
POV Samara.
Aku terus menunggu kedatangan Mas Syaka pulang ke rumah, tapi belum ada tanda-tanda Mas Syaka akan pulang cepat ke rumah. Padahal jam sudah menunjukkan tengah malam, tapi Mas Syaka belum juga pulang ke rumah.
Aku pun memutuskan untuk tidur di dalam kamar saja. Karena besok pagi aku akan berbelanja kebutuhan rumah, dan membeli bahan untuk membuat kue. Karena mulai besok aku akan berjualan kue secara berkeliling, agar para tetangga bisa mencoba kue buatanku.
Pukul 03:00
Aku terbangun. Karena mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, dan pasti itu suara mobil Mas Syaka yang baru pulang ke rumah. Aku tidak pergi membukakan pintu. Karena Mas Syaka sudah mempunyai kunci cadangannya, maka dari itu. Aku memilih masuk ke dalam kamar mandi, untuk mengambil wudhu dan akan melaksanakan shalat malam.
Saat aku keluar dari dalam kamar mandi. Mas Syaka ternyata masih belum tidur, dan ia seperti sedang berbalas pesan. Entah dengan siapa? Aku tidak tahu itu. Sampai Mas Syaka tidak menyadari kedatanganku, yang sudah keluar dari dalam kamar mandi.
"Mas," aku pun mencoba memanggil Mas Syaka.
"Iya sayang," sahutnya sambil menaruh hpnya di atas laci.
Sepertinya aku harus menanyakan tentang Mas Syaka yang mengambil mobil secara kridit terlebih dahulu. Sebelum aku menanyakan tentang uang mobilku yang di jual oleh Mas Syaka, dan hanya mendapatkan uang transfer sebesar lima juta rupiah saja.
"Mas kenapa? Mengambil mobil secara kridit?" ucapku hati-hati. Agar Mas Syaka tidak tersinggung dengan pertanyaanku.
"Mas sengaja membeli mobilnya secara kridit. Karena sisa uangnya buat modal usaha bisnis bersama dengan teman Mas, dan mobil itu untuk mengantarkan barang-barang sayang, bukan buat Mas pakai. Tapi Mas membeli motor secara cash karena..." aku segera menyela ucapan Mas Syaka. Karena Mas Syaka tidak memberitahu kepadaku, kalau Mas Syaka membeli motor secara cash. Padahal Mas Syaka sudah punya motor.
"Bukannya Mas sudah punya motor?" tanyaku yang menyela ucapan Mas Syaka.
"Iya, yang satu buat kamu mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah, dan yang satunya lagi buat Mas berangkat bekerja. Karena tidak mungkin Mas memakai mobil yang buat usaha. Soalnya usaha ini baru merintis, dan uang dari hasil bisnis ini akan Mas gunakan untuk membayar cicilan mobil. Mas berharap kamu bisa berhemat yah, dan maaf gaji Mas tidak seperti dulu lagi. Maka dari itu, Mas mencari pekerjaan tambahan, agar memenuhi kebutuhan rumah tangga kita." jawab Mas Syaka menjelaskan kepadaku.
"Terus kenapa! Aku cuman mendapatkan uang sebesar Lima juta saja Mas?" aku kembali bertanya tentang uang mobilku yang Mas Syaka jual.
"Mas, kan sudah bilang! Uang dari hasil jual mobil, akan Mas gunakan untuk berbisnis dengan teman Mas. Jadi Mas mengambil mobil secara kridit dan motor secara cash, kamu suami baru pulang bekerja sudah ngajak ribut,'' Mas Syaka menatapku, seperti orang yang kesal dengan pertanyaanku.
Aku pun mencoba memahami keadaan seperti ini, dan tidak menanyakan tentang usaha yang di rintis oleh suamiku. Meski di dalam hatiku, aku ingin mengetahui usaha bisnis Mas Syaka dengan temannya. Karena Mas Syaka sering pulang malam, dan aku sedikit menaruh curiga kepada suamiku. Tapi semoga saja perasaanku ini salah, dan aku harus tetap berpikir positif kepada suamiku.
Aku segera melaksanakan shalat malam. Sedangkan Mas Syaka sepertinya sudah tidur.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya.
Aku yang sudah selesai memasak, menyuruh anak dan suamiku untuk sarapan pagi bersama. Akan tetapi, saat kami semua sedang makan. Tiba-tiba saja terdengar suara klakson motor di depan rumah.
Tin-tin suara klakson motor.
"Itu bukannya suara klakson motor milik Mas?" aku menanyakan tentang suara klakson motor Mas Syaka. Karena aku baru saja ingat! Kalau Mas Syaka kemarin itu pergi membawa motor, dan pulang ke rumah dengan mobil barunya.
"Iya, kemarin itu teman Mas pinjam motor sama Mas. Mungkin dia datang pagi-pagi begini, karena mau mengantarkan motor Mas," jawab Mas Syaka. Sebelum Mas Syaka pergi membukakan pintu rumah.
Aku yang penasaran dengan teman Mas Syaka, segera pergi melihat teman Mas Syaka.
"Loh kok, satpam sama supir sih yang mengantarkan motor Mas Syaka? Apa teman Mas Syaka itu seorang satpam dan supir?" gumamku yang kaget melihat kedatangan satpam dan supir, yang mengantarkan dua motor yang satunya aku tahu kalau itu punya Mas Syaka, tapi kalau yang satunya lagi aku tidak tahu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mas Syaka yang sudah berada di hadapanku.
"Itu teman Mas?" aku yang penasaran. Langsung menanyakan kepada Mas Syaka.
"Bukan, dia itu satpam sama supir yang bekerja di tempat teman Mas, ini kunci motor buat kamu mengantar anak-anak ke sekolah." Mas Syaka memberikan kunci motor milik Mas Syaka kepadaku.
"Terus itu motor yang satunya lagi, motor milik siapa Mas? Dan tadi supir itu membawa mobil pick up punya siapa itu Mas?" tanyaku lagi kepada Mas Syaka.
"Kamu kenapa? Masih tidak percaya dengan ucapan Mas?'' tanya Mas Syaka sambil menatap ke arahku.
"Iya aku percaya kok Mas," sahutku. Dan ternyata semalam Mas Syaka pulang dengan mobil pick up, jadi benar kalau Mas Syaka membeli mobil baru buat usaha berbisnis dengan temannya. "Maaf Mas aku sempat menaruh rasa curiga kepadamu," batinku.
"Mas mau berangkat bekerja dulu ya." Mas Syaka langsung pamit pergi bekerja kepadaku. Aku pun segera mengulurkan tanganku, untuk bersalaman kepada Mas Syaka.
Setelah Mas Syaka pergi, aku segera menghampiri ketiga anakku yang sedang makan di meja makan.
"Makan dan minum susunya sudah di habiskan belum?" tanyaku kepada ketiga anakku.
"Sudah dong bunda, punyaku sudah habis." Candra langsung menjawab pertanyaan dariku, sambil memperlihatkan makanan dan minumannya yang sudah habis.
"Aku juga bun," timpal Arsya dan Kirana secara bersamaan.
__ADS_1
Aku pun tersenyum melihat tingkah lucu ketiga anakku, dan mengajak mereka bertiga pergi ke sekolah. "Kalau sudah habis, yuk kita pergi ke sekolah."
Setelah selesai mengantar anakku pergi ke sekolah, aku segera pergi ke pasar membeli bahan makanan untuk membuat kue. Aku akan membuat kue seperti yang pernah ibuku ajarkan, dan setelah selesai membuat kue. Aku akan langsung berkeliling berjualan kue, sambil menunggu anakku pulang dari sekolah, dan menawarkan kue yang aku buat kepada ibu-ibu di sekolahan anakku.
Aku bersyukur sekali, di hari pertama aku berjualan kue. Tetangga dan ibu-ibu di sekolahan anakku, menyukai kue buatanku.
Saat aku akan pulang ke rumah. Tiba-tiba saja anaknya Bu Nani tetanggaku, yang bernama Rika memanggilku. Aku pun segera pergi menghampirinya. "Ada apa Rika?"
"Kuenya masih ada tidak Tante Samara?" tanya Rika kepadaku.
"Ada Rika, tapi cuman tinggal sedikit lagi," sahutku memberitahukan kepada Rika.
"Iya sudah tidak apa-apa. Soalnya kue buatan Tante Samara enak, dan teman Mamaku di dalam juga ingin membelinya. Tante masuk saja ke dalam." Rika memuji kue buatanku, dan menyuruhku masuk ke dalam rumahnya. Karena temannya Bu Nani yang akan membeli kue buatanku.
Aku yang masuk ke dalam rumah Bu Nani tetanggaku, tidak sengaja mendengarkan suara pembicaraan Bu Nani dengan temannya.
"Kamu tolong aku carikan pembantu dong. Aku capek harus melakukan pekerjaan rumah terus," ucap temannya Bu Nani.
"Iya, nanti akan aku carikan warga di sekitar sini. Siapa tahu ada yang mau bekerja dengan kamu. Apalagi kerjanya cuman setengah hari saja, dan gaji yang kamu berikan juga lumayan besar. Pasti banyak yang mau," sahut Bu Nani.
Aku yang mendengar itu, jadi ingin bekerja di rumah temannya Bu Nani. Karena kerjanya juga cuman setengah hari saja, dan aku masih bisa mengurus anak dan rumah.
"Assalamualaikum, permisi Bu." aku segera pergi menghampiri Bu Nani dan temannya.
"Waalaikumsalam. Eh Bu Samara rupanya, masih ada kuenya?" tanya Bu Nani.
"Ini Bu kuenya, tinggal sedikit lagi. Ibu bisa pilih mau yang mana?" jawabku sambil memperlihatkan jualanku kepada Bu Nani dan temannya.
"Aku beli semuanya deh," temannya Bu Nani membeli semua kue buatanku yang tinggal sedikit lagi. Aku pun segera memasukkan kue yang aku buat ke dalam kantong plastik.
"Maaf Bu, tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu yang sedang mencari seorang pembantu?" tanyaku.
"Iya benar, kamu mau menjadi pembantuku?" jawab temannya Bu Nani antusias.
"Iya Bu mau, tapi beneran kerjanya cuman setengah hari saja?" tanyaku memastikan ucapan yang aku dengar.
__ADS_1
"Iya benar, dan ini kartu namaku. Jadi mulai besok pagi kamu mulai bekerja di rumahku, tapi datangnya jam 8 saja yah," temannya Bu Nani memberikan kartu namanya.
Aku senang mendapatkan pekerjaan baru, meski hanya seorang pembantu. Karena aku masih tetap bisa mengantar jemput anakku pulang sekolah, dan mendapatkan gaji yang tetap. Aku juga masih bisa berjualan kue, karena bekerja menjadi pembantu hanya setengah hari saja. Aku mau melakukan pekerjaan ini, demi membantu keuangan rumah tanggaku.