
Rayanza yang melihat ketakutan di wajah Samara, menuruti ajakan Samara yang ingin segera pergi dari restoran Andini Food, tanpa bertanya lagi kepada Samara.
"Aku ikuti saja ajakan Samara yang ingin pergi dari sini. Nanti aku akan menanyakannya lagi, saat sudah berada di dalam mobil," batin Rayanza sambil mengajak Samara pergi ke arah mobilnya yang terparkir di depan restoran Andini Food.
Di tengah perjalanan.
Samara yang masih ketakutan, belum berani menceritakan pada Rayanza, tentang kejadian yang dia alami di restoran milik Nayla.
Rayanza yang melihat Samara seperti itu, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Samara.
"Ra, kita mau pergi kemana?" tanya Rayanza. Sebelum ia bertanya tentang ketakutan yang di alami oleh Samara.
"Aku mau pulang ke Surabaya Ray, tidak mau lama-lama tinggal di sini." Samara menjawab pertanyaan dari Rayanza, dengan wajah yang masih ketakutan.
"Ada apa denganmu Ra? Kelihatannya, kamu seperti orang ketakutan saja?" Rayanza akhirnya bertanya tentang ketakutan yang di alami oleh Samara.
"Ada orang yang mau mencelakaiku, Rey." Samara pun menceritakan pada Rayanza, tentang makanan di restoran milik Nayla yang ada racunnya.
"Yang benar kamu Ra?" Rayanza kaget mendengar cerita dari Samara.
"Iya Ray, tolong antarkan aku pergi ke bandara. Aku mau pulang sekarang juga," pinta Samara dengan raut wajah yang masih ketakutan.
"Aku pasti akan mengantarmu Ra," sahut Rayanza.
"Terima kasih Ray, kamu sudah mau mengantarkan aku pergi ke bandara." Samara mengucapkan rasa terima kasih pada Rayanza, yang mau mengantarkannya pergi ke bandara Soekarno Hatta.
"Kamu jangan ketakutan seperti itu, di sini ada aku, yang akan menemanimu. Aku sangat bersyukur sekali. Karena kamu tidak sempat memakan, makanan dan meminum itu. Aku tidak bisa membayangkan, kalau sampai kamu memakan, makanan yang beracun itu," ucap Rayanza sambil melirik ke arah Samara.
"Oh iya, Ra! Kita harus memberitahukan kepada Nayla, tentang makanan dan minuman yang beracun di restoran miliknya. Pasti Nayla memiliki rekaman cctv, dan kita bisa mengetahui siapa pelakunya," lanjut Rayanza.
"Iya kamu benar Ray, aku akan meminta Nayla memeriksa rekaman cctv yang ada di dalam restorannya. Dan meminta Nayla, untuk mengirimkan hasil rekaman cctvnya kepadaku." Samara bisa menghembuskan nafas lega. Karena ia bisa mengetahui orang yang berniat mencelakainya, dengan hasil rekaman cctv yang ada di dalam restoran milik Nayla.
"Ya sudah, cepat kamu telepon Nayla." Rayanza menyuruh Samara untuk segera menghubungi Nayla.
"Nanti saja Ray. Karena saat ini, Nayla sedang bersama kedua orang tuanya yang baru saja pulang. Aku tidak mau menggangu mereka untuk sekarang ini, aku sangat yakin sekali. Kalau Nayla memiliki rekaman cctv di dalam restorannya." ujar Samara yang enggan menghubungi Nayla, yang sedang bersama kedua orang tuanya. Karena Samara tidak mau menggangu mereka, dan Samara akan menghubungi Nayla ketika dirinya sudah sampai di Surabaya.
Rayanza menanggapi ucapan Samara, dengan mengagukkan kepalanya sambil tersenyum senang. Karena ia bisa melihat Samara, yang sudah tidak ada rasa ketakutan lagi di wajahnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian.
Mereka berdua sudah sampai di bandara Soekarno Hatta, dan sesampainya di sana. Rayanza segera memesan tiket pesawat terbang menuju Surabaya.
"Ini Ra, tiket pesawatnya." Rayanza memberikan tiket pesawat yang sudah ia beli kepada Samara.
"Terima kasih," ucap Samara sambil menerima tiket pesawat, yang berada di tangan Rayanza.
"Keberangkatannya masih setengah jam lagi. Kita makan dulu yuk di sana, aku tahu pasti kamu lapar." Rayanza mengajak Samara, untuk makan bersamanya di restoran yang berada di bandara Soekarno Hatta.
Samara yang sejak tadi belum makan, ia pun ikut pergi bersama Rayanza yang mengajaknya makan di restoran, yang berada di sekitar bandara Soekarno Hatta. Sembari menunggu keberangkatan pesawat terbang, yang akan menuju ke kota Surabaya.
Setelah selesai makan, mereka berdua segera masuk ke dalam pesawat yang akan berangkat ke kota Surabaya.
"Terima kasih Ray, aku pamit pulang yah." Samara berpamitan pada Rayanza yang masih mengikuti dirinya, yang akan masuk ke dalam pesawat terbang.
"Iya sama-sama," sahutnya sambil tersenyum.
"Kamu kenapa masih mengikuti aku Ray?" tanya Samara yang heran dengan Rayanza, yang terus mengikuti dirinya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian Ra, aku akan ikut bersamamu pergi ke Surabaya," jawab Rayanza.
"Ayo Ra, katanya mau pulang. Kenapa kamu diam saja di situ?" ucap Rayanza yang melihat Samara masih berdiam diri. Setelah mendengar jawaban dari Rayanza, yang akan ikut menemaninya pergi ke kota Surabaya.
"Ra, ayo." Rayanza kembali mengajak Samara.
"I...iya Ray," sahut Samara gugup.
Samara dan Rayanza segera masuk ke dalam pesawat terbang, yang akan membawa mereka berdua ke kota Surabaya.
Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dengan menggunakan pesawat terbang, tidak memakan waktu yang sangat lama. Sehingga mereka berdua bisa cepat sampai di bandara Juanda Surabaya.
"Ray." Samara memanggil Rayanza yang akan masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan.
"Iya, ada apa Ra? tanyanya.
"Kamu jangan beritahu kepada kedua orang tuaku, tentang kejadian yang aku alami hari ini, aku tidak mau membuat ibu dan bapakku..."
__ADS_1
"Iya Ra, kamu tenang saja. Aku tidak akan menceritakan semua itu," ucap Rayanza yang memotong ucapan Samara.
"Yuk kita masuk ke dalam mobil," lanjut Rayanza yang mengajak Samara masuk ke mobil taksi.
Samara mengikuti Rayanza, yang akan masuk ke dalam mobil taksi.
Di dalam mobil taksi.
Samara memberitahukan kepada Rayanza, tentang niatnya yang mau menghubungi Nayla. Jika ia sudah sampai di kota Surabaya.
"Sebelum sampai di rumah, aku mau menghubungi Nayla terlebih dahulu. Agar besok Nayla bisa mengecek rekaman cctv yang ada di restoran miliknya," ucap Samara yang memberitahu Rayanza, tentang keinginannya yang mau menghubungi Nayla sahabat baiknya.
"Iya cepat kamu hubungi Nayla, Ra. Aku sudah penasaran dengan pelakunya." Rayanza mempersilahkan Samara, yang mau menghubungi Nayla.
Samara segera mencari nomor telepon Nayla, dan setelah menemukannya ia langsung menekan nomor telepon Nayla. Dan tidak lama kemudian, Nayla pun menerima panggilan telepon dari Samara.
"Halo Ra, ada apa?" tanya Nayla.
"Aku ganggu kamu ya?" jawab Samara yang takut mengganggu waktu Nayla, yang sedang bersama kedua orang tuanya.
"Tidak kok, kamu masih di Jakarta apa sudah di Surabaya Ra?" tanya Nayla lagi.
"Alhamdulillah. Aku sekarang sudah sampai di Surabaya, ini lagi arah pulang." Samara menjawab pertanyaan dari Nayla. Sebelum menceritakan semuanya pada Nayla.
"Maaf yah, aku lagi-lagi tidak bisa menemanimu," sahut Nayla yang meminta maaf pada Samara.
"Iya tidak apa-apa kok. Oh iya Nay, ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu." Samara pun mulai menceritakan semua kejadian di restoran milik Nayla.
"Really?" Nayla kaget dan tidak percaya. Kalau di dalam restoran miliknya akan terjadi seperti itu.
"Iya Nay, aku tidak mungkin membohongimu. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mengecek rekaman cctv yang ada di dalam restoranmu." Samara menyuruh Nayla melihat rekaman cctv yang berada di restorannya.
"Baiklah, aku akan mengecek rekaman cctv di restoranku. Aku juga akan memecat para karyawan, yang memberikan racun ke dalam makanan dan minuman yang kamu pesan. Beruntung aku dan kamu tidak sempat memakan itu semua," geram Nayla pada para karyawan yang bekerja di restorannya.
"Nay, aku mau minta di kirimkan hasil rekaman cctvnya. Kalau kamu sudah melihat hasil rekaman cctv di restoranmu," pinta Samara pada Nayla.
"Iya Ra, besok pagi aku akan mengirimkannya. Sekarang sudah malam, kamu hati-hati ya di jalannya," ucap Nayla. Sebelum mengakhiri panggilan telepon dari Samara.
__ADS_1
"Setelah mendapatkan rekaman cctv ini, aku pasti bisa mengetahui tentang orang yang mau menculik dan mencelakaiku," batin Samara.