
"Hey Ray," ucapnya yang datang menghampiri Rayanza yang sedang makan malam bersama Samara, dan ia langsung memeluk Rayanza dari belakang. Ketika ia sudah berada di dekat Rayanza.
Rayanza yang kaget mendapatkan pelukan dari seseorang yang menyapanya, ia segera menengok ke belakang. Untuk memastikan siapa orang yang memeluknya.
"Jessica..." lirih Rayanza yang kaget bertemu dengan Jessica.
"Kapan kamu sampai ke sini? Kok gak ngabarin aku?" tanya Jessica orang yang pernah mencintai Rayanza. Saat Rayanza tinggal di Perancis.
"Aku baru sampai kemarin Jes, dan tidak mengabarimu. Ya karena aku tidak mempunyai nomor telepon kamu yang baru," jawab Rayanza berterus terang.
"Kamu kan bisa main ke rumahku. Jangan jadikan alasan deh, Ray. Apakah kamu tidak merindukan aku?" tanyanya lagi.
''Tentu saja aku merindukanmu. Karena kamu adalah temanku, yang selalu menemaniku. Saat aku tinggal di sini. Bagaimana kabarmu, Jes?" sahut Rayanza yang menanyakan tentang kabarnya Jessica.
"I am fine and you?"
"Alhamdulillah, kabarku juga baik."
"Oh iya, ini siapa Ray?" tanya Jessica lagi, sambil menunjuk ke arah Samara.
"Ini Samara, Jes. Sayang ayo kenalan dengan Jessica temanku." Rayanza menyuruh Samara untuk berkenalan dengan Jessica.
Degh!
"What? Jadi wanita ini yang membuat Rayanza tidak mau menerima cintaku," batin Jessica yang baru bertemu dengan Samara.
Samara mengulurkan tangannya ke arah Jessica, untuk berkenalan dengan Jessica. Akan tetapi, Jessica tidak langsung menerima uluran tangan dari Samara. Karena ia masih kaget mendengar ucapan Rayanza yang memperkenalkan Samara, dan mengucapkan kata sayang pada Samara.
"Kamu kenapa diam saja, Jes? Itu Samara ingin berkenalan denganmu," ujar Rayanza yang melihat Jessica berdiam diri tanpa menerima uluran tangan dari Samara.
"Samara."
''Jessica."
Dan akhirnya, Samara dan Jessica pun berkenalan.
"Jes, ada kabar bahagia yang belum aku ceritakan kepadamu," ucap Rayanza yang ingin memberitahukan kepada Jessica tentang kabar pernikahannya dengan Samara.
"Kabar apa?" tanyanya.
"Aku dan Samara sekarang ini sudah resmi menjadi suami istri," jawab Rayanza sambil tersenyum senang.
"Oh, selamat yah." Jessica mengucapkan selamat atas pernikahan Rayanza dan Samara.
"Aku pamit pulang duluan. Kalau ada waktu, kamu dan Samara main ya ke rumahku," sambung Jessica yang langsung berpamitan pergi kepada Rayanza dan Samara.
"Kita baru bertemu lagi Jes, kok kamu langsung pulang saja?" Rayanza mencegah Jessica yang akan pergi meninggalkan restoran Le Bistro Parasien.
__ADS_1
"Ada kerjaan yang harus selesai besok pagi, Ray. Jadi aku minta maaf sama kamu dan Samara, tidak bisa berlama-lama di sini. Aku pamit pulang duluan yah," jelasnya yang segera pergi meninggalkan Rayanza dan Samara.
Rayanza menggelengkan kepalanya, melihat Jessica yang terburu-buru pergi meninggalkan restoran Le Bistro Parasien.
"Jessica itu dari dulu sibuk terus dengan pekerjaannya. Sehingga membuat dia sampai sekarang ini belum menikah," ujar Rayanza yang memberitahukan kepada Samara tentang Jesicca. Ketika Jessica sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Oh begitu," timpal Samara.
Rayanza dan Samara pun melanjutkan kembali makan malam yang sempat tertunda. Karena kedatangan Jessica, yang datang menghampiri mereka berdua. Setelah selesai makan malam di restoran Le Bistro Parasien. Samara dan Rayanza langsung pulang ke rumah. Akan tetapi, di saat mereka berdua akan masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba saja Siska yang sedang melarikan diri dari kejaran Glen dan temannya, Siska kembali bertemu dengan Samara dan Rayanza.
"Sebaiknya aku meminta tolong sama kak Samara," batin Siska yang segera pergi menghampiri Samara dan Rayanza yang akan masuk ke dalam mobil.
"Kak tolong bawa aku pergi dari sini," ucap Siska yang sudah berada di dekat Samara dan Rayanza.
"Ayo kamu masuk ke dalam mobil," sahut Samara yang menyuruh Siska masuk ke dalam mobil. Agar Siska tidak tertangkap oleh Glen dan temannya yang berusaha mengejar Siska.
Siska pun mengagukkan kepalanya, dan langsung masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil.
Samara yang penasaran dengan semuanya, ia langsung menanyakan itu semua kepada Siska.
"Kenapa bisa kamu dan Glen berada di negara ini?"
"Aku dan Glen melarikan diri, dan memutuskan tinggal di sini. Saat aku dan Glen berencana mencelakai kak Samara, tapi rencana itu gagal. Sehingga membuat aku dan Glen menjadi buronan polisi. Maafkan semua kesalahanku, Kak." Siska pun menjawab pertanyaan dari Samara dengan penuh rasa penyesalan.
"Iya kak, tapi aku tidak tahu ayah dari anak yang berada di dalam kandunganku? Karena Glen telah merenggut kesucian ku, dan ia juga menyuruhku melakukan pekerjaan..." Siska tidak bisa meneruskan ucapannya. Karena ia merasa malu terhadap Samara dan Rayanza, untuk menjawab semuanya.
"Aku kemarin tidak sengaja bertemu denganmu dan Glen, aku juga sudah mendengar pembicaraan antara kalian berdua. Jadi kamu tidak perlu menjelaskan tentang pekerjaanmu," sahut Samara.
"Aku rindu dengan ibu dan kak Arsyaka, tolong bawa aku pergi dari negara ini, Kak." Siska meminta tolong kepada Samara dan Rayanza. Agar bisa membawanya pergi dari negara Prancis, untuk bisa bertemu dengan Retno dan Arsyaka.
Samara tidak langsung menjawab permintaan Siska, ia melirik ke arah Rayanza untuk meminta pendapatnya. Rayanza yang mengerti dengan tatapan mata Samara, ia segera menjawab permintaan Siska yang meminta tolong kepadanya dan juga Samara.
"Aku akan mengantarmu pergi ke rumah uncle Syam. Karena beliau pasti bisa membantumu pulang ke Indonesia, tapi ada hal yang mesti kamu ketahui! Kalau ibu dan kakakmu sekarang ini masuk ke dalam penjara, atas kasus penculikan ketiga anaknya Samara," ucap Rayanza berterus terang tentang kejahatan yang dilakukan oleh Retno dan Arsyaka.
"Apa...! Ibu dan kak Arsyaka masuk ke dalam penjara," sahut Siska yang baru mengetahui tentang ibu dan kakaknya yang sekarang ini masuk ke dalam penjara.
"Iya Sis, ibu dan kakakmu masuk ke dalam penjara." Samara pun membenarkan ucapan Rayanza.
"Aku juga akan masuk ke dalam penjara. Untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanku, yang terpenting sekarang ini aku bisa pergi dari negara ini," ujar Siska.
"Kamu tenang saja, aku dan Rayanza pasti akan berusaha menolongmu," timpal Samara.
Rayanza dan Samara yang tadinya akan pulang ke rumah, kini mereka berdua tidak jadi pulang ke rumah. Karena mereka berdua akan mengajak Siska pergi ke rumah uncle Syam, yang akan menolong Siska pulang ke Indonesia.
Sesampainya di rumah uncle Syam.
__ADS_1
Mereka bertiga segera turun dari mobil, dan menekan bel pintu yang ada di rumah uncle Syam.
Tin_tong
Tidak lama kemudian.
Pintu rumah uncle Syam pun terbuka.
"Rayanza, Samara..." lirih Ramona yang melihat kedatangan Samara dan Rayanza, yang datang malam-malam ke rumahnya sambil mengajak Siska.
"Uncle Syam nya ada aunty?" tanya Rayanza.
"Ada di dalam, ayo kalian masuk ke dalam rumah aunty," jawabnya sambil mengajak mereka bertiga masuk ke dalam rumahnya.
Mereka bertiga pun segera masuk ke dalam rumah uncle Syam dan aunty Ramona. Rayanza yang sudah bertemu dengan uncle Syam, ia langsung meminta tolong kepada uncle Syam. Agar membantu Siska pulang ke Indonesia. Setelah mengatakan itu semuanya. Rayanza dan Samara langsung pergi meninggalkan rumah uncle Syam, sedangkan Siska tinggal sementara di rumah uncle Syam.
Rayanza dan Samara yang sudah sampai di rumah, mereka berdua segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Akan tetapi, Samara belum bisa tidur.
"Ini sudah malam, Sayang. Kenapa kamu belum tidur? Kamu masih memikirkan tentang Siska?" tanya Rayanza yang melihat Samara belum bisa tidur.
"Aku bukan memikirkan tentang Siska, sekarang ini dia aman tinggal bersama uncle Syam dan aunty Ramona. Tapi ada hal yang mau aku tanyakan sama kamu," jawabnya.
"Kamu mau menanyakan tentang apa?" tanyanya lagi. Karena Samara tidak langsung menanyakan tentang apa yang ingin ia tanyakan pada Rayanza.
"Saat kita berdua bertemu dengan Jessica, aku merasa kamu dan Jessica bukan hanya sekedar teman biasa. Tapi pertemanan kalian berdua itu, seperti ada rasa cinta di hati Jessica kepadamu," ungkap Samara yang dari tadi ingin menanyakan tentang itu, tapi baru sekarang ini ia bisa menanyakannya pada Rayanza.
"Jadi ceritanya istriku yang cantik ini tengah cemburu. Karena melihat Jessica yang datang langsung memelukku?" Rayanza menggoda Samara yang tengah terbakar api cemburu.
"Ya wajarlah kalau aku cemburu, aku hanya tidak suka melihat Jessica yang datang-datang langsung memelukmu," jelas Samara yang mengakui bahwa dirinya tengah cemburu.
"Dengarkan aku, Sayang. Aku dan Jessica hanya berteman, dan tidak ada hubungan apapun selain hubungan pertemanan. Meski Jessica pernah mengungkapkan perasaan cintanya kepadaku, tapi aku tidak bisa menerima cintanya. Karena yang aku cintai itu kamu," tutur Rayanza sambil menunjuk ke arah hidung Samara, dan kemudian mencubit hidungnya.
"Aaawww sakit, Ray. Nanti aku tidak bisa nafas," lirih Samara.
"Kalau kamu tidak bisa bernafas, aku dengan senang hati akan memberikan nafas buatan untukmu," sahut Rayanza sambil memberikan kode pada Samara.
"Apaan sih kamu? Aku sekarang sudah mengantuk mau tidur," timpalnya yang segera menutup wajahnya dengan selimut.
"Aku tidak akan membiarkan kamu tidur." Rayanza segera membuka selimut yang menutupi Samara, dan Rayanza menggelitik Samara yang tengah berbaring di tempat tidur.
"Aaah, hentikan Ray. Tadi kamu nyuruh aku untuk tidur, kini giliran aku mau tidur malah di ganggu."
"Aku mau menghilangkan rasa cemburumu. Kalau kamu masih seperti ini, tandanya kamu tidak percaya dengan ucapanku,"
"Iya, iya aku percaya dengan ucapan suamiku."
"Ayo sayang, kita habiskan waktu berbulan madu ini dengan baik. Sebelum kita pulang ke Indonesia," ajak Rayanza pada Samara.
__ADS_1
Samara menerima ajakan dari Rayanza dengan mengagukkan kepalanya, dan pada akhirnya Rayanza dan Samara menikmati kehangatan dalam berbulan madu.