto aja, nanti Mas scan. Sebenarnya cuma itu kunci dari masalah yang membelit Mas ini," ucap Langit.


"Oh, oke. Nanti Ria telponkan!"


Tak ada perbincangan lagi. Namun Riana menerima sebuah pesan mengejutkan dari Dilan. Perihal pria yang belum lama ini ia tanyakan dan ia bahas bersama sang suami.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2