Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 109 Pergi ke Perancis


__ADS_3

"Ra, tadi itu papa menghubungiku, mau memberikan tiket bulan madu untuk kita berdua pergi ke rumahku yang ada di negara Prancis," ucap Rayanza yang memberitahukan tentang ucapan Haidar papanya, yang memberikan dua tiket bulan madu ke negara Prancis untuk mereka berdua.


"Tapi bagaimana dengan anak-anak Ray?" tanya Samara yang memikirkan ketiga anaknya.


"Anak-anak bisa tinggal bersama kedua orang tuamu atau orang tuaku. Jadi sekarang ini, kita langsung pergi ke bandara Juanda Surabaya. Untuk pergi bulan madu ke negara Prancis," jawab Rayanza.


"Apa...! Jadi hari ini juga kita berdua langsung pergi bulan madunya? Aku kira Minggu besok atau lusa pergi bulan madunya, kita tidak mungkin bisa pergi sekarang. Karena aku belum mempersiapkan apapun Ray?" tanyanya lagi yang kaget. Karena ia baru mengetahui tentang tiket bulan madu, yang akan langsung berangkat hari ini.


"Itu semuanya sudah di urus dan di persiapkan oleh kedua orang tuaku dan juga orang tuamu, Ra. Yuk kita pergi sekarang," ajaknya kepada Samara.


"Tapi kita berdua, belum berpamitan dengan anak-anak. Aku ingin berpamitan dengan anak-anak terlebih dahulu. Sebelum kita berdua pergi berbulan madu, Ray." Samara meminta pada Rayanza. Untuk bertemu dengan ketiga anaknya terlebih dahulu. Sebelum ia dan Rayanza pergi berbulan madu ke negara Prancis.


"Ya sudah, ayo kita pergi temui anak-anak di rumah kamu dulu. Sebelum kita pergi ke bandara Juanda Surabaya," timpal Rayanza yang menyetujui keinginan Samara, yang mau bertemu dengan ketiga anaknya.


Akan tetapi, saat Samara dan Rayanza yang akan pergi menuju tempat parkir mobil di area rumah sakit. Tiba-tiba saja handphone milik Rayanza kembali berdering, ia pun segera mengambil handphonenya dan langsung menerima panggilan telepon dari Haidar papanya yang menghubunginya lagi.


"Halo pah, ada apa lagi?"


"Kamu sekarang cepat pergi ke bandara Juanda Surabaya. Karena kedua orang tuanya Samara dan anak-anaknya sedang menunggu kedatangan kalian berdua di sana," jawab Haidar yang menyuruh Samara dan Rayanza. Untuk segera pergi ke bandara Juanda Surabaya.


"Baiklah pah, aku dan Samara sebentar lagi akan pergi ke sana," sahutnya yang langsung mematikan panggilan telepon dari Haidar papanya.


"Ada apa dengan papa Ray? Kenapa papa menghubungi kamu lagi?" tanya Samara penasaran. Karena ia mendengar ucapan Rayanza yang mendapatkan panggilan telepon dari Haidar mertuanya.


"Papa tidak kenapa-kenapa kok, Ra. Tadi itu, papa menyuruh kita berdua segera pergi ke bandara Juanda Surabaya. Karena anak-anak dan kedua orang tuamu sedang menunggu kedatangan kita berdua di sana," jelas Rayanza.


Samara menghembuskan nafas lega, mendengar penjelasan dari Rayanza.


"Oh begitu, ya sudah ayo kita pergi ke bandara sekarang."


"Iya," balasnya.


Samara dan Rayanza pun segera masuk ke dalam mobil Rayanza, dan bergegas pergi menuju bandara Juanda Surabaya.

__ADS_1


Perjalanan menuju bandara Juanda Surabaya, tidak mendapatkan kemacetan. Sehingga membuat mereka berdua bisa cepat sampai di bandara Juanda Surabaya.


Rayanza dan Samara pun segera pergi menghampiri ketiga anaknya, yang sedang menunggu kedatangan mereka berdua bersama kedua orang tuanya Samara.


"Bunda, papa..." panggil ketiga anaknya Samara secara bersamaan. Karena mereka bertiga melihat kedatangan Samara dan Rayanza.


"Sayang," ucap Samara sambil memeluk ketiga anaknya.


"Bunda, papa. Nanti pulangnya berikan aku oleh-oleh yah," pinta Arsya. Ketika Samara sudah melepaskan pelukannya.


"Iya sayang, pasti papa akan memberikan oleh-oleh buat ketiga anak papa yang tampan dan cantik ini," sahut Rayanza sambil tersenyum.


"Hore..." ketiga anaknya Samara pun bersorak kegirangan. Karena mereka bertiga akan mendapatkan oleh-oleh dari Rayanza dan Samara, yang akan pergi berbulan madu ke negara Prancis.


"Emangnya kalian bertiga mau di belikan oleh-oleh apa?" tanya Samara pada ketiga anaknya.


"Aku gak mau oleh-oleh mainan atau pakaian, Bun. Tapi aku maunya adik bayi perempuan, biar aku ada temannya Bun." Kirana meminta oleh-oleh seorang adik perempuan kepada Samara.


"Adik laki-laki saja kak," timpal Arsya.


"Laki-laki,"


"Sudah-sudah. Kalian berdua jangan begitu, mau adik perempuan atau laki-laki tidak apa-apa, yang penting sebentar lagi kita akan mempunyai adik bayi." Candra menghentikan perdebatan kedua adiknya, yang berbeda keinginan dalam memiliki seorang adik.


Samara dan Rayanza pun mengkerutkan keningnya, mendengar ucapan ketiga anaknya yang meminta oleh-oleh seorang adik.


"Dasar anak-anak, ada-ada saja permintaannya itu." Samara membatin mendengar permintaan ketiga anaknya, sambil tersenyum manis.


Sedangkan kedua orang tuanya Samara, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum senang melihat ketiga cucunya, yang meminta oleh-oleh seorang adik pada Samara dan Rayanza yang akan pergi berbulan madu.


"Anak-anak, bunda dan papa akan pergi. Kalian bertiga baik-baik yah tinggal sama kakek dan nenek. Jangan berantem dan nakal, oke!" ucap Samara yang berpamitan pergi kepada ketiga anaknya.


"Iya Bunda," sahutnya.

__ADS_1


"Pasti aku akan merindukan Bunda dan papa," ungkap Arsya.


"Papa dan bunda pun, pasti merindukan kalian bertiga. Meski jarak kita jauh, tapi kita masih bisa berkomunikasi dengan melakukan panggilan video call atau panggilan telepon. Selama papa dan bunda pergi, kalian bertiga tetap harus semangat belajar yah," timpal Rayanza yang berusaha memberikan pengertian kepada ketiga anaknya.


Saat mereka semua sedang berbicara, suara panggilan keberangkatan pesawat menuju negara Prancis, menghentikan pembicaraan mereka semua.


"Bu, pak. Aku titip anak-anak yah," ujar Samara yang menitipkan ketiga anaknya kepada kedua orang tuanya. Sebelum ia dan Rayanza akan naik pesawat.


"Iya, kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan mereka bertiga. Bapak dan ibu akan menjaga mereka bertiga dengan baik," tutur Anton bapaknya Samara.


"Ini perlengkapan kalian berdua, selama pergi ke Perancis." Santi memberikan koper kepada Samara.


"Terima kasih Bu, pak." Samara mengucapkan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya, yang sudah mempersiapkan semua perlengkapan untuk dirinya dan juga Rayanza.


"Sama-sama," balasnya.


Samara dan Rayanza yang sudah berpamitan dengan anak-anak dan kedua orang tuanya, kini mereka berdua segera pergi meninggalkan mereka semua. Karena mereka berdua akan naik pesawat terbang, yang akan membawa mereka berdua ke negara Prancis.


Samara dan Rayanza yang sudah berada di dalam pesawat terbang, tidak lama kemudian pesawat terbang pun meninggalkan kota Surabaya menuju negara Prancis dengan dua kali transit.


Beberapa jam kemudian.


Akhirnya Samara dan Rayanza tiba di negara Prancis dengan selamat. Kini mereka berdua segera turun dari pesawat, dan mencari keberadaan uncle Syam yang akan menjemput Rayanza dan Samara.


"Itu dia uncle Syam," tunjuk Rayanza ke arah Syam yang datang menjemputnya.


"Welcome to Perancis." Syam menyambut kedatangan Rayanza dan Samara, dan ia memeluk Rayanza keponakannya.


Sedangkan Samara menjabat tangannya ke arah Syam dan istrinya yang bernama Ramona, yang ikut menjemput Samara dan Rayanza di bandara Charles de Gaulle.


Samara dan Rayanza pun pergi meninggalkan bandara Charles de Gaulle, dan pergi ke rumah Rayanza yang berada di negara Prancis. Karena selama mereka berdua berbulan madu di Perancis, mereka berdua akan tinggal di sana.


Sesampainya di rumah Rayanza.

__ADS_1


Samara yang keluar dari dalam mobil, ia melihat seorang wanita yang ia kenal.


"Wanita itu seperti..."


__ADS_2