Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 93 Terluka


__ADS_3

Rayanza yang tengah bersiap-siap hendak mendobrak pintu kamar, yang di dalamnya ada Samara dan ketiga anaknya. Tiba-tiba saja, ada orang di belakang Rayanza.


Bruk!


Orang itu berhasil memukul kepala Rayanza dengan kursi. Sehingga membuat Rayanza tersungkur jatuh ke lantai.


"Rasakan. Ini semua pelajaran untukmu. Karena kamu telah mengacaukan acara akad nikah yang di adakan hari ini," ucapnya yang begitu kesal pada Rayanza.


"Ray, Rayanza..." Samara berteriak memanggil nama Rayanza sambil memukul pintu kamar. Karena ia mendengar suara pukulan yang keras dari luar kamarnya.


"Diam kau," bentaknya pada Samara yang terus berteriak memanggil Rayanza sambil memukul pintu kamar.


"Apa yang kamu lakukan pada Rayanza?" teriak Samara yang tidak mendengar suara Rayanza. Setelah mendengar suara pukulan yang keras di luar kamarnya.


"Ha-ha-ha, aku akan memberitahukan padamu. Kalau lelaki yang mencintaimu sekarang ini sudah mati," jawabnya yang memberitahukan pada Samara tentang kondisi Rayanza yang sudah tidak bergerak lagi. Setelah ia berhasil memukul Rayanza dengan kursi yang ada di dalam rumah.


"Tidak... tidak mungkin, Rayanza bangun Ray." Samara berteriak histeris. Karena mendengar jawaban dari orang yang telah memukul Rayanza.


"Ha-ha-ha tidak sia-sia. Aku berhasil menyelinap masuk ke dalam rumah, tanpa ada orang yang mengetahui kedatanganku yang sudah masuk ke dalam rumah. Karena mereka semua, tengah sibuk berkelahi di dalam rumah. Sehingga memudahkan aku masuk ke dalam rumah, dan aku bisa mencegah Rayanza yang akan menolong Samara dan ketiga anaknya," lirihnya yang tersenyum senang. Karena ia berhasil mencegah Rayanza yang mau menyelamatkan Samara dan ketiga anaknya.


"Sekarang giliran kamu dan ketiga anakmu, yang akan menyusulnya. Ha-ha-ha," ujarnya yang segera mendekati pintu kamar, yang di dalamnya itu ada Samara dan ketiga anaknya. Karena ia mau membukakan pintu kamar itu. Untuk menghabisi Samara dan ketiga anaknya, yang berada di dalam kamar.


"Aku harus menolong Samara. Jangan sampai dia mencelakai Samara dan ketiga anaknya," batin Rayanza yang berusaha bangun. Untuk menolong Samara dari orang yang hendak mencelakai Samara dan ketiga anaknya. Meski keadaan Rayanza sekarang ini, penuh dengan luka di bagian kepalanya. Akibat terkena pukulan dari orang itu, yang memukul kepala Rayanza dengan menggunakan kursi.


Saat Rayanza berhasil bangun, ia segera pergi menghampiri orang yang berada di depan pintu kamar. Karena Rayanza mau mengalahkan orang yang telah memukulnya, dengan sisa tenaga yang masih ia miliki.


"Ta... Tante," lirih Rayanza yang melihat orang yang telah memukulnya, yang ternyata adalah Ajeng mamanya Tiya.


Ajeng yang mendengar suara Rayanza yang memanggilnya, ia pun mengurungkan niatnya yang mau membuka pintu kamar.


Ajeng segera membalikkan badannya, untuk melihat kondisi Rayanza yang masih bisa bertahan hidup. Setelah ia memukul kepala Rayanza dengan menggunakan kursi.


"Rupanya kamu masih hidup. Tapi aku pastikan! Kalau hari ini, adalah hari kematianmu," ujar Ajeng yang segera mengambil potongan kursi yang patah dan mengangkatnya. Karena ia mau memukul Rayanza dengan menggunakan itu.

__ADS_1


"Lebih baik kamu mati, dari pada terus menyakiti perasaan putriku yang begitu mencintaimu," sambungnya.


"Cinta itu tidak bisa di paksakan. Jangan seperti ini, Tan." Rayanza berusaha mengelak dari serangan Ajeng yang memegang potongan kursi, yang akan di layangkan ke arahnya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu dan Samara pergi dari sini, lebih baik kalian berdua mati." Ajeng terus melayangkan pukulan ke arah Rayanza.


Sedangkan Rayanza terus berusaha menghindari serangan Ajeng, yang terus menyerangnya tiada henti.


Bruk.


Rayanza terjatuh ke bawah lantai. Karena darah di bagian kepalanya terus mengalir, membuat ia sedikit pusing dan tidak mampu menghindari serangan Ajeng lagi.


"Ha-ha-ha, sekarang ini kamu benar-benar sudah tidak berdaya." Ajeng tertawa bahagia melihat kondisi Rayanza, yang terbaring lemah dan penuh luka di bagian kepalanya.


Brak_bruk


Ajeng terus memukul Rayanza yang sudah tidak berdaya, dengan menggunakan potongan kursi yang patah.


"Rayanza..." teriak Samara di dalam kamar. Karena ia mendengar suara pukulan lagi, ia pun mulai mencemaskan keadaan Rayanza yang berusaha menolongnya.


"Tolong hentikan. Jangan kau sakiti Rayanza," teriak Samara lagi.


"Ternyata yang di dalam kamar sudah tidak sabar, ingin merasakan seperti dia," timpal Ajeng pelan sambil menyunggingkan senyuman.


Ajeng yang sudah merasa Rayanza benar-benar sudah tidak berdaya, ia segera pergi menghampiri Samara dan ketiga anaknya yang berada di dalam kamar.


"Kini giliran kamu dan juga anak-anakmu, yang akan mengalami nasib seperti Rayanza," ucap Ajeng. Saat ia sudah membukakan pintu kamar.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," sahut Samara yang bersiap-siap melawan Ajeng, yang sudah berada di hadapannya.


"Percaya diri sekali kamu," balas Ajeng yang yang geram dengan Samara.


"Aku harus melawannya di luar kamar. Jangan sampai ia masuk ke dalam kamar, karena aku tidak mau terjadi sesuatu pada ketiga anakku,' batin Samara.

__ADS_1


Saat Ajeng melayangkan pukulan ke arah Samara yang berada di hadapannya. Samara terus berusaha mengelak dari pukulan Ajeng, dan membuat dirinya bisa keluar dari dalam kamar.


"Mau pergi ke mana kamu?" tanya Ajeng pada Samara, yang berhasil keluar dari dalam kamar.


"Kamu tidak akan bisa pergi dari sini,'' lanjut Ajeng yang mau memukul Samara, yang sekarang ini berada di luar pintu kamar.


Rayanza yang masih merasakan rasa sakit di bagian kepalanya, ia tetap berusaha menolong Samara.


"Ambil potongan kursi itu, Ra." Rayanza berucap pelan, dan berharap Samara bisa mendengar ucapannya. Karena Rayanza mau memberitahukan pada Samara, tentang dirinya yang berhasil menangkap satu kaki Ajeng.


"Lepaskan kakiku," gerutu Ajeng yang kesal pada Rayanza, yang terus mengacaukan rencananya. Ajeng pun berusaha melepaskan kakinya, yang di pegang oleh Rayanza.


Samara yang melihat Ajeng tengah lengah, ia segera mendorong tubuh Ajeng dan mengambil potongan kursi yang terjatuh ke bawah lantai.


Ajeng yang melihat keberhasilan Samara, yang telah mengambil potongan kursi dari tangannya, ia segera bangun dan menjambak rambut Rayanza yang masih memegang kakinya.


"Aawww," rintih Rayanza yang merasakan rasa sakit di bagian kepalanya, akibat di jambak rambutnya oleh Ajeng. Rayanza pun melepaskan tangannya, yang memegang kaki Ajeng.


"Aku senang mendengar suara kesakitan seperti ini," ucap Ajeng sambil menjambak rambut Rayanza.


"Buanglah benda itu jauh-jauh. Kalau kamu mau dia selamat," lanjutnya yang menyuruh Samara. Untuk membuang potongan kursi yang patah.


Samara tidak menanggapi ucapan Ajeng, dan tetap memegang potongan kursi yang patah. Samara maju ke depan, untuk menyelamatkan Rayanza yang di jambak rambutnya oleh Ajeng.


"Cepat kamu buang itu!" perintahnya lagi. Karena ia melihat raut wajah Samara, yang ragu membuang potongan kursi yang patah.


"Jangan dengarkan..."


"Aaawww," jerit Rayanza yang semakin merasakan rasa sakit di bagian kepalanya. Karena Ajeng menjambak rambutnya dengan kasar.


"Cepat buang itu. Kalau kamu tidak mau melihatnya kesakitan," perintahnya sekali lagi pada Samara.


Samara pun mengikuti perintah Ajeng. Karena ia tidak tega melihat Rayanza kesakitan di bagian kepalanya, yang sudah terluka akibat di pukul oleh Ajeng.

__ADS_1


Saat Samara hendak melempar potongan kursi itu, ia mendengar suara tembakan pistol di dalam rumah.


Dor... dor... dor...


__ADS_2