Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 14 Dobel POV Samara dan mertuanya


__ADS_3

POV Samara.


Aku yang sudah membukakan pintu kamarnya Chelsea, kaget melihat kedatangan Chelsea. Tapi bukan hanya itu saja yang membuat aku kaget, foto di dalam kamar Chelsea dengan seorang lelaki. Itu sangat membuat aku benar-benar tidak menyangka, kalau ternyata lelaki itu adalah Arsyaka suamiku.


"Kamu siapa? Mau mencuri yah?" tanya Chelsea menatap tajam ke arahku.


"A...aku," ucapku gugup dan bingung. Karena ibu Linda sudah memperingatiku, untuk bersembunyi. Jika bertemu dengan suami dan anaknya.


"Pasti kamu mau mencuri di sini iyakan!" Chelsea menuduhku mencuri, dan kemudian dia menarik satu tanganku.


"A....aku bukan pencuri," aku berusaha menarik tanganku, yang di pegang oleh Chelsea.


"Mana ada pencuri mau mengakui," sahutnya sambil membawa aku pergi keluar rumahnya.


"Aku bekerja di sini sebagai pembantu, dan aku itu bukan pencuri." ucapku lagi, sambil berusaha mengatakan yang sebenarnya kepada Chelsea.


Tapi sepertinya Chelsea tidak percaya dengan ucapanku, meski aku sudah mengatakan yang sebenarnya.


Saat Chelsea membukakan pintu rumahnya, ibu Linda berada di depan pintu sambil membawa beberapa belanjaan. Dan sepertinya ibu Linda baru saja sampai di rumahnya.


"Mah, di sini ada pencuri." Chelsea langsung memberitahukan kepada ibu Linda.


Aku pasrah jika ibu Linda akan memecat ku, buat apa lagi aku masih bekerja di sini. Karena aku sudah melihat calon suami Chelsea, yang ternyata adalah suamiku.


"Ayo masuk," ibu Linda menarik tangan Chelsea, dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Aku pun kembali masuk ke dalam rumahnya. Karena Chelsea tidak melepaskan tanganku, yang masih di pegang olehnya.


"Dia itu pembantu di rumah ini, tapi kamu! Jangan memberitahukan kepada papa," ibu Linda memberitahukan kepada Chelsea. Kalau aku itu adalah pembantu di rumah ini.


Chelsea pun segera melepaskan genggaman tanganku. "Oh gitu, aku kirain dia itu pencuri." Chelsea menatap sinis padaku.


Padahal yang jelas-jelas pencuri itu adalah dirinya, dia telah mencuri hati suamiku. Tapi aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Karena aku ingin menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu, aku tidak mau gegabah dalam bertindak.


"Samara! Kenapa kamu masih diam di sini, sana lanjutkan pekerjaanmu!" Ibu Linda menyuruh aku untuk bekerja kembali, tapi rasanya aku tidak ingin melanjutkan bekerja di rumah ini lagi.


"Maaf Bu, aku mau pamit pulang saja." aku pun segera mengambil kunci dapur rumah ibu Linda, yang berada di saku celanaku. Untuk aku berikan kunci dapur itu kepada ibu Linda.


"Maksud kamu ini apa? Kenapa kunci ini kamu berikan kepadaku?" tanya ibu Linda kepadaku.


"Aku tidak bisa melanjutkan bekerja di sini lagi Bu, karena aku sudah ketahuan oleh anaknya ibu," sahutku mencoba mencari alasan. Agar aku bisa berhenti bekerja di rumah ini.


"Tapi itu tidak masalah. Karena putriku Chelsea, tidak akan memberitahukan kepada suamiku. Sebaiknya kamu segera lanjutkan kembali pekerjaanmu." Ibu Linda kembali menyuruhku untuk bekerja.

__ADS_1


"Maaf Bu, aku tidak bisa. Aku pamit pergi," aku pun segera pergi meninggalkan rumah ibu Linda.


"Kamu tidak bisa seperti itu dong! Aku tidak akan memberikan uang gaji mu, jika kamu mau berhenti bekerja," ucapan ibu Linda aku hiraukan begitu saja. Karena luka di hatiku begitu sakit, melihat kenyataan yang sebenarnya. Kalau suamiku itu, ternyata berselingkuh dengan anak majikan ku. Padahal aku bekerja seperti ini. Untuk meringankan keuangannya, tapi yang aku dapatkan malah sebuah pengkhianatan dari suamiku.


__________


POV Retno.


Aku yang sedang santai di rumah, mendapatkan panggilan telepon dari Siska putriku. Dan Siska memberitahukan kepadaku, kalau Arsyaka sedang bersama wanita di sebuah kafe. Aku yang mendengar itu, langsung pergi ke kafe itu.


Sesampainya di kafe, aku langsung pergi menghampiri putraku dengan wanita itu. Dan aku terus menanyakan tentang wanita, yang sedang bersama Arsyaka putraku.


Arsyaka terus saja mengelak, dan tidak mau berkata jujur kepadaku. Aku terus menekannya, agar putraku mau mengatakan yang sebenarnya.


"Dia ini adalah kekasihku Bu," ucap Arsyaka yang akhirnya memberitahukan yang sebenarnya kepadaku.


"Perkenalkan Tante, aku Chelsea." gadis cantik itu memperkenalkan dirinya, sambil mengulurkan tangannya kepadaku.


"Aku Retno ibunya Arsyaka, dan ini adiknya Siska." aku pun menerima uluran tangannya, dan memperkenalkan diriku dan juga Siska putriku.


Aku segera menarik tangannya Arsyaka, dan mengajaknya berbicara menjauh dari Chelsea. Sedangkan Siska putriku, menemani Chelsea di meja makan.


"Kamu ini yah! Sudah pekerjaan kamu di turunkan jabatannya. Eeeh sekarang malah main gila dengan wanita itu," ucapku geram kepada putraku. Karena semenjak ia di turunkan dari jabatannya, uang bulanan yang biasa aku terima menjadi kecil.


"Aawww, sakit Bu." aku mencubit tangannya.


"Kenapa kamu harus membohongi ibumu haah?" tanyaku sambil menatap kesal kepada Arsyaka.


"Aku minta maaf Bu, tapi ibu jangan memberitahukan kepada Samara yah Bu! Aku sangat mencintai Chelsea, dia itu anaknya pak Rasyid pemilik perusahaan Armando grup internasional." aku segera menyela ucapan Arsyaka.


"Bukannya itu adalah pengusaha sukses, yang memiliki beberapa perusahaan?" tanyaku memastikan kebenarannya.


"Iya benar Bu,"


Jika Arsyaka bisa menikah dengan putri Rasyid, sudah di pastikan ia akan bahagia. Aku pun mendukung putraku, dan memintanya untuk segera menikah dengan Chelsea. Dengan syarat, dia harus memberikan uang bulanan yang lebih besar kepadaku. Karena semenjak suamiku meninggal dunia, aku bergantung dari uang pensiunan suamiku. Dan uang bulanan yang di berikan Arsyaka untukku dan adiknya.


Aku pun membantu Arsyaka, yang akan membohongi Samara. Karena sebenarnya itu! Aku dari dulu tidak setuju putraku menikah dengan Samara gadis kampung, yang ayahnya pernah menolong suamiku. Saat aku dan suamiku tinggal di desa Bukit Pelangi, aku terpaksa menerima Samara sebagai menantuku. Karena almarhum suamiku, tidak akan memberikan uang warisannya kepada Arsyaka, jika ia tidak mau menikah dengan Samara.


Tapi untuk sekarang ini! Aku tidak akan berbuat baik lagi kepada Samara. Karena aku sudah berhasil mendapatkan tanda tangan dari orang tuanya Samara. Agar uang warisan dari hasil kerja suamiku dan orang tuanya Samara, hanya bisa menjadi milikku dan anak-anakku.


Aku juga meminta uang mobilnya Samara, yang sudah di jual oleh putraku. Dengan alasan berobat, dan Samara gadis kampung itu pun mengirimkan uang yang aku minta.

__ADS_1


***


Hari ini aku akan pergi ke acara arisan, yang diadakan di rumah ibu Prita. Aku akan mengenakan pakaian yang bagus, dan juga perhiasan serta aksesoris lainnya. Agar ibu-ibu di acara arisan terpesona dengan penampilanku, dan tidak menganggap aku miskin. Karena sebentar lagi aku akan mendapatkan uang warisan, dan putraku juga akan menikah dengan putrinya Rasyid. Pasti uang bulanan yang akan aku terima nantinya, akan bertambah banyak. Jika Arsyaka sudah menjadi menantunya Rasyid.


Sesampainya aku di rumah ibu Prita, aku melihat Samara yang sedang memberikan bungkusan plastik kepada anaknya ibu Prita. Aku tidak mau mendekatinya, karena sepertinya anak ibu Prita mengenal Samara.


Saat Samara sudah pergi dari rumah ibu Prita, aku pun segera masuk ke dalam rumah ibu Prita. Kedatanganku pun di sambut baik oleh ibu-ibu arisan, yang sudah datang terlebih dulu.


"Wih jeng Retno kenapa baru datang?" tanya ibu Prita, saat aku bersalaman kepadanya.


"Maaf yah jeng Prita," sahutku meminta maaf pada ibu Prita.


"Iya tidak apa-apa,"


"Ini perhiasan jeng Retno banyak sekali? Tas yang di kenakan juga merek ternama," ucap jeng Sri memujiku.


"Iya dong,"


"Ibu Retno, baru datang yah?" tanya putrinya ibu Prita kepadaku, dan menaruh kue yang dia bawa ke atas meja. Kemudian putrinya ibu Prita bersalaman kepadaku.


"Iya," jawabku singkat.


"Ibu-ibu di makan kuenya, itu kue buatan menantunya ibu Retno loh." aku kaget dengan ucapan putrinya ibu Prita.


"Jadi Samara berjualan kue, padahal aku menyuruhnya untuk bekerja di kantor. Tapi kenapa dia malah berjualan kue seperti ibunya, mempermalukan diriku saja," batinku yang kesal kepada Samara.


"Ini beneran kue buatan menantunya jeng Retno?" tanya jeng Sri menatapku.


"Iya Tante. Ayo silahkan di cicipi kuenya ibu-ibu," sahut putrinya.


Ibu-ibu arisan malah memakan kue buatan Samara, aku geram melihat itu.


"Kuenya enak yah,"


"Iya benar enak."


"Bu Retno cicipi nih, kue buatan menantunya." ibu Prita menyodorkan kue itu kepadaku.


"Jeng Retno mah udah sering kali, makan kue buatan menantunya. Hahaha," jeng Sri menyikut pelan lenganku sambil tertawa. Akan tetapi tertawanya jeng Sri seperti mencemooh dan menyindirku.


Aku pun menanggapi ucapan dari ibu-ibu arisan dengan senyuman terpaksa.

__ADS_1


"Dia itu bukanlah menantuku lagi kok jeng. Karena sebentar lagi putraku Arsyaka akan segera menikah dengan putrinya pak Rasyid pemilik perusahaan Armando grup internasional itu loh." aku pun memberitahukan kepada ibu-ibu arisan. Kalau aku akan berbesan dengan Rasyid, dan membungkam mulutnya jeng Sri.


"Ibu..." panggilan itu membuat aku dan ibu-ibu arisan menatap ke arah suara itu.


__ADS_2