Khianat Cinta

Khianat Cinta
Bab 90 Mencemaskan Samara


__ADS_3

Samara kaget melihat kedatangan seorang yang ia kenal masuk ke dalam rumah, dan menimpali ucapannya.


"Mau tidak mau, kamu harus menikah lagi dengan mantan suamimu. Karena ku tidak mau! Kamu menjadi penghalang kebahagiaanku," ucapnya sambil menyunggingkan senyuman.


"Cepat kamu bawa dia ke sini," sambungnya lagi, yang menyuruh Retno. Untuk membawa Samara ke hadapannya.


"Baiklah bos," sahut Retno yang segera menarik tangannya Samara secara kasar, dan membawanya pergi ke hadapan bosnya.


Meski awalnya Retno akan membawa Samara masuk ke dalam kamar. Untuk mengganti pakaiannya Samara, dengan menggunakan pakaian pengantin. Akan tetapi sekarang ini, Retno tidak jadi melakukan itu. Karena bosnya sudah datang ke dalam rumah, dan menyuruhnya membawa Samara ke hadapannya.


"Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini! Aku tidak memiliki masalah denganmu?" tanya Samara yang sudah berada di hadapannya.


"Jangan pura-pura sok polos dan tidak tahu apapun! Sekarang ini, menikahlah kamu dengan mantan suamimu," jawabnya sambil tersenyum miring.


___________


Sementara itu.


Rayanza yang sudah sampai di kantor. Tiba-tiba saja, dirinya teringat dengan Samara. Rayanza pun memutuskan untuk menghubungi Samara terlebih dahulu. Sebelum ia masuk ke dalam kantor papanya.


Akan tetapi, panggilan telepon Rayanza tidak di angkat oleh Samara.


"Kenapa Samara tidak menerima panggilan telepon dariku?" lirih Rayanza yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Karena Rayanza sudah beberapa kali menghubungi nomor telepon Samara, tapi panggilan teleponnya tidak di angkat oleh Samara.


Rayanza yang ingin mengetahui penyebab Samara yang tidak menerima panggilan telepon darinya, ia pun memutuskan untuk menghubungi ke nomor telepon rumah Samara.


"Sebaiknya aku menghubungi nomor telepon rumahnya saja," ujar Rayanza yang segera menghubungi nomor telepon rumah Samara.


"Assalamualaikum," ucap Rayanza.


"Waalaikumsalam." Rina menjawab salam dari Rayanza yang menghubungi nomor telepon rumahnya.


"Rin, Samara sedang apa di rumah?" tanya Rayanza, yang langsung menanyakan Samara pada Rina adiknya.


"Mbak Samara langsung pergi. Saat kak Rayanza mengantarkan Mbak Samara pulang ke rumah," sahut Rina yang memberitahukan kepada Rayanza, tentang kepergian Samara.


"Apakah dia bilang mau pergi ke mana?"


"Katanya sih, mau pergi menemui temannya."


"Nama temannya siapa, Rin?"


"Rina tidak tahu nama temannya Mbak Samara, Kak. Soalnya Rina tidak menanyakannya," jawab Rina yang tidak tahu tentang kepergian Samara, yang akan pergi bertemu dengan temannya.


"Terima kasih Rin, atas informasinya." Rayanza langsung mematikan panggilan teleponnya.

__ADS_1


"Aku harus melacak keberadaan Samara," gumam Rayanza yang segera melacak keberadaan Samara dengan menggunakan handphone milik Samara, yang sudah ia taruh alat pelacak di dalam handphone Samara tanpa sepengetahuan dari Samara.


Rayanza melakukan itu semuanya. Karena ia tidak mau terjadi sesuatu pada Samara dan keluarganya. Apalagi saat itu, Rayanza harus berpisah jauh dariĀ  Samara yang tinggal di kota Surabaya. Sedangkan dirinya tinggal di kota Jakarta.


"Ini Samara mau pergi menemui siapa?" lirih Rayanza yang sudah mengetahui tempat keberadaan Samara.


Saat Rayanza akan menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba saja pintu kaca mobilnya ada yang mengetuk.


Tok-tok.


Rayanza pun segera membukakan kaca mobilnya.


"Kamu mau pergi ke mana, Ray?" tanya Reza yang mengetuk kaca mobil Rayanza.


"Aku mau pergi menemui Samara, yang pergi entah ke mana? Tapi kamu mau apa datang ke kantor papaku?" jawab Rayanza, sambil bertanya balik pada Reza yang datang menghampirinya.


"Aku mau menanyakan tentang kelanjutan meeting yang waktu itu," sahut Reza yang mengingatkan Rayanza, tentang meeting mereka berdua. Di saat Samara kehilangan ketiga anaknya.


"Oh iya, aku lupa. Tapi maaf Za, hari ini aku tidak masuk kerja. Karena aku mau mencari Samara, tapi kamu bisa menanyakannya itu semuanya ke sekertarisku," ujar Rayanza yang meminta maaf kepada Reza. Karena ia tidak bisa melanjutkan meeting bersama Reza, dan ia juga menyuruh Reza untuk menanyakan urusan meeting pada sekertarisnya.


"Iya tidak apa-apa kok, kalau begitu aku pamit pergi." Reza pun segera pergi meninggalkan mobil Rayanza.


Sedangkan Rayanza segera menyalakan mesin mobilnya, dan bergegas pergi menuju lokasi keberadaan Samara.


Saat Rayanza akan sampai di tempat Samara, tiba-tiba saja Samara sudah pergi menjauh dari tempat sebelumnya.


Kekhwatiran Rayanza semakin jelas terlihat. Di saat lokasi keberadaan Samara, yang sudah pergi menjauh dari pusat kota Surabaya, dan ia takut terjadi sesuatu pada Samara yang pergi sejauh ini.


"Kamu pergi sama siapa sih, Ra? Sampai panggilan telepon dariku tidak kamu angkat? Dan sekarang ini! Kamu mau pergi ke mana dan dengan siapa? Kenapa kamu bisa pergi sejauh ini?" Rayanza bermonolog pada dirinya sendiri, yang bertanya-tanya tentang kepergian Samara yang jauh dari pusat kota Surabaya.


Rayanza yang penasaran dengan tujuan Samara, ia terus mengikuti jejak Samara dengan menggunakan alat pelacak yang ia taruh di handphonenya Samara.


Sampai pada akhirnya, Rayanza berhenti di sebuah rumah yang jauh dari pusat kota Surabaya dan rumah itu jauh dari tetangga.


"Ini rumah siapa?" tanya Rayanza dalam hatinya. Saat ia sudah sampai di sebuah rumah, yang tidak ia ketahui.


Rayanza yang akan turun dari mobilnya, ia melihat ada orang-orang yang baru berhenti di depan rumah itu, yang akan keluar dari dalam mobil.


"Kenapa dia bisa berada di rumah itu? Apa jangan-jangan! Dialah yang mengajak Samara pergi ke rumah itu?" batin Rayanza yang kaget, melihat orang yang keluar dari dalam mobil.


Rayanza segera turun dari mobilnya, untuk pergi ke rumah itu. Saat orang-orang itu sudah masuk ke dalam rumah, tanpa menutup pintu rumah. Sehingga membuat Rayanza bisa mendengarkan pembicaraan, orang-orang yang berada di dalam rumah.


______


"Aku tidak mau menikah dengan dia," teriak Samara yang terus menolak menikah dengan Arsyaka.

__ADS_1


"Aku tidak mau mendengar kata penolakan. Cepat nikahkan mereka berdua," perintahnya pada pak penghulu. Untuk menikahkan Samara dan Arsyaka hari ini.


"Ba... baiklah," sahut pak penghulu yang di paksa menikahkan Samara dengan Arsyaka.


"Lepaskan aku!" pinta Samara yang berusaha memberontak pada Retno, yang masih memegang tangannya. Karena ia tidak mau menikah dengan Arsyaka.


"Kamu nurut saja, anak-anakmu pasti akan senang melihat kedua orang tuanya hidup bersama seperti dulu lagi," bisik Retno di telinga Samara.


Samara yang tidak mau menikah dengan Arsyaka, ia menginjakkan kakinya ke kaki Retno.


"Aaawww," jerit Retno kesakitan. Karena kakinya di injak oleh Samara.


"Kamu tidak akan bisa pergi dari rumah ini, tangkap wanita itu!" perintah lelaki itu pada anak buahnya.


Samara yang bisa melakukan bela diri, ia berusaha menghindar dari kejaran orang-orang yang mau menangkapnya. Samara juga melawan orang-orang itu dengan kemampuan bela dirinya, dan ia juga bisa menangkis serangan dari orang-orang itu.


Orang-orang itu membuat rencana, agar Samara terkecoh dengan serangan yang di lakukan oleh mereka semua.


Di saat Samara lengah, orang-orang itu berhasil menangkap Samara yang terkecoh dengan serangan yang mereka semua rencanakan. Kini Samara tidak bisa memberontak lagi, karena orang-orang itu berhasil menangkap Samara dengan mudah.


"Ha-ha-ha Kerja bagus," pujinya pada anak buahnya, yang berhasil menangkap Samara.


"Pak penghulu, aku mohon. Jangan mau menikahkan aku dengan dia," ucap Samara yang memohon pada pak penghulu. Untuk tidak menikahkan dirinya dengan Arsyaka, saat Samara sudah duduk di dekat Arsyaka.


"Sudahlah, Ra. Terima saja takdirmu yang akan selalu menjadi istriku," timpal Arsyaka sambil tersenyum senang.


"Aku tidak mau menikah denganmu lagi, Mas." Samara tetap pada pendiriannya, yang tidak mau menikah dengan Arsyaka.


"Kamu cukup diam dan menurut. Kalau kamu tidak menuruti perintahku, ketiga anakmu yang ada di dalam kamar tidak akan bisa bertemu denganmu lagi," ancamnya pada Samara.


"Ya Allah, berikanlah aku pertolongan. Agar aku dan anak-anakku terbebas dari mereka semua," batin Samara yang berdoa di dalam hatinya.


Kini Samara hanya bisa pasrah dan menuruti semua perintahnya. Karena ia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada ketiga anaknya, yang berada di dalam kamar.


"Cepat mulai ijab kabulnya," perintahnya pada pak penghulu.


"Iya," sahut pak penghulu sambil mengarahkan tangannya ke arah Arsyaka.


Arsyaka pun menerima uluran tangan pak penghulu, yang akan menikahkan ia dengan Samara yang sudah duduk di dekatnya.


"Kalian semua rekam video pernikahan mereka berdua," perintah lelaki itu pada anak buahnya.


"Siap bos," sahutnya.


Saat Arsyaka akan melakukan ijab kabul. Rayanza yang berada di luar rumah, segera masuk ke dalam rumah. Untuk menghentikan pernikahan Samara dan Arsyaka.

__ADS_1


"Berhenti..."


Semua orang yang berada di dalam melihat ke arah Rayanza, yang menghentikan pernikahan Samara dan Arsyaka.


__ADS_2