
Ucapan Rayanza yang menuduh Arsyaka dan Retno ibunya, yang berniat menculik Samara. Membuat Samara berpikir sejenak, sebelum menimpali ucapan dari Rayanza.
"Entahlah Ray, aku rasa tidak mungkin Mas Syaka dan ibunya melakukan itu semua. Karena aku sudah memberikan sertifikat surat rumah barunya Mas Syaka, dan masalah pembagian lahan perkebunan juga sudah sesuai perjanjian." Samara merasa tidak yakin. Jika pelaku dari penculikan dirinya, adalah mantan suami dan ibu mertuanya.
"Tapi bisa jadi loh Ra. Karena setahuku! Hanya mereka berdua yang sekarang ini bermasalah denganmu," ucap Rayanza.
"Dari pada kita berburuk sangka pada Mas Syaka dan ibunya. Lebih baik kita segera pergi ke kantor polisi, pasti polisi bisa mengetahui orang yang mau menculikku. Toh dua orang yang mau menculikku itu, sudah tertangkap oleh polisi," ujar Samara.
"Yang di katakan oleh kamu benar Ra, yuk kita pergi sekarang." Rayanza menarik tangannya Samara, mengajaknya pergi ke arah mobil miliknya yang terparkir di rumah sakit.
"Ini Rayanza, kenapa pegang tanganku?" batin Samara yang kaget dengan sikap Rayanza, yang tiba-tiba saja memegang tangannya.
"Ray," lirih Samara memanggil nama Rayanza. Sehingga Rayanza menengok ke arah Samara, dan menghentikan langkah kakinya yang akan pergi menuju mobilnya.
"Apa lagi Ra? Itu mobil aku ada di sana," tunjuk Rayanza ke arah mobilnya. Sedangkan tangan Rayanza yang satunya lagi, tetap memegang tangannya Samara.
"Itu, tangan kamu pegang tanganku," ucap Samara yang memberitahu Rayanza.
"Oh iya, maaf Ra." Rayanza pun segera melepaskan tangannya Samara, dan bergegas pergi ke arah mobilnya.
Rayanza yang sudah sampai di mobilnya, segera membukakan pintu mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya. Dan bergegas pergi menuju kantor polisi, bersama dengan Samara yang sudah duduk di dalam mobilnya.
Suasana di dalam mobil pun terasa sepi, tanpa ada obrolan ringan di antara mereka berdua. Setelah kejadian Rayanza, yang memegang tangannya Samara.
"Sorry ya Ra, yang tadi itu aku refleks." Rayanza akhirnya mengeluarkan suara. Ketika mereka berdua akan sampai di kantor polisi.
"Iya, gak apa-apa kok." balasnya.
Tidak lama kemudian.
Samara dan Rayanza pun sampai di kantor polisi, dan segera pergi menemui pak polisi yang akan meminta keterangan kronologi kejadian yang di alami oleh Samara.
Samara pun menceritakan semua kejadian itu pada pak polisi. Setelah selesai menceritakan semua kejadian itu. Samara menanyakan kepada pak polisi, tentang pelaku dari aksi penculikan dirinya.
"Kira-kira siapa pak? Orang yang menyuruh mereka untuk menculik saya?" tanya Samara penasaran.
"Untuk masalah itu, masih di selidiki Bu," jawab pak polisi.
"Bukannya pak polisi sudah berhasil menangkap dua orang yang mau menculikku?" Samara kembali bertanya lagi kepada pak polisi.
"Iya memang benar begitu Bu, tapi mereka berdua belum memberikan keterangan dengan jujur. Seperti tidak mau mengatakan orang yang telah menyuruh mereka, kami dari pihak polisi akan berusaha membuat mereka untuk jujur dan mau mengatakan orang yang telah menyuruh mereka," jelas pak polisi.
Samara menghela nafas berat, mendengar penjelasan dari pak polisi. Karena Samara ingin mengetahui, orang yang mau menculik dirinya.
__ADS_1
"Aku harus mencari tahu, orang yang telah menyuruh mereka. Bagaimanapun caranya!" batin Samara.
"Kami akan berusaha membuat mereka mau mengatakan yang sejujurnya." lanjut pak polisi yang berusaha mencari tahu kebenarannya.
"Iya semoga saja, mereka mau mengatakan yang sejujurnya. Tapi pak! Bisakah saya berbicara dengan mereka berdua?" pinta Samara pada pak polisi. Karena Samara ingin bertemu dengan dua orang yang mau menculik dirinya.
"Iya bisa, ibu tunggu saja di ruang jenguk tahanan. Nanti akan ada petugas polisi, yang mengantarkan mereka, untuk bertemu dengan ibu," sahutnya.
"Terima kasih pak." Samara menjabat tangan pak polisi. Sebelum pergi meninggalkan ruangan pak polisi, yang sedang meminta keterangan kepadanya.
Samara pun melangkah pergi menghampiri Rayanza. Untuk mengajaknya pergi ke ruang jenguk tahanan. Karena Samara ingin berbicara dengan dua orang yang mau menculik dirinya.
"Sudah selesai memberikan keterangannya Ra?" tanya Rayanza. Ketika Samara datang menghampirinya.
"Sudah Ray, aku mau bertemu dengan dua orang yang mau menculikku di ruang jenguk tahanan. Kamu mau ikut?" jawab Samara sambil bertanya balik pada Rayanza.
"Kenapa Samara mau bertemu dengan dua orang itu? Lebih baik aku menemaninya pergi ke sana," gumam Rayanza di dalam hatinya. Sebelum Rayanza menganggukkan kepalanya, pertanda dirinya mau ikut menemani Samara bertemu dengan dua orang itu.
Sesampainya di ruang jenguk tahanan.
Dua orang lelaki itu pun keluar dari dalam sel tahanan, dan bertemu dengan Samara dan Rayanza.
"Siapa yang telah menyuruh kalian menculikku?" tanya Samara tanpa berbasa basi.
"Tapi aku tidak kenal sama kalian. Pasti ada orang yang menyuruh kamu, jawab siapa orangnya?" Samara terus menanyakan tentang orang yang menyuruh mereka berdua, dan berharap mereka berdua mau menjawab pertanyaan dari Samara.
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan darimu," sahut salah satu dari mereka berdua, yang enggan menyebutkan nama orang yang menyuruh mereka berdua.
"Kenapa Samara terus menanyakan itu semua pada mereka berdua? Apa jangan-jangan! Pihak kepolisian belum mengetahui pelaku dari aksi penculikan Samara," batin Rayanza yang mendengar pembicaraan Samara yang terus mengintrogasi dua orang itu.
"Cepat jawab pertanyaanku!" geram Samara pada mereka berdua. Karena mereka berdua tidak menjawab pertanyaannya.
"Ra, kita serahkan saja semuanya pada polisi. Ayo kita pergi dari sini," bisik Rayanza di telinga Samara, dan mengajaknya pergi dari ruang jenguk tahanan.
"Tapi Ray..."
"Percuma kamu berusaha menanyakan kepada mereka berdua, tapi mereka tidak mau menjawab pertanyaan darimu. Aku sangat yakin! Kalau orang yang menyuruh mereka itu, pasti telah memberikan uang yang banyak. Sehingga mereka tidak mau menjawab pertanyaan darimu dan juga pak polisi." Rayanza berbisik di telinga Samara lagi.
"Yuk, kita pergi dari sini." Rayanza kembali mengajak Samara pergi dari tempat ini.
"Iya Ray.'' Samara pun segera bangun dari tempat duduknya.
Samara dan Rayanza pun melangkah pergi meninggalkan kantor polisi.
__ADS_1
"Ara, Ray." Nayla yang baru sampai di kantor polisi, memanggil nama mereka berdua.
"Bagaimana dengan pelaku penculikan kamu, sudah tahu orangnya?" tanya Nayla penasaran.
"Belum Nay," jawab Rayanza dan Samara secara bersamaan.
"Kamu jadi pulang ke Surabaya hari ini?" tanya Nayla lagi.
"Aku sepertinya akan tetap pulang hari ini, mengambil jadwal penerbangan malam hari. Karena aku mengkhawatirkan ketiga anakku, dan juga keluargaku yang tinggal di sana. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka semua," sahut Samara yang mencemaskan anak dan keluarganya.
Nayla memeluk Samara, ia mengetahui tentang kekhawatiran yang di rasakan oleh Samara.
"Ray, biarkan Samara ikut pergi bersamaku. Aku akan menemani Samara, sebelum dia pulang ke Surabaya," ucap Nayla.
"Ya sudah." Rayanza mempersilahkan Nayla menemani Samara.
"Ra, yuk ikut aku pergi ke restoran." Nayla mengajak Samara pergi ke restoran miliknya.
"Iya Nay. Aku pergi sama Nayla ya, Ray." Samara pun berpamitan pergi pada Rayanza. Sebelum ia ikut pergi bersama Nayla.
Nayla dan Samara pun pergi meninggalkan Rayanza. Untuk pergi ke restoran Andini Food milik Nayla.
Sesampainya di restoran Andini Food.
Nayla memanggil pelayan yang bekerja di restorannya. Untuk membawakan minuman dan juga makanan untuk dirinya dan juga Samara. Akan tetapi, saat Nayla akan memesan makanan dan minuman pada pelayan restorannya, handphone miliknya berdering.
"Ra, kamu pesan saja apa yang kamu mau. Aku mau menerima panggilan telepon dulu," ucap Nayla sambil melangkah pergi meninggalkan Samara. Untuk menerima panggilan telepon dari rekan bisnisnya.
"Iya Nay," sahutnya.
Samara pun memesan makanan dan minuman pada pelayan itu, dan pelayanan restoran pun segera pergi.
Di saat pelayan datang membawa pesanan Samara. Nayla yang sudah selesai bertelepon dengan rekan bisnisnya, sudah datang menghampiri Samara.
"Ra, minuman kamu rasanya seger banget. Boleh tukar tidak?" pinta Nayla yang ingin bertukar minuman dengan milik Samara.
"Ini." Samara pun memberikan minuman miliknya pada Nayla.
Nayla segera mengambil minuman itu, dan ingin segera meminumnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja ada orang yang memanggil nama Nayla.
"Nayla," teriaknya memanggil nama Nayla.
Samara dan Nayla pun menengok ke arah suara itu. Sebelum meminum, minuman yang di bawakan oleh pelayan restoran.
__ADS_1